NEWS RELEASE:

Tahun 2011 Tutupan Hutan Das Batang Hari Tinggal 10 Persen

Akibatkan Kemerosotan Seluruh Aspek Tata Air Secara Drastis
Tahun 2011 Tutupan Hutan DAS Batang Hari
Tinggal 10 persen
Akibatkan kemerosotan seluruh aspek tata air secara drastis


Jambi, 28 September 2005
Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari dengan luas 5 juta hektar lebih, kini telah dikategorikan sebagai DAS kritis di Indonesia. Fungsi-fungsi hidrologi DAS Batang Hari terus mengalami kemerosotan yang menyebabkan terjadinya berbagai bencana. Banyak faktor yang menyebabkan penurunan fungsi hidrologi DAS terbesar kedua di Sumatera ini. Dari review dan analisis yang dilakukan Team Kelompok Kerja (Pokja) Monitoring dan Evaluasi DAS Batang Hari selama satu tahun terakhir, disimpulkan penyebab penurunan fungsi hidrologi DAS Batang Hari adalah dampak iklim ektrim, dampak deforestasi dan dampak kebun sawit.


Menurut Sekretaris Pokja DAS Batang Hari Aswandi dampak iklim ektrim yang dimaksud adalah perubahan inkil secara ekstrim yang terjadi di wilayah tropis. Misalnya curah hujan di Kerinci pada tahun 1992 pernah tercacat 250 mm per hari. Hal ini terulang pada tahun 2002. Padahal dalam kondisi biasa, curah hujan 250 mm ini terdistribusi dalam satu bulan. ?Jika curah hujan yang sewajarnya tertampung dalam satu bulan, tapi karena perubahan iklim yang ekstrim menyebabkan curah hujan tersebut turun dalam satu hari. Dengan kondisi ini apapun tutupan lahan tidak akan mampu membendung luapan air permukaan, dan kemampuan tanah untuk menyerap air hujan juga telah sampai keambang batas maksimum,?kata Aswandi.


Lebih lanjut dijelaskan bahwa kondisi ini akan menyebabkan terjadinya aliran permukaan yang sangat tinggi, dan mengangkut material yang berada dipermukaan tanah ke sungai. Pada gilirannya sungai tidak mampu lagi menampung jumlah luapan air, sehingga terjadilah banjir.


Sedangkan penyebab lain berkurangnya fungsi hidrologi DAS Batang Hari adalah laju deforestasi. Dari analisa citra Landsat tahun 2003 terlihat tutupan hutan di wilayah DAS Batang Hari terus menipis. Laju deforesatsi DAS Batang Hari telah terjadi sejak tahun 1932. Pada tahun ini luas tutupan hutan DAS Batang Hari masih 4 juta hektar, pada tahun 2000 jumlah hutan yang ada tinggal 1,4 juta hektar. Rata-rata deforestasi tahunan adalah 126,987 hektar. ?Dengan ini bisa diperkirakan jumlah tutupan hutan DAS Batang Hari pada tahun 2011 hanya tinggal 46.969 hektar atau kurang dari 10 persen dari luas DAS,?sebut Aswandi.


Disebutkan, hal ini akan menyebakan meningkatnya laju erosi 5,5 kali lipat. Dengan jumlah material angkutan mencapai 5,8 juta ton yang akan sampai di pelabuhan Samudra Muara Sabak. Hilangnya hutan di DAS Batang Hari disebabkan karena konversi lahan menjadi kebun kepala sawit, terutama pada areal-areal eks HPH yang menyebar hampir kesemua zona konservasi, mulai dari hulu hingga ke kawasan hilir. Hal ini akan menyebabkan hilangnya fungsi hidrologi DAS Batang Hari, sehingga banjir akan lebih sering terjadi apalagi didukung dengan luas tangkapan air DAS Batang Hari yang sangat luas dan berada pada jalur jajaran Bukit Barisan dengan curah hujan tinggi.

Pengembangan kebun kepala sawit yang tengah gencar dilakukan pemerintah dengan melibatkan banyak investor, juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan fungsi hidrologi DAS Batang Hari. Konversi lahan menjadi kebun sawit akan menyebabkan meningkatkan aliran permukaan hingga 300 mm dan pengisian air tanah akan menurun drastis. ?Akibatnya sungai Batang hari tidak akan mampu menampung luapan air hujan,?katanya.


Selain itu, pembukaan lahan sawit di daerah gambut yang menerapkan adanya sistem drainase akan menyebabkan penurunan muka air tanah, sehingga terjadinya penurunan (sudsidence) muka tanah. ?Dengan menggunakan data radar, bisa diperdiksi bahwa konversi lahan di daerah Petaling untuk perkebunan sawit akan menyebabkan penurunan atau amblasnya lapisan tanah setinggi 3-4 meter pada tahun 2004, akibatnya akan terjadi pembalikan arus sungai d daerah Sungai Air Hitam Laut ke arah Kumpeh, dan Air Hitam Laut akan diinterusi air laut. Bisa dibayangkan bagaimana dengan ekosistem yang berada di wilayah ini,?katanya.


Selain itu, kondisi ini juga akan menyebabkan terjadinya kebakaran gambut di musim kemarau, karena tidak ada lagi kemampuan tanah menyimpan air.


Menurut Aswandi, dengan kondisi-kondisi tersebut, maka sudah sewajarnya jika difikirkan secara bersama penanganan yang lebih konfrehensif terhadap DAS Batang Hari. ?Diperlukan penataan ruang yang memenuhi kaidah-kaidah konservasi air. Selain itu, juga harus dihindari terjadinya konversi lahan di kawasan resapan air,?katanya.
***





Berita terkait:
Comments: