NEWS RELEASE:

Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas (rptnbd)

Sistem Zonasi Hormati Hak Adat Orang Rimba
Sistem zonasi pada Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas (RPTNBD) dipastikan akan menghormati Hak Adat Orang Rimba yang tinggal di dalamnya. Demikian ditandaskan oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Jambi, Ir. Maraden Purba, MM, Senin (29/8), di Jambi.

Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Robert Aritonang, juga berharap sistem ini juga tidak meninggalkan nilai kelestarian namun juga bermanfaat untuk kesejahteraan tidak hanya untuk Orang Rimba tetapi juga masyarakat desa yang tinggal di sekitar luar kawasan taman seluas kurang lebih 60.500 Ha. Selain itu sistem ini diharapkan bisa meminimalisir praktek illegal logging dan perambahan yang selama ini menjadi ancaman utama kawasan TNBD.

Sementara itu dalam pertemuan sosialisasi RPTN pada 22-24 Agustus kemarin di Desa Pematangkabau, Kabupaten Sarolangun, para temenggung, dan wakil Orang Rimba TNBD, akhirnya juga bisa memahami arti penting RPTNBD BKSDA Jambi yang ternyata juga untuk melindungi hidup dan kehidupan mereka. Mereka bahkan berjanji akan menegakkan kembali nilai-nilai kearifan adatnya dalam melindungi kawasan hidup di TNBD. Termasuk tidak akan menjual lahan atau menjual hompongan (pembatas antara kawasan luar dan taman dalam bentuk kebun karet atau tanaman adaptif lainnya-red) kepada orang luar.

?Kelak jika RPTNBD ini diterapkan tidak lagi menimbulkan kesalahpahaman pada masyarakat yang berkepentingan termasuk Orang Rimba. Semua kegiatan hidup tradisional Orang Rimba di dalam sana bisa dilakukan. Yang terlarang adalah tidak melakukan illegal logging dan menjual lahan atau hompongan kepada orang luar. Jika ini dilakukan sanksinya sudah sangat jelas,? tandas Maraden.

Sedangkan sistem zonasi yang dimaksud Maraden terdiri dari zonasi inti yang mencakup areal perbukitan kawasan ex cagar biosfer (sebelum jadi TN) dan sebagian dataran di kaki perbukitan. Zona ini berfungsi sebagi ruang pelestarian sumberdaya alam hayati dan eksosistem kawasan juga merupakan areal yang dilindungi ketat. Zona kedua adalah zona rimba yang melingkari zona inti sampai ke sisi batas luar kawasan. Lainnya adalah zona pemanfaatan yang terdiri dari zona pemanfaatan tradisional untuk semua kegiatan yang terkait dengan pemberdayaan dan kehidupan tradisional Orang Rimba, zona pemnafaatan terbatas yang diperuntukkan pemulihan habitat. Termasuk zona pemanfaatan pariwisata serta zona rehabilitasi sebagai pusat penyelamatan satwa dan pengakaran.

Dijelaskan Maraden, dalam SK Menhut, No.258/KPTS-II/2000 tentang pengukuhan Cagar Biosfer Bukit Duabelas menjadi Taman Nasional memang menjadikan area itu sebagai taman nasional satu-satunya di Indonesia yang dari awal pembentukkannya telah mengakui dan mempertimbangkan keberadaan masyarakat asli yang masih hidup nomaden.

Dalam data KKI Warsi 2004, saat ini ada 1.300 jiwa Orang Rimba yang tinggal di dalam kawasan TNBD dan masih menjalankan kehidupan tradisionalnya seperti berburu, memanfaatkan tanaman obat-obatan yang tersedia di sana, termasuk mempunyai adat untuk tidak menebang pohon-pohon yang menjadi penunjang hidup dan kehidupan mereka selama ini. Dari hasil penelitian Eskpedisi Biota Medika yang pernah dilakukan LIPI bekerjasama dengan IPB, UI dan Depkes juga ditemukan adanya biomedika sebanyak 137 jenis, yang terdiri dari 101 jenis tumbuhan obat, 27 jenis cendawan obat dan 9 jenis hewan obat yang dimanfaatkan oleh Orang Rimba. (fay)
***





Berita terkait:
Comments: