NEWS RELEASE:

Anak Talang Mamak Rame-rame Belajar Bahasa Inggris

Mengagumkan. Ternyata minat belajar bahasa Inggris tidak hanya miliki oleh para siswa yang duduk di sekolah formal saja. Namun juga digemari siswa informal.


Memang, bahasa Inggris bukanlah suatu bahasa yang sangat asing di telinga kita. Berbagai sekolah dan kursus pun telah mengajarkan keterampilan ini. Tapi, bagaimana kalau yang ingin belajar bahasa Inggris adalah anak-anak dari Pemukiman Masyarakat Tradisional Talang Mamak di Dusun Tuo Datai Desa Rantau Langsat Kecamatan Batang Gansal Kabupaten Indragiri Hulu di Wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh?


Pak Saefudin alias Pak Tatung baru selesai mengajar. Bangunan kayu bertuliskan ?Sanggar Belajar Datai? ia tinggalkan. Meski sekolah tersebut hanya beratap anyaman daun, beralas tanah, berdinding terbuka dan berisikan lima bangku-meja belajar. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi semangatnya.


?Sudah Dua tahun saya mengajar di sini,? ucapnya saat menerima kunjungan silaturrahmi Tim KKI Warsi/Konsorsium B30. Dan yang paling menggembirakan sekarang adalah, ?anak-anak pada pingin belajar bahasa Inggris. Saya juga tidak tahu mengapa. Mungkin karena mereka pernah melihat saya bicara dengan bule pake bahasa yang tidak mereka pahami. ?Eh, akhirnya mereka minta diajari,? lanjutnya sambil menarik dalam rokok tembakau.


Ya udah, saya ajari aja. Meski saya juga belum fasih betul. Yang penting yes no dulu lah. Awalnya sih susah. Karena, biasanya yang digunakan bahasa Indonesia-Melayu dan Bahasa campuran di sini. Sekarang, setelah tiga bulan berjalan, mereka telah mengerti. Bahkan, hingga angka seratus dan nama-nama benda. ?Tekad mereka itu, yang membuat saya optimis, ?imbuhnya.


Pak Tatung (42), asli Rantau Langsat, merupakan satu-satunya Guru Pendamping yang difasilitasi PKHS (Program Konservasi Harimau Sumatera). Menurut Bapak tiga anak ini, awalnya ia takut dan bingung. Untuk menuju Dusun Tuo Datai dari Lemang saja, tempat tinggalnya, bukanlah pekerjaan mudah. ?Bagaimana tidak, untuk ke mari saja saya harus mengayuh sampan selama empat hari. Tidur di hutan dan membawa perbekalan sendiri. Juga, harus merintis pendidikan dari awal. Belum lagi, harus meninggalkan anak istri tiga minggu setiap bulan, ?tuturnya.


Perekrutan pak Tatung menjadi guru pendamping tidaklah sembarangan. ?Pak Tatung telah direkomendasikan pihak Kecamatan Batang Gansal karena memiliki berbagai keterampilan. Selain itu, dia juga memiliki motivasi yang tinggi dan mengetahui banyak budaya Talang Mamak ? jelas Koordinator Lapangan PKHS, Muhammad Yunus.


Seiring bergulirnya waktu, program pendampingan pun telah berjalan dua tahun. Semuanya telah berubah. Kini, telah tersedia hingga kelas empat, dengan total murid sekitar 76 siswa. Mereka berasal dari Dusun Tebrau, Datai dan Melenai. Meskipun, yang aktif hanya sekitar 25-30 siswa saja, berumur 7-14 tahun. ?Biasalah, sekarangkan lagi musim berkebun. Jadi kebanyakan anak-anak sibuk membantu orang tuanya membuka ladang? tegas pak Tatung mengenai keberadaan muridnya.


Memang, ukuran prestasi yang dicapai belum maksimal. Namun dari segi perjuangan, pendidikan lapangan ini patut diacungkan jempol. ?Pak Guru kami baik, senang belajar dengannya? ungkap Jonjong (14) malu-malu, salah seorang murid Sanggar Belajar Datai.

Yang menarik, meski sifat sekolah ini informal tapi, kegiatan belajarnya dijalankan secara rutin. Untuk Senin dan Selasa diajarkan berhitung sedangkan Rabu hingga Sabtu untuk menulis dan bahasa Inggris dari jam delapan hingga sepuluh pagi.


Menurut Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tiga puluh Ir. Moh. Haryono, M.Si ada tujuan jangka panjang dari sekolah lapangan yang difasilitasi oleh PKHS itu. Yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, skill dan keberanian anak-anak suku talang mamak. Sehingga, tumbuh kepercayaan pada diri mereka untuk bersaing hidup di luar. Dengan begitu, mereka akan menjadi generasi yang berani, berpengetahuan dan siap bersaing. Alasan lainnya, pendidikan juga merupakan hak setiap warga negara.


Haryono menambahkan, program pendidikan lapangan ini sendiri masih tahap uji coba, sifatnya. Sehingga keberadaannya juga harus sejalan dengan pengelolaan Taman Nasional. Dan juga, bila program ini telah mapan maka akan diusulkan kepada pemda setempat. Selain pendidikan, secara intensif juga pihak balai TNBT bekerja sama dengan NGO, dinas Kesehatan dan pihak kecamatan melakukan pengobatan massal untuk masyarakat Talang Mamak.

Diakhir pembicaraan, ada hal yang menyenangkan pak Tatung dalam menjalankan profesi sebagai guru pendamping. ?Saya senang menjalani profesi ini karena bisa nyalurin hobi terutama mengajar baca tulis untuk anak-anak talang mamak.? Namun ketika disinggung soal masa depanya, ia masih bingung. ?Yah, seandainya program ini berakhir, saya juga belum tau mau ngapain lagi. Yang penting sekarang dinikmati aja dulu. Hasil dari nyadap karet dan mancing juga bisa dijadikan penghasilan sampingan.? **********

(Rahmadi. Asisten Komunikasi KKI WARSI/Konsorsium Bukit 30)
***





Berita terkait:
Comments: