NEWS RELEASE:

Pemaluy Tuha Akhirnya Meninggal Dunia

Pemaluy Tuha (11 bulan), anak perempuan dari Orang Rimba, Pemecat dan Beseling, yang menderita neurofibroma (tumor persyarafan) dan sempat di operasi kemudian membaik di RSD Kol. Abundjani Bangko, Kamis (14/4), akhirnya meninggal dunia di rumah singgah Orang Rimba di Bangko, Rabu (20/4), pada pukul 05.00 WIB.

?Terus terang, kami sangat kaget sekali setelah Pengendum (kerabat Pemaluy), memberitahu bahwa Pemaluy telah menjadi mayat. Padahal beberapa hari kami sudah melihat Pemaluy menunjukkan kondisi yang semakin baik dan stabil. Bahkan dia juga sudah mulai bisa tersenyum, tertawa dan diajak bercanda. Kami sangat menyesali kejadian ini,? jelas paramedis RSD Kol. Abundjani Bangko, Darun, kepada KKI Warsi, Senin (25/4), di Jambi.

Darun kemudian menceritakan bahwa operasi eksisi miocephalus yang dilakukan dr H Armayani Rusli Sp.B pada Kamis (14/4) berlangsung sangat baik. Apalagi setelah sehari operasi kondisi Pemaluy Tuha berangsur pulih. Bahkan anak dari keluarga Kelompok Pengusai, Makekal Hulu Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), mulai bisa bereaksi secara positif seperti tersenyum, menggerakkan tangan dan bergerak ke sana kemari seperti layaknya anak kecil, yang susah dilakukannya sebelum masa operasi (saat sakit).

?Hanya pada Senin (18/4), orang tua Pemaluy memaksa pihak RS untuk bisa membawa Pemaluy pulang sesegera mungkin ke rimba. Kami sudah bilang agar menunggu hingga tiga hari dulu sampai bisa dipastikan anak itu benar-benar pulih. Kami tidak memungut biaya apa pun atas operasi dan pengobatan Pemaluy, karena ada subsidi dan juga dibantu KKI Warsi. Tapi kami juga tidak bisa memaksakan, karena itu anak mereka,? jelas Darun.

Namun pada Kamis (20/4), Pengendum datang kepadanya, dan memberitahu bahwa Pemaluy meninggal dunia. Pihaknya segera datang ke rumah singgah Orang Rimba di Bangko tersebut. Kondisi Pemaluy tidur miring dengan dagu bertelekuk. Darun menduga Pemaluy kekurangan oksigen saat tidur, karena saluran pernafasannya tersendat dengan posisi tidur seperti itu.

?Kami kemudian membungkusnya dengan kain bersih dan mengantarkan mereka hingga ke perbatasan SPG Tanah Garo, karena mobil ambulan tidak masuk lagi lebih dalam ke sana,? jelasnya lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemaluy memang berhasil dioperasi dengan baik oleh Tim Dokter yang dipimpin langsung dr. H. Armayani Rusli Sp.B. Bahkan beberapa jam usai operasi, menurut Fasilitator Kesehatan Warsi, Sutardi Dihardjo yang selama ini mendampingi dan mengusahakan pengobatan bagi Pemaluy, sudah bisa menyusu kepada ibunya.

Sebelumnya upaya untuk pengobatan dan operasi untuk Pemaluy dilakukan terus dilakukan oleh KKI Warsi. Sutardi sempat membawa foto-foto benjolan besar yang ada di ubun-ubun kepala Pemaluy yang difotonya dari dalam hutan kepada dokter yang ada RS Mataher Jambi. Waktu itu dokter anak di sana menganalisa Pemaluy menderita meningokel (defek "neural tube" kongenital ditandai dengan kegagalan arkus vertebrae untuk menutup). Mereka menyebutkan bahwa untuk mengoperasinya dibutuhkan biaya sebesar Rp 40 juta.

?Warsi sendiri berusaha menghimpun biaya agar Pemaluy segera mendapatkan tindakan medis. Kami sampai mengirim surat kepada Gubernur Zulkifli Nurdin pada waktu dia masih jadi Gubernur. Tapi hingga kini belum mendapatkan tanggapannya sama sekali. Bahkan kami juga mengirim data-data tentang penyakit yang di derita Pemaluy ke TV-TV swasta yang biasa menggelar acara pengobatan gratis, itu pun tidak mendapatkan tanggapan yang baik,? jelas Sutardi.

Sutardi mengerti apa yang terjadi pada Pemaluy mungkin kurang begitu menarik perhatian banyak orang di tengah bencana besar yang tengah dialami bangsa ini. Termasuk persiapan para calon pilkada yang akan berebut menjadi Orang Nomor Satu di Provinsi Jambi ini.

? Terus terang kami sendiri merasa berduka atas meninggalkan Pemaluy setelah segala usaha dilakukan. Kami juga berterimakasih kepada Dinas Kesehatan Merangin, Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Merangin, seluruh staff dan karyawan RSD Kol. Abundjani Bangko, dan LSM Sokola yang menyediakan sekretariatnya sebagai rumah singgah, serta semua pihak yang telah membantu keluarga Beseling dan Pemecat dalam usaha mendapatkan kesembuhan putri tunggalnya. Meski akhirnya anak itu meninggal dunia. Tuhan juga akhirnya yang menentukan,? ujar Sutardi.(fay)
***





Berita terkait:
Comments: