NEWS RELEASE:

Potensi Cadangan Karbon Hutan Adat Guguk Milyaran Rupiah

Sejak didengungkan pada UNFCC di Bali akhir 2007 lalu, skema perdagangan karbon mulai dibangun. Indonesia selaku penggagas perdagangan karbon melalui skema REDD masih belum menentukan mekanisme dan metodologi yang tepat untuk pengukuran potensi karbon. Untuk itulah perlu dikembangkan metodologi sederhana dengan hasil perhitungan akurat serta mampu dilakukan masyarakat.

Seperti metodologi yang dilakukan KKI Warsi dengan dukungan ICRAF untuk mengukur potensi cadangan karbon di Hutan Adat Desa Guguk Kecamatan Sungai Manau Kabupaten Merangin, dengan metodologi RaCSA (Rapid Carbon Stock Assessment) atau Kaji Cepat Cadangan Karbon. Dari studi yang dilakukan diketahui cadangan karbon Hutan Adat Guguk sebesar 261,25 ton /ha. Jika karbon ini dijual dengan asumsi per Ton karbon adalah 10 USD dengan luas hutan adat guguk 690 ha, maka pertahun bisa menghasilkan 1,8 juta USD, jika dirupiahkan dengan kurs Rp 11,000, maka Hutan Adat Guguk akan menghasilkan Rp 19,8 milyar.

Metodologi penghitungan karbon ini menjadi sangat penting untuk menentukan nilai yang akan diterima masyarakat, sebab metodologi ini akan menjadi pembanding metodologi yang dikembangkan broker karbon, yang menggunakan metodologi sulit, tidak akomodatif terhadap kondisi lokal, serta hanya orang tertentu saja yang bisa memanfaatkan. ?Hal ini penting diketahui, karena broker juga punya banyak kepentingan dalam transaksi karbon yang akan mereka lakukan,?kata Rakhmat Hidayat Direktur Eksekutif KKI Warsi.

Dengan mengetahui perhitungan karbon bisa ditentukan nilai financial yang akan diterima masyarakat. Dilihat dari manfaat ini, hutan tidak lagi dipandang sebagai sumber kayu semata, yang akibat pemanfaatannya juga menimbulkan kerusakan hutan. ?Penghitungan nilai karbon ini, merupakan upaya awal untuk meyakinkan para pihak, bahwa dengan memelihara hutan dan tidak mengubahnya menjadi perkebunan skala besar, pertambangan, HTI dan lainnya, hutan juga bisa memberikan manfaat ekonomi yang nilainya jauh lebih besar serta tidak menimbulkan kerusakan lingkungan, multimanfaat bisa didapatkan masyarakat,?kata Rakhmat.

Hutan Adat Guguk yang dikukuhkan dengan SK Bupati Merangin No 287 Tahun 2003, selama ini dijaga masyarakat karena merupakan sumber mata air. Secara ekologi hutan ini penting untuk pencegah longsor dan banjir, serta kaya keanekaragaman hayati. Dari penelitian Warsi dihutan ini ditemukan ditemukan 89 jenis burung, 37 jenis diantaranya dilindungi seperti Rangkong Gading (Baceros vigil), Kuau Raja (Argusianus argus). Juga ditemukan 22 jenis mamalia beberapa diantaranya dilindungi seperti Tapir (Tapirus indicus) dan Beruang (Helarctos malayanus). Di Hutan ini juga ditemukan 84 jenis kayu seperti Meranti, Balam dan Marsawa mempunyai diameter lebih dari 55 cm.

Dengan akan dimulainya perdagangan karbon ini, pemerintah daerah juga harus menyiapkan aturan untuk melindungi kawasan hutan tersisa yang potensial untuk perdagangan karbon. ?Selain itu Pemda juga harus menyiapkan dukungan terhadap pengakuan hak-hak adat dalam skema perdagangan karbon, serta memperkuat kelembagaan rakyat yang akan menjadi lembaga perwalian perdagangan karbon nantinya,?kata Rahmat.

Hasil studi metodologi penghitungan karbon yang dilakukan KKI Warsi ini, akan dilokakaryakan pada 28 Januari nanti bertempat di balai adat Desa Guguk. Lokakarya ini akan dihadiri pemerintah daerah, kelompok pengelola hutan adat, NGO dan masyarakat. ***
***





Berita terkait:
Comments: