NEWS RELEASE:

Pancakarya Haramkan Dompeng dan Chainsaw


Pancakarya haramkan dompeng dan cainsaw



Jambi, 26 Januari 2005


Di tengah maraknya penambangan emas tanpa izin (PETI) yang dilakukan oleh masyarakat di sejumlah sungai yang ada di Provinsi Jambi, Desa Pancakarya Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun, termasuk desa yang mengharamkan kegiatan ini. Masyarakat Pancakarya menyadari betul pencemaran yang ditimbulkan akibat penambangan emas yang dilakukan tersebut. Tokoh-tokoh masyarakat berupaya mencegah penambangan emas dengan menggunakan dompeng dilakukan disepanjang aliran sungai Batang Limun yang menjadi sumber kehidupan masyarakat desa ini. Padahal di desa tetangga Pancakarya yaitu Desa Ranggo dan Temenggung dan sejumlah desa lainnya telah melakukan aksifitas penambangan emas liar tersebut.

?Kami menyadari pencemaran yang akan terjadi jika di desa kami dilakukan penambangan emas,?kata Abdullah Sani ketua BPD Desa Pancakarya. Menurutnya pernah juga warha desa, mencoba untuk melakukan usaha tersebut, akan tetapi begitu diketahui, ada yang memiliki mesin dompeng segera diberi peringatan supaya tidak melakukan usaha tersebut.

?Sebagian besar masyarakat kami masih sangat tergantung kepada sungai, mulai dari air bersih, mencuci mandi dan kegiatan lainnya. Jika sungai kami dicemari dengan limbah mercuri yang menjadi pembersih emas bisa-bisa masyarakat kami terjangkit berbagai penyakit,?sebutnya.

Selain itu menurutnya jika sungai dicemari maka yang paling menderita adalah kaum perempuan, dan anak-anak. Seperti diketahui, jika ada kegiatan penambangan emas, maka air sungai akan menjadi berwarna coklat dan sangat tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan rumah tangga akan air, belum lagi pencemaran oleh mercuri yang bisa menimbulkan berbagai penyakit.

Tak hanya pencemaran terhadap sungainya yang dihindari oleh masyarakat, akan tetapi sumber air terhadap sungai Batang Limun yang melintasi desa tersebut juga menjadi perhatian serius masyarakat desa. Untuk itulah makanya masyarakat desa Pancakarya telah mencagarkan sekitar 400 hektar hutan mereka yang masih tersisa menjadi hutan adat atau yang disebut Imbo Larangan Titian Toreh. ?Selama ini kami berusaha untuk melindungi imbo larangan ini, supaya tidak di curi orang, pokoknya dompeng dan cainsaw sangat kami takuti.?sebut Akmal, Tengganai Desa Pancakarya.

Untuk menjaga hutan dari kegiatan-kegiatan illegal logging, masyarakat desa secara swadaya menjaga hutan tersebut, akan tetapi beberapa pencurian masih kerap terjadi. ?Bahkan kami pernah melaporkan kepada aparat tentang pencurian kayu tersebut, tapi kayu lepas, pelakunya juga lepas, untuk itu itu kami membutuhkan payung hukum yang jelas, supaya kami punya kekuatan untuk mencegah pelaku penebangan hutan di desa kami,?sebut Akmal.

Menanggapi keinginan masyarakat desa Pancakarya ini, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi melalui Program CBFM (Community Base Forest Management/ pengelolaan hutan berbasisikan masyarakat) bersama dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Sarolangun telah berkomitmen bersama untuk memfasilitasi proses pengukuhan Imbo Larangan oleh Pemda Sarolangun melalui kebijakan daerah. Guna melindungi imbo larangan yang telah ada dari ancaman illegal logging dan pembabatan hutan untuk perkebunan. Hal ini disampaikan oleh koordinator program CBFM KKI Warsi Rachmad Hidayat. Sebelumnya KKI Warsi juga telah melakukan hal serupa disejumlah Desa, seperti Desa Guguk Kecamatan Sungai Manau Kebupaten Merangin, Desa Batu Kerbau Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo, serta desa lainnya di Sumatera Barat dan Bengkulu. (reni)***

***





Berita terkait:
Comments: