NEWS RELEASE:

SAD Dan Suku Mentawai,

Kami Tidak Malu Jadi Suku Asli
Suku Anak Dalam (SAD) atau suku asli Jambi yang biasa disebut dengan Orang Rimba dan suku asli Pulau Mentawai, Suku Mentawai, menyatakan sikap bahwa mereka selalu bangga dengan identitas yang melekat pada diri mereka selama ini. Termasuk dengan nilai-nilai kearifat adat dan budaya yang mereka miliki selama ini.

Hal ini terungkap dalam pertemuan antara SAD yang diwakili oleh Temenggung Tarib, Temenggung Marituha, Metik Pengusai dan wakil pemuda Orang Rimba, Ijam dengan para tokoh adapt dan masyarakat Mentawai yang ada di daerah Bekkeiluk dan Kampung Selapa, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pada 29 November ? 4 Desember 2004. Pertemuan dua suku itu difasilitasi oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Jambi dan Yayasan Citra Mandiri, Padang.

?Kita sesungguhnya bersaudara. Kita punya persamaan, diantara kita masih ada yang memakai kabik (semacam cawat). Kita juga mempunyai nilai-nilai kearifan adat yang sama yaitu untuk menghormati alam dan bukan merusaknya,? ungkap Kepala Adat Bekkeiluk, Teu Saibit, kepada para tokoh Orang Rimba dan tamunya yang lain, yang diterjemahkan oleh tokoh masyarakat Mentawai, Selester Saguruwjuw.

Dari pertemuan juga terungkap bahwa saat ini kalangan muda Orang Rimba mulai mengalami krisis percaya diri menjadi Orang Rimba terutama jika dikaitkan untuk memakai cawat. Apalagi kini perubahan dunia modern terus mendekati rimba tempat mereka tinggal. Hal yang sama diakui oleh Saibit dan Selester. Namun menurut mereka itu sesuatu yang wajar karena mereka tidak akan bisa mengubah perubahan yang ada.

?Terpenting adalah menjaga nilai-nilai kearifan budaya kita. Terutama nilai kearifan dalam menjaga keseimbangan alam tempat kita tinggal,? tandas Selester yang diamini oleh para tokoh Rimba tersebut.

Pada adat Mentawai dan Orang Rimba, misalnya, ada dikenal dengan tradisi berburu yang hanya menggunakan alat sederhana, sehingga buruan yang diperoleh hanya untuk keperluan keseharian saja. Harus mengganti pohon yang di tebang sehingga ada generasi pohon.

?Di tempat kami ada semacam sanksi denda bagi siapa saja yang menebang pohon di sekitar kediaman kami di rimba. Sayang, ada diantara kami yang juga sudah mulai tidak menghormati adat dan budaya rimba yang baik itu. Mereka malah ikut jadi pebalok hanya karena diiming-imingi sesuatu seperti uang,? tandas Temenggung Tarib.

Menanggapi hal itu, para tokoh adat Mentawai menyarankan agar para tokoh Orang Rimba mulai menguatkan dirinya satu dengan lainnya. Saling bersatu untuk melindungi alam yang selama ini menjadi tumpuan hidup dan kehidupan mereka. Karena selama ini, persatuan itulah yang ditunjukkan Suku Mentawai. Namun Selester juga menambahkan bahwa pemerintah setempat juga harusnya mendukung upaya perlindungan alam bagi kehidupan suku asli seperti mereka. Karena mereka selama ini memang tidak bisa dipisahkan dengan alam sekitarnya.

?Tapi yang terjadi, pemerintah setempat sekarang ini malah suka memberi izin ke perusahaan untuk mengobrak-abrik tanah dan hutan yang selama ini kami jaga dengan baik,? tandasnya.

Selain saling berbagi pengalaman, Orang Rimba juga bisa melihat bagaimana orang-orang asli Mentawai ini mengolah sagu sejak dari pohonnya bahkan belajar mengolah nilam. Bahkan melihat bagaimana seorang Sikerey Mentawai mengobati orang yang sakit. (***)
***





Berita terkait:
Comments: