NEWS RELEASE:

SAD, Rajo Tolong Selamatkan Rimbo Kami!

Tidak ada acara protokoler, tidak ada tarub atau pun panggung ketika rombongan Camat Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Abid Amin, yang difasilitasi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, mengunjungi ?Warga Istimewanya,? yaitu Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba (demikian Orang Rimba lebih suka menyebut jatidirinya) di kedalaman selatan kawasan hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Sabtu (18/9).

Kesederhanaan itu bisa dilihat ketika mereka berkunjung ke tempat kelompok Orang Rimba yang tinggal dekat Sungai Pematang Senti, Desa Lubuk Jering, Kecamatan Air Hitam, yang dipimpin Temenggung Marituha. Mereka juga melanjutkan perjalanan berkunjung ke kelompok Orang Rimba yang berada dekat Sungai Pakuaji, Desa Pematang Kabau yang dipimpin oleh Temenggung Tarib.

Ketika mengunjungi kelompok Orang Rimba yang dipimpin Temenggung Marituha, misalnya, dari pinggir jalan Desa Lubuk Jering, rombongan harus masuk ke hutan menyusuri jalan setapak untuk sampai ke kelompok tersebut. Rombongan yang terdiri dari tokoh desa setempat, camat dan istrinya serta mahasiswa Universitas Batanghari Jambi beberapa lama sempat terperangah ketika melihat sekumpulan Orang Rimba yang hanya mengenakan cawat dan bertelanjang dada tengah bersantai dan berjongkok di atas rotan yang tampaknya baru mereka potong.

Tidak lama sejumlah laki-laki dewasa dan anak-anak Orang Rimba muncul dari balik kegelapan hutan dekat jalan setapak. Mereka semua mengenakan cawat dan bertelanjang dada, dengan rambut kusam. Mereka juga sama terperangahnya melihat rombongan dari desa tersebut. Ketika diberitahu oleh Fasilitator dan Antropolog Warsi, Marahalim, dan Fasilitator Desa, Eri Rinaldi, bahwa rombongan itu adalah Rajo (Penguasa) Camat Air Hitam, para rombongan Orang Rimba itu saling berbicara dengan antusias. Beberapa diantaranya masuk kembali kedalaman hutan, sementara sebagian yang lain termasuk anak-anak saling berteriak ? seperti memberitahu yang lainnya ? bahwa mereka kedatangan tamu dari luar.

?Ado Orang Meru, Orang Meru!? (Ada Orang Luar-demikian sebutan mereka terhadap Orang Non-Rimba yang tinggal di luar hutan). Tidak berapa lama muncullah Temenggung Marituha pemimpin kelompok itu. Dibelakangnya sejumlah laki-laki dewasa Orang Rimba mengikutinya. Hanya Marituha saja yang mengenakan baju seragam seperti hansip (pemberian orang dusun) yang memang sangat disukainya. Dia menyambut tamunya dengan ramah. Dia mempersilahkan tamunya untuk duduk di atas tumpukan rotan yang baru diambil oleh anggota kelompoknya dari dalam hutan.

?Sebagai koordinator wilayah Kecamatan Air Hitam, kami sama sekali belum mengerti dan mengetahui bagaimana kehidupan saudara kami, Orang Rimba yang hidup di kawasan hutan Taman Nasional di daerah ini. Mereka sangat sederhana sekali dan baru kali ini saya masuk dan melihat kehidupan mereka yang sebenarnya,? ujar Camat Air Hitam, Abid Amin, sambil memperhatikan fasilitator dari KKI Warsi yang menjelaskan tentang maksud dan kedatangan mereka dalam bahasa Rimba kepada kelompok yang dipimpin Temenggung Marituha.

Dengan diterjemahkan oleh Fasilitator KKI Warsi, Marahalim dan Eri, para rombongan bisa mengerti yang tengah diungkapkan oleh Marituha. Rombongan baru mengetahui bahwa kelompok Marituha sesungguhnya biasa tinggal dekat Sungai Trab. Hanya karena saat ini masih dalam suasana duka, yaitu salah satu anggota keluarga dari kelompok yang dipimpin Marituha ini meninggal, membuat mereka harus melangun jauh dari tempat asalnya. Melangun adalah salah satu budaya nomaden Orang Rimba, dimana mereka harus meninggalkan tempat tinggalnya untuk pindah jauh ke tempat lain setelah salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Marituha juga banyak menjelaskan tentang adat dan budaya Orang Rimba yang masih dia pegang dengan teguh bersama kelompoknya.

?Meski saya Orang Jambi, ternyata saya tidak tahu banyak tentang Orang Rimba. Saya baru tahu bahwa ternyata Orang Rimba sangat mengerti hidup seimbang dengan alamnya dibandingkan kita. Kami juga baru tahu bahwa mereka sangat tersinggung jika disebut Orang Kubu dan lebih senang disebut sebagai Orang Rimba. Kami baru melihat dari dekat kehidupan Orang Rimba yang sederhana seperti ini ,? ujar salah seorang mahasiswa Universitas Batanghari yang juga meminta izin apakah mereka dibolehkan untuk mengambil foto bersama dengan Orang Rimba.

Rombongan kemudian menuju ke kelompok Orang Rimba yang dipimpin oleh Temenggung Tarib. Mereka langsung di sambut Temenggung Tarib. Dia mepersilahkan tamunya untuk duduk di alas tikar hasil buatan kelompoknya, di tempat agak lapang dekat hutan.

Temenggung Tarib menjelaskan kepada tamunya terutama kepada Camat Abid Amin yang mereka sebut sebagai Rajo, bahwa hutan tempat mereka tinggal saat ini adalah bagian dari hidup dan kehidupan mereka. Namun mereka sangat khawatir karena kini kawasan hutan tempat mereka tinggal kini sering dicuri kayunya oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

?Kami sangat menghormati Rajo Kami, Pak Camat sebagai Rajo Gadong dan Pak Kades sebagai Rajo Kecik-nya untuk membantu kami,? jelas Temenggung Tarib yang pernah mendapatkan penghargaan Kehati Award tahun 2000, yang kelompoknya tinggal di sekitar Sungai Pakuaji, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam itu.

?Hutan bagi kami, Orang Rimbo, adalah segalonya, Pak. Kami ingin Rajo yang baik yang bisa membantu kami. Rajo, tolong selamatkan Rimbo kami! Hanya itu yang kami inginkan. Jika Rajo ingin menebangi rimbo ini, maka Rajo sama saja telah membunuh hidup dan kehidupan kami,? tandas Temenggung Tarib dengan suara tinggi.

Seperti halnya Temenggung Marituha, Temenggung Tarib juga menjelaskan bahwa dalam segala hal, termasuk acara adat perkawinan, praktis segala macam hayati yang ada dalam hutan, selalu mereka gunakan. Tentu saja hanya sebatas kebutuhan keseharian Orang Rimba yang sederhana. Misalnya saja dalam perkawinan mereka harus mengumpulkan sejumlah bunga sebagai persyaratan terlaksananya perkawinan. Tanda kelahiran anak-anak Rimba juga selalu dihubungkan dengan pohon-pohon yang ditanam oleh rerayo (orang tua) Orang Rimba.

Temenggung Tarib dan Marituha juga tidak memungkiri bahwa kini, ada beberapa Orang Rimba yang tidak lagi menghargai nilai-nilai kearifan adatnya terutama dalam menjaga dan melestarikan hutan tempat mereka tinggal. Ada sebagain dari mereka yang dimanfaatkan oleh orang luar untuk menjadi pebalok bahkan menjual lahan karet pembatas area yang ada dipinggiran hutan sebagai tanda batas tempat kediaman Orang Rimba dan Orang Luar (dusun).

?Saya mendukung Orang Rimba warga saya ini, bahwa hutan yang juga dekat dengan tempat tinggal kami juga harus dijaga oleh kita semua, tidak hanya oleh Orang Rimba,? tandas Camat Air Hitam, Abid Amin. (***)

Foto-foto: Musfarayani/Doc. WARSI
***





Berita terkait:
Comments: