NEWS RELEASE:

Aksi Simpatik Peduli Asap KKI Warsi

Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi melakukan aksi simpatik dengan membagikan sekitar 2.000 masker kepada masyarakat kota Jambi dan 1.000 masker lainnya di Muarabulian, Batanghari secara serentak, Sabtu (12/9).

Aksi ini, menurut Koordinator Lapangan, Invicta Sujarwati, bukan hanya sekadar untuk membagikan masker tetapi juga memberikan pendidikan kepada publik tentang betapa kritisnya kondisi hutan di Jambi, sehingga setiap tahun harus menghadapi kebakaran hutan. Ironisnya, menurut Invicta lagi, kebakaran itu bukan lagi disebabkan proses fenomena alam yang bernama kemarau melainkan juga karena beberapa perusahaan yang memanfaatkan moment tersebut untuk membakar lahannya.

?Karena itu kegiatan membagi masker ini sebenarnya untuk mengetuk dan membuka mata hati masyarakat Jambi tentang kondisi hutan di sini yang kerusakannya memang sudah parah. Seharusnya, ada tindakan yang tegas terhadap pelaku yang suka membakar lahan hutan di Jambi,? tegas Invicta yang kesehariannya adalah Staf Kampanye dan Informasi KKI Warsi.

Dari data yang dimiliki KKI Warsi, sebagai fenomena alam, kebakaran hutan di kawasan hutan dataran rendah sesungguhnya telah berulangkali terbakar paling tidak sejak 17.500 tahun lalu. Ini berdasarkan pendataan karbon radioaktif dari endapan kayu arang di Kalimantan Timur. Tapi dalam dua dekade belakang ini, kebakaran hutan telah berubah dari sesuatu yang menbjadi ciri alami Indonesia selama ribuan tahun menjadi becana. Peran manusia dalam memulai kebakaran semakin besar karena aktifitas perburuan, pengambilan hasil hutan, kayu dan pembukaan lahan pertanian/perkebunan. Pada kondisi inilah sesungguhnya yang sering terjadi menjadi penyebab bencana kebakaran di hutan dataran rendah seperti Jambi.

Hutan yang semakin renggang akibat pembalakan jelas mengalami degradasi dan ditumbuhi semak belukar sehingga jauh lebih rentan terhadap kebakaran ditambah lagi dengan fenomena iklim seperti Elnino. Kebakaran yang terbesar pada hutan-hutan di Jambi justru terjadi pada tahun 1994 yang mencapai luas hingga 110.917 ha. Berikut kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1997 yang meliputi luasan 19.306 ha yang terjadi di kawasan hutan, lahan perkebunan, lahan transmigrasi dan lahan masyarakat. Sedangkan sisanya merupakan pembakaran yang terkendali. Pada tahun 1998, kebakaran dan pembakaran meliputi luas kurang lebih 86,25 ha. Secara keseluruhan menurut data Dishut Provinsi Jambi (2002), kebakaran dan pembakaran hutan antara tahun 1997-2001 telah menyebabkan kerusakan hutan seluas 21.291 ha.

Pada waktu kebakaran hebat tahun 1997-1998 yang memberi dampak luas terhadap negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Kebakaran hutan di Jambi pada tahun 2003 bahkan dipastikan justru terjadi di areal HPH, HTI dan perkebunan. (***)
***





Berita terkait:
Comments: