NEWS RELEASE:

Talang Mamak Belajar Kearifan Kelola Hutan Dari Temenggung Tarib


Suku asli Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) Riau, Talang Mamak, Selasa (24/8), belajar dari Temenggung Tarib, dalam mempertahankan nilai-nilai kearifan adat Orang Rimba dalam menjaga kelestarian hutan sekitar yang mereka tinggal.

Temenggung Tarib adalah Pemimpin kelompok Orang Rimba di Sungai Pakuaji, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun yang pernah mendapatkan Kehati Award tahun 2000 karena kegiatannya bersama anggota kelompoknya dalam menyelamatkan hutan alam dan keanekaragaman hayati di selatan TNBD. Nilai-nilai kearifan yang dijalankan kelompoknya inilah yang kemudian ingin dicontoh oleh perwakilan Suku Talang Mamak dari Desa Durian Cacar. Pertemuan mereka difasilitasi oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dan Yayasan Alam Sumatera (YASA) Riau.

?Di desa kami, saat ini, sebagian telah terbujuk oleh investor untuk menjual lahan mereka untuk dijadikan kebun sawit. Tapi kemudian mereka kebingungan, hutan mereka tidak ada lagi karena telah dijadikan lahan sawit, akhirnya malah merambah hutan adat yang kami pelihara dengan baik, Hutan Puako. Ini yang membuat kami resah dan ingin belajar dari Temenggung Tarib,? ungkap salah satu tokoh Talang Mamak Desa Durian Cacar, Mayor dalam acara silaturahmi yang dilakukan di tempat Temenggung Tarib, seperti yang dikutip dalam release ini.

Tokoh Talang Mamak lainnya, Sutan Cuan, juga mengungkapkan bahwa di sana sudah tidak ada tokoh adat yang mampu mengatasi masalah ini dalam menegakkan hukum adat mereka sendiri. Karena pemimpin mereka sendiri telah termakan rayuan investor, sehingga suasana di sana, kini sangat lahan konflik karena hukum adat tidak ditegakkan.

Pak Tarib dan kelompoknya yang mendengar masalah ini langsung mengungkapkan rasa prihatin dengan masalah yang menimpa kawan-kawan dari Talang Mamak tersebut. Dia juga mengungkapkan, bahwa saat ini, juga ada Orang Rimba yang suka menjual lahan bahkan menjadi pebalok.

?Tapi saya bisa menjamin di kelompok saya tidak ada yang boleh melakukan itu. Kami masih menjalankan nilai-nilai kearifan adat dan budaya kami dalam melestarikan hutan sekitar tempat kami tinggal,? tandasnya yang diterjemahkan oleh Fasilitator KKI Warsi, Marahalim yang kemudian diterjemahkan lagi dalam Bahasa Talang Mamak oleh Fasiliator Desa Durian Cucuk dari YASA, M Sanggo.

Temenggung Tarib juga menandaskan bahwa dulu, dia dan kelompoknya juga mempunyai keresahan yang sama seperti yang dialami orang Talang Mamak saat ini. Tapi setelah berdiskusi dan bertukar pikiran dengan KKI Warsi, dia kemudian mendapat solusi yang baik, yaitu hompongan. Hompongan adalah kebun karet yang ditanam di pinggir kawasan taman nasional yang sekaligus juga menunjukkan batas dengan ladang/perkebunan orang dusun.

Dalam kesempatan lain, tujuh orang Talang Mamak ini juga sempat mengunjungi kelompok Orang Rimba lainnya, yang dipimpin Temenggung Marituha yang tengah mengalami remayo (paceklik) karena habis melangun (prosesi pindah tempat tinggal karena salah satu anggota kelompoknya ada yang meninggal). Marituha juga ikut prihatin dengan apa yang dialami Talang Mamak saat ini. Dia juga menjelaskan bahwa kelompok Orang Rimba yang dia pimpin masih konsistensi terhadap adat dan budaya Orang Rimba.



?Satu pohon duren saja yang ditebang ada sanksi adatnya. Jika tidak bisa diselesaikan dalam satu kelompok itu maka akan diselesaikan penghulu lainnya sebagai masalah bersama,? tandasnya.

Yasa sendiri, ungkap M Sanggo, sebagai fasilitator Talang Mamak akan mencoba cara yang telah dilakukan Temenggung Tarib. Mereka akan memulainya dengan membuat pemetaan.

?Kami senang datang kemari, mereka bisa melihat bagaimana Temenggung Tarib dan kelompoknya berjuang untuk mempertahankan hak-hak adat dan budayanya atas wilayah hutan sekitar tempat mereka tinggal,? jelas M Sanggo.(***)
***





Berita terkait:
Comments: