NEWS RELEASE:

Kondisi Hutan Di Jambi Kritis

Perlu Perhatian Yang Terkait

Melimpahnya keragaman ekosistem yang ada di hutan-hutan Jambi, terutama di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) , Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan Taman Nasional Berbak (TNB) justru dikhawatirkan akan mengalami ancaman kepunahan jika saja tidak ada perubahan yang mendasar dalam pengelolaan, cara pandang terhadap hutan, kebijakan, dan perencanaan oleh semua pihak terkait.

Demikian ditandaskan Mahendra Taher, Penanggung Jawab Program Potret Hutan Jambi, dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Minggu (22/8), di Jambi dalam release yang dikeluarkan Warsi. Karena itu, pihaknya bersama dengan empat Pemerintah Kabupaten di Jambi (Kabupaten Batanghari, Sarolangun, Merangin, Tanjabar) plus Pemerintah Provinsi Jambi, juga Birdlife dan Inform (Indonesia Forest Media), akan menggelar acara workshop di tiap kabupaten dan provinsi tersebut dalam waktu dekat ini. Workshop pertama akan digelar di Kabupaten Batanghari yang khusus membahas tentang karakteristik pengelolaan hutan dataran rendah di Kabupaten Batanghari pada Selasa (24/8), di gedung PKK Kabupaten Batanghari.

?Workshop ini diharapkan bisa memberikan informasi lengkap tentang karakteristik hutan-hutan di Jambi dan juga melihat aspek kebijakan pengelolaan hutan yang selama ini diberlakukan di Jambi. Termasuk mendapatkan gambaran dan pemahaman berbagai pihak tentang persoalan kehutanan di masing-masing kabupaten,? jelas Taher, ?Kita juga berharap bisa mendapatkan data terbaru berkaitan dengan potensi dan ancaman serta aspek pengelolaannya.?

Menurutnya, tidak banyak masyarakat Jambi tahu, bahwa hutan yang mereka miliki terutama yang tersebar di empat taman nasionalnya itu, sesungguhnya memiliki keragaman ekosistem dan hayati terlengkap berupa hutan pegunungan dataran tinggi (tipe hutan sub Alpin) pada daerah-daerah yang membentang sepanjang Bukit Barisan hingga hutan dataran rendah pada wilayah-wilayah menuju pantai timur yang landai serta hutan rawanya. Sayangnya, potensi itu pula yang justru sering mendorong banyak pihak untuk mendulangnya secara besar-besaran tanpa lagi memikirkan kelestarian dan akibat yang ditimbulkan, yang kelak justru merugikan bagi masyarakat Jambi sendiri.

Saat ini, menurut Taher, kondisi kawasan yang masih berhutan di Jambi hanya sekitar 30% saja. Sementara hutan tersisa di Jambi menurut analisa citra land sat TM (citra satelit) tahun 2000 seluas sekitar 1,4,juta ha. Hutan-hutan tersebut dalam rentang waktu sepulu tahun (1990-2000) telah beralihfungsi misalnya menjadi lahan transmigrasi seluas 246.133 ha, HPH seluas 947,054 ha, HPHTI seluas 349,408 Ha, perkebunan karet seluas 558,570 ha dan perkebunan sawit seluas 597.178,67 ha. Belum lagi adanya kebakaran hutan seluas 110,917 ha.

?Mungkin dampak yang paling aktual dari kondisi kritis hutan di Jambi adalah adanya bencana banjir pada akhir tahun lalu. Hutan yang ada di Jambi jelas sudah tidak mampu lagi menyerap air hujan. Belum lagi jika langkah kebijakan serta aktifitasnya hanya diarahkan pada pemenuhan ekonomis.? Tambah Taher lagi.

?Jika kondisi ini dibiarkan tanpa ada upaya konkret dalam mendukung keberlanjutan kelestarian hutan di Jambi, maka sesungguhnya rakyat Jambi sendiri yang dirugikan,? tandasnya. (***)
***





Berita terkait:
Comments: