NEWS RELEASE:

Masih Diperlukan Fasilitas Kartu Sehat Untuk Orang Rimba

Setelah sempat mengalami kondisi kritis yang nyaris merenggut nyawanya akibat penyakit malaria dengan komplikasi anemia / anemia mikrositik hipokhromik (kurang darah) ditambah dengan Hepatitis B, akhirnya bocah Rimba laki-laki bernama Medang (5) mulai pulih. Kendati demikian Medang yang adalah putera Ngadang (40) dari Orang Rimba yang tinggal di Makekal Tengah, Kabupaten Tebo, Jambi, masih memerlukan sekitar 300 ml darah golongan A.

Selain itu, mereka tidak bisa membayar semua biaya perawatan inap dan pengobatan selama Medang di rawat di RSUD Raden Mattaher, Jambi, sejak 29 Agustus hingga sekarang. Karena Kartu Sehat yang biasa mereka gunakan untuk berobat secara gratis ke puskesmas dan rumah sakit pemerintah lainnya sudah tidak berlaku lagi.

?Kartu Sehat ini sebenarnya sudah sangat membantu semua Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) yang ingin berobat ke rumah sakit atau Puskemas. Tapi sejak subsidi dana untuk Kartu Sehat tersebut tidak ada, maka mereka harus menanggung sendiri biaya perawatan dan pengobatan selama di rumah sakit. Ini jelas sangat memberatkan tidak saja bagi Orang Rimba tapi juga untuk orang yang tidak mampu lainnya,? jelas Fasilitator Kesehatan Orang Rimba, Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Sutardi Diharjo, Rabu (4/8), seperti dikutip dalam release KKI Warsi.

Sutardi mengatakan bahwa Kartu Sehat selama ini disubsidi dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Bidang Kesehatan (PKPS-BBM BIDKES). Namun subsidi itu sudah tidak ada lagi sejak 1 Mei 2004 lalu. Segala upaya dilakukan untuk membantu pengobatan Medang ini, apalagi bapaknya, Ngadang, hanya hidup sangat sederhana dan tradisional di dalam hutan (rimba). Memang ada kebijakan yang dikeluarkan Pihak RSUD Mattaher yang akan akan membantu memberikan obat-obatan secara gratis kepada pasien yang tidak mampu, jika memang tersedia di rumah sakit tersebut. Sayangnya obat yang dibutuhkan ternyata tidak tersedia di sana sehingga pasien harus membeli sendiri.

?Dan karena tidak ada Kartu Sehat pula, ketika Medang memerlukan transfusi darah A, harus dikenakan biaya penuh sebesar Rp 95.000 untuk mengganti proses pengolahan darah (screening). Padahal jika menggunakan Kartu Sehat hanya dikenakan biaya separuhnya. Sehingga bila diperlukan sekitar lima kantong darah maka biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan darah akan cukup fantastis dan sangat besar sekali bagi orang /masyarakat miskin termasuk Orang Rimba ini. Padahal Medang masih memerlukan sekitar 300 ml darah A dari sekitar 750 ml darah,? tambah Sutardi.

Padahal sebelumnya sejak berobat di Puskesmas SP-D Sei Bulian oleh Dokter Wibawa, Medang tidak dikenakan biaya karena dianggap sebagai masyarakat yang telah dijamin Program Kartu Sehat meski dana untuk program itu telah habis. Sejauh ini biaya rawat/inap dan pengobatan untuk Medang telah memakan biaya sekitar Rp 1,5 juta, dan itu sepenuhnya masih ditanggung oleh KKI Warsi. Bantuan dan simpati memang mengalir tapi masih sebatas memberikan pakaian yang layak pakai saja bagi Medang, ayah dan seorang kakaknya. Sementara beberapa sukerelawan pendonor darah A juga cukup membantu pulihnya kondisi Medang saat ini.

?Kasus Medang bisa saja terjadi kepada siapa saja, tidak hanya pada Orang Rimba tapi masyarakat tidak mampu lainnya. Saya hanya berharap subsidi untuk Kartu Sehat bisa berjalan lagi. Sehingga masyarakat yang membutuhkan bisa mendapatkan layanan kesehatan dengan baik seperti sebelumnya,? harap Sutardi yang sudah dua tahun ini menjadi Fasilitator Kesehatan di KKI Warsi. (***)
***





Berita terkait:
Comments: