NEWS RELEASE:

Wakil Temenggung Mlahir Tewas Mengenaskan

(akibat Keberadaan Loader Kegiatan Illog)
Seorang Rimba, Wakil Temenggung Mlahir, harus tewas dengan mengenaskan setelah terjatuh dari kendaraan alat berat (wheel loader) milik seorang pengusaha kayu yang melakukan operasi illegal logging di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) atau tepatnya di daerah Pasir Putih, Kejasung Besar, Muarasebo Ulu, Selasa (18/5).

Hal ini terungkap dalam Konferensi Pers Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Rabu (19/5), di Jambi. Menurut Koordinator Program KKI Warsi, Robert Aritonang, seharusnya peristiwa mengenaskan itu tidak perlu terjadi jika saja perusahaan berinisial PT DP tidak melakukan kegiatan illegal loggingnya dalam TNBD. Terlebih bagi Orang Rimba, alat-alat berat termasuk kendaraan wheel loader adalah sesuatu yang membangkitkan rasa keingintahuan mereka, sehingga akhirnya malah menimbulkan kecelakaan yang membuat Mlahir tewas seketika.

Aritonang juga menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi pada 18 Mei 2004 sekitar pukul 20.25 WIB. Setelah kejadian itu, pihak Warsi langsung melaporkannya ke aparat terkait. Pada 19 Mei, aparat kepolisian melakukan penyidikan dengan menurunkan tim medik, guna mengusut kasus tersebut. Mayat korban yang masih tergeletak di pinggir sungai tampak parah karena mengeluarkan darah di hidung dan kuping, langsung diotopsi di tempat kejadian.



Antropolog Warsi, Tanta Pranacitra dan Erna Anjarwati yang pada malam kejadian sempat bersama Almarhum dan rombongannya menuturkan, bahwa wheel loader itu sempat dinaiki semua rombong almarhum yang berjumlah sekitar 15 orang termasuk almarhum. Tidak lama Tanta dan Erna kembali ke kamp, mereka mendengar suara jerit panik para Orang Rimba. Dalam suasan panik, histeris, dan takut para Orang Rimba itu berlarian ke sana kemari. Tidak berapa lama, salah satu dari mereka membawa staf lapangan Warsi, Tanta ke pinggir sungai untuk memeriksa kondisi Mlahir yang ternyata sudah tewas.

Rombong almarhum ini kemudian langsung melakukan prosesi melangun (tradisi orang Rimba yang meninggalkan tempat untuk beberapa tahun dan berpindah ke kawasan lain jika ada salah satu dari mereka meninggal dunia).

Namun menurut Tanta dan Erna, ada yang aneh dari kejadian prosesi melangun Orang Rimba kali ini. Karena mereka meninggalkan begitu saja mayat korban tanpa membuat pondok untuk mayat. Padahal biasanya bila salah satu warga meninggal, karena sakit misalnya, maka mereka akan membuat pondokan lebih dahulu untuk si mayat, sebelum melangun.

?Saya melihat kali ini sangat aneh. Mereka meninggalkan begitu saja mayat si korban tanpa dibuatkan pondok lebih dulu. Dan keanehan ini sulit diprediksi. Mereka bahkan menyuruh saya untuk mengurus mayat dan membuat pondokan. Ini mungkin disebabkan ketidakwajaran dalam kematian almarhum,? jelasnya.

Sementara Robert mengatakan bahwa penyesalan dengan apa yang terjadi dengan Wakil Temenggung Mlahir bukan hanya soal kecelakaan itu saja tetapi juga kegiatan illog oleh PT DP. Padahal sudah sangat jelas dalam SK Menhut No.258/KPTS-II/2000 tentang fungsi kawasan Orang Rimba yang sebelumnya hutan produksi seluas 20.700 ha, ditetapkan menjadi Taman Nasional dengan areal menjadi 60.500 ha, menyebutkan tidak diizinkan untuk pengambilan kayu di sana. (***)
***





Berita terkait:
Comments: