NEWS RELEASE:

Cetuskan Perdes Warga Desa Guguk Harap Hutan Adatnya Terjaga Dan Lestari

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya masyarakat Desa Guguk, Kecamatan Sungai Manau, Kabupaten Merangin, Jambi, melalui Rembug Desa berhasil menyepakati Rancangan Peraturan Desa (Ranperdes) tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan Adat untuk ditetapkan menjadi Peraturan Desa (Perdes), demi menjaga kelestarian hutan adat di desa mereka.

Dicetuskannya Perdes oleh masyarakat Desa Guguk ini untuk menunjukkan pada Pemda Merangin bahwa mereka memang serius mengelola dan menjaga hutan tersebut. Karena itulah mereka merasa keberadaan Perdes jadi sangat penting peranannya, sehingga setiap orang tidak bisa sembarangan lagi terhadap hutan adat mereka itu.

?Tidak banyak desa di Jambi yang melaksanakan proses-proses pembentukan Perdes sampai pada tahap pelibatan masyarakat desa secara luas, apalagi menyangkut Perdes yang mengatur pengelolaan hutan secara lestari berdasarkan hukum adat yang ada dan berlaku di desa mereka sendiri. Tapi Desa Guguk adalah pengecualian,? demikian ungkap Legal Officer CBFM (Community Based Forest Management), Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Edra Satmaidi di Jambi, Kamis (29/4).

Sementara tokoh masyarakat setempat, Datuk Haji Abu Bakar, menilai status Hutan Adat meski sudah jelas sebagai milik Desa Guguk berdasarkan Keputusan Bupati No 287 tahun 2004, tetapi masih memerlukan aturan yang jelas sebelum pemanfataan hutan adat diberlakukan. Selama ini mereka hanya mengandalkan pengelolaan kawasan itu berdasarkan piagam (kesepakatan adat-red) yang bersifat umum. Sehingga dikhawatirkan pengelolaannya akan menyimpang.

?Jangan sampai hutan adat yang diperjuangkan selama lima tahun ini menjadi sia-sia, dimana dalam hitungan tahun berikutnya hutan kita ini habis, dan tidak bisa lagi dinikmati anak cucu kita,? jelas Datuk Haji Abu Bakar.

Sedangkan Kepala Dinas Kehutanan Merangin, Ir Takat Himawan, menyambut positif terhadap apresiasi masyarakat Desa Guguk terhadap hutan adatnya. Menurutnya, semangat itu juga sesuai dengan program pemerintah mengenai Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) dan proyek Rehabilitasi Hutan melalui Dana Alokasi Khusus - Dana Reboisasi (DAK-DR), dimana Desa Guguk juga masuk dalam rencana program tersebut.

?Mereka sudah pada tingkat kesadaran dan pemahaman yang tinggi terhadap masalah hukum dan kelestarian hutan adat mereka. Kesadaran dan pemahaman semacam ini jarang sekali dimiliki oleh Desa lainnya. Itu bisa dilihat pada perdebatan yang terjadi di Rembug Desa saat membahas Ranperdes tersebut,? jelas Edra.

Senada juga diungkapkan Yuzamir, Fasilitator Desa Guguk. Pada Rembug Desa yang membahas Ranperdes menjadi Perdes itu, jelas Yuzamrir, masyarakat Desa Guguk tidak lagi memperdebatkan redaksional tetapi lebih pada hal yang substansial. Misalnya, memperdebatkan tentang syarat-syarat pemanfaatan hutan adat yang lestari yang harusnya tidak boleh diperjualbelikan. Bahkan mereka juga membahas pada soal diameter kayu yang boleh di potong dan penanaman kembali beberapa batang untuk penebangan satu pohon. Termasuk membahas kuota pengambilan kayu dalam satu tahun, jumlah maksimal yang boleh diambil untuk kebutuhan pribadi, jarak dari kiri kanan sungai besar/kecil, hingga kemiringan dan masalah pohon induk.

?Lebih menarik,? imbuh Yuzamrir, ?Mereka juga sudah pada taraf pemahaman tentang betapa pentingnya peranan ekosistem yang ada dalam kawasan itu. Sehingga mereka menganggap Lubuk Larangan adalah bagian yang juga harus dilindungi dan dilestarikan karena masuk dalam kawasan hutan adat tersebut.?

Acara Rembug Desa itu sendiri digelar pada 24 April 2004 di Balai Pertemuan Desa Guguk. Tidak hanya dihadiri oleh tokoh masyarakat, Kelompok Pengelola Hutan Adat, Pemdes setempat tetapi juga melibatkan Camat Sungai Manau, Dinas Kehutanan, di bagian Hukum dan Tata Pemerintahan. Tidak ketinggalan masyarakat dampingan KKI Warsi dari Desa lain yaitu Batu Kerbau dan Batang Kibul yang juga diundang untuk tujuan menjalin komunikasi antara mereka dan proses pembelajaran bersama. Acara Rembug Desa juga dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kehutanan Merangin, Ir Takat Himawan yang juga ikut serta membahas dan memberikan saran tentang masalah yang tengah dibahas bersama warga dan undangan lainnya. (***)
***





Berita terkait:
Comments: