NEWS RELEASE:

Hasil Pertemuan Tokoh Orang Rimba, Bksda, Dan Kki Warsi

Dambakan Pengakuan Hak Dan Lembaga Mandiri
Para tokoh Orang Rimba menyambut gembira rencana pembentukan lembaga kemandirian yang bisa dibentuk dan dikelola oleh mereka sendiri.

Mereka juga menyambut baik keinginan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) provinsi Jambi, yang akan membantu mereka dalam menjaga kelestarian Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), demi kesejahteraan dan kemandirian Orang Rimba di masa mendatang.

Sementara itu Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi, Robert A, menilai pertemuan para tokoh Orang Rimba dengan BKSDA yang dipimpin langsung oleh Ketuanya, Maraden Purba itu, sebagai pengakuan adanya hak dan budaya Orang Rimba.

?Pertemuan itu sangat penting bagi pengelolaan kawasan TNBD ke depan, sehingga posisi dan hak Orang Rimba semakin jelas. Yang lebih menarik lagi dari pertemuan itu, Orang Rimba menyadari bahwa mereka tidak bisa menghindari adanya suatu perubahan. Ke depan, hanya hutan dan tanah sebagai eksistensi jati diri mereka,? ujar Robert usai pertemuan yang berlangsung dua hari, Jumat (23/4), di Jambi. Pertemuan itu berlangsung dua hari sejak Kamis (23/4), di kantor KKI Warsi Jambi, dan dihadiri 14 tokoh Orang Rimba, serta Maraden Purba dan para stafnya.

Meskipun masih sebatas wacana, sejumlah tokoh Orang Rimba ini berharap pertemuan itu bisa membawa dampak postif bagi kehidupan mereka ke depan.

?Kami senang, BKSDA mau mendengar dan mengakui keberadaan kami. Kami juga senang karena permasalahan di hutan (TNBD-red) akan ditangani BKSDA. Kami juga akan menyampaikan hasil pertemuan ini kepada kawan-kawan kami di rimba. Terutama tentang rencana pembentukan lembaga kemandirian ini,? ungkap Bepak Pengusai (Ngandun Tua), salah seorang tokoh Orang Rimba, yang disambut anggukkan setuju lainnya, usai pertemuan.

Diakui juga oleh Temenggung Nggrip bahwa selama ini sumber ekonomi mereka yang ada di taman nasional seperti pohon sialang, dan jernang ikut rusak karena kegiatan pebalokan (illegal logging-red) yang dilakukan oleh orang-orang luar. Mereka tidak kuasa untuk mencegahnya ketika para pebalok memasuki kawasan taman nasional.

?Banyak pohon-pohon itu mati tertimpa balok pohon-pohon besar. Tapi kini, kami cukup senang BKSDA tahu dan akan menanganinya,? jelas Temenggung Nggrip.

Temenggung Nggrip juga mengungkapkan bahwa mereka sering mendapat ancaman dari orang-orang tidak di kenal sewaktu mereka tengah lelap tertidur di malam hari, hanya karena berani menentang kegiatan perbalokan.


?Saya dan keluarga pernah ditembaki saat tidur. Kami tidak tahu siapa yang melakukannya. Kalau waktu siang, mungkin kami bisa menghadapinya,? jelasnya.

Terkait dengan hal itu, Maraden berjanji akan membicarakan masalah ini secara spesifik dan fokus. Dia mengakui bahwa memang ada orang-orang tertentu yang secara sadar atau tidak sadar akan merugikan kelangsungan hidup Orang Rimba.

?Kita tahun ini dan kedepan akan intensif bersama warsi dan pihak-pihak lain yang terkait seperti kepala dusun, camat atau kabupaten untuk melakukan apa-apa yang perlu guna melestarikan, merehabilitasi taman yang rusak dengan melibatkan Orang Rimba. Tapi inti sebenarnya, kekuatan tersebut ada pada Orang Rimba. Bersama-sama dengan kita nanti akan menanggulangi permasalahan yang akan datang. Asal Orang Rimba tidak terpengaruh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu,? tandas Maraden.



Terkait dengan rencana pembentukan lembaga kemandirian yang akan dibentuk dan dikelola oleh Orang Rimba, Temenggung Pengusai, berharap bisa menjadi wahana bagi perjuangan mereka dalam mempertahankan kawasan TNBD dalam menghadapi berbagai tekanan.

?Warsi sendiri hanya mendampingi semua proses awal ini. Termasuk mungkin mengurus legitimasi lembaganya dan bagaimana Orang Rimba diberdayakan melalui lembaga ini menjadi mandiri, hanya sebatas itu,? ujar Fasilitator Pendampingan Orang Rimba, Marahalim.

Sedangkan Robert menilai pertemuan itu sebagai langkah penting dalam mendukung kemandirian Orang Rimba ke depan. Sehingga LSM tidak diperlukan lagi keberadaannya bagi Orang Rimba yang telah mandiri.

?Jelas ada hasil yang berkelanjutan. Misalnya hompongan yang kini masih terus berjalan dan dijadikan andalan Orang Rimba. fasilitasi kegiatan baca tulis dan hitung juga berkelanjutan yang bisa membantu kehidupan perubahan sosial mereka,? tambah Robert.

Hanya pada masalah fasilitasi kesehatan dinilainya, masih belum pada tahap berkelanjutan. Karena selama ini Orang Rimba masih belum bisa mengurus misalnya pengobatan sendiri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat tanpa adanya pendamping.

Sementara Maraden Purba mendukung upaya yang telah dilakukan KKI Warsi dalam memberikan pendampingan kepada Orang Rimba maupun masyarakat desa demi kelestarian Taman Nasional.

?Saya mendukung upaya yang telah dilakukan terutama terhadap pemahaman, bagaimana nilai ekologis sejajar atau sebanding dengan nilai ekonomis. Kita tahun ini juga ada kegiatan bersama masyarakat. Tapi apa yang dibuat itu (dikawasan TNBD-red) harus sesuai dengan adat budaya Orang Rimba. Salah satunya yang menyangkut peningkatan sumberdaya Orang Rimba.

Menurutnya, kelestarian TNBD juga sangat penting bukan hanya untuk Orang Rimba tapi juga mencegah banjir pada Provinsi Jambi. Artinya. Kelestarian TNBD adalah untuk masyarakat Jambi pada umumnya. (***)
***





Berita terkait:
Comments: