NEWS RELEASE:

Persahabatan Suku Anak Dalam Dengan Suku Anak Jalanan

Di Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi

Apa jadinya ketika anak-anak Rimba yang terbiasa hidup dengan kehidupan liar di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi, bertemu dengan anak-anak kota yang telah terbiasa dengan kehidupan keras di jalanan Jakarta? Tidak perlu susah membayangkannya. Karena meski mereka berasal dari kondisi, adat, budaya bahkan bahasa yang berbeda, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka mempunyai bahasa tersendiri dalam menyambung rasa tanpa batas meski dengan perbedaan yang mungkin untuk kehidupan orang dewasa itu menjadi persoalan yang mendasar dalam menjalin rasa dan komunikasi. Hal itu dibuktikan oleh 82 anak usia 5-16 tahun yang pernah mengecap kerasnya hidup jalanan ibukota Jakarta ? dan kini diasuh dan tergabung dalam Yayasan Kampus Diakonia Modern (KDM), Jakarta, pada 12-17 Agustus lalu. Difasilitasi oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Jambi, anak-anak dari Jakarta ini tanpa ragu menjalani hidup layaknya anak-anak rimba, yaitu: Tinggal di hutan, memakai cawat, mencari ikan dan kerang di sungai, bahkan masuk kedalaman hutan guna mempelajari tumbuhan yang biasa dipakai Orang Rimba (suku asli TNBD) untuk ramuan obat, makan bahkan untuk mandi. Cintang, Upay, Nyantap, Micak, Sembiring, Nyanting, dan Boncel yang masih berumur sekitar 5-7 tahun, misalnya, hanya bisa mengamati kawan-kawan barunya yang tengah sibuk mendirikan tenda dan dibantu kakak-kakak pembimbingnya itu, dari balik pohon. Namun anak-anak Rimba yang berumur sekitar 8-11 tahun seperti Mandun dan Metik, berani mendekat meski masih hanya sebatas mengamati tetapi belum berani untuk menyapa dan mengajak bercakap-cakap, karena bahasa yang digunakan oleh anak-anak dari Jakarta itu adalah Bahasa Betawi, bahasa yang sangat asing bagi anak-anak Rimba. Masalah bahasa yang sangat berbeda pun tidak menghalangi anak-anak rimba dan anak-anak kota ini bisa saling rangkul, bertukar permainan, bahkan makan bersama dengan kawan-kawan mereka dari rimba. Satu bahasa yang menyatukan mereka adalah dun...baca selanjutnya...






Berita terkait:
 
TULIS KOMENTAR:
 
     
  Tanggal:  
  Nama:  
  Email:  
  Komentar:  
  =