Category: wca

244 Desa Di DAS Batang Hari Rawan Banjir

Musim hujan telah tiba, bagi masyarakat yang berada di DAS Batang Hari itu berarti harus bersiap menghadapi banjir dan tanah longsor. Dari data yang terdapat di Dapertemen Kimpraswil, di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari terdapat 244 desa termasuk daerah rawan dan berpotensi banjr. Meliputi kawasan pertanian dan pemukiman yang diperkirakan seluas 180.305 hektar. Dari luasan ini, 78 persen merupakan daerah pemukiman.

Continue Reading

Penting Kebijakan Spesifik Pengelolaan Sumberdaya Hutan

Kabupaten Sarolangun memiliki karakter wilayah yang sangat spesifik yaitu bentangan wilayah dari barat ke timur, dari dataran tinggi hingga dataran rendah mengikuti Daerah Aliran Sungai (DAS) Limun Batang Asai dan Batang Tembesi dengan puluhan anak sungainya yang tersebar diseluruh kabupaten Sarolangun.

Continue Reading

Pendangkalan Sungai Akibat Kritisnya Das Batang Hari

Pendangkalan sungai Batang Hari sudang mengganggu kepada aktifitas pelayaran yang memanfaatkan alur sungai terpanjang di Sumatera ini. Salah satu yang mengalami kendala adalah pasokan BBM ke Jambi yang sempat terganggu. Seperti yang diberitakan Kompas (2/9) lalu, Asisten Media dan Publikasi Bagian Humas PT Pertamina Unit Pemasaran II Wilayah Sumbangsel Roberth MV Damatubun mengungkapkan pengiriman BBM ke Jambi terpaksa menggunakan kapal yang lebih kecil yaitu tongkang dengan kapasitas 3.000 kilo liter, padahal pada kondisi normal angkutan BBM ke Jambi menggunakan tongkang dengan kapasitas 6.000 kl. Akibatnya BBM yang harusnya dapat dangkut dalam satu kali pelayaran harus dibawa dalam dua kali pelayaran akibat pendangkalan sungai. Saat ini alur pelayaran Sungai Batang Hari tinggal 4,5 meter lebih dangkal 1,5 meter dari alur pelayaran normal 6 meter.

Continue Reading

KKI Warsi Sediakan Website

Data dan informasi tentang DAS Batang Hari tentu akan sangat menentukan langkah pengelolaan yang akan diambil oleh stakeholder. Hanya saja selama ini data dan informasi tentang DAS Batang Hari masih terkotak-kotak pada masing-masing stakeholder. Untuk memudahkan akses dan mengetahui kondisi terkini DAS Batang Hari, KKI Warsi berupaya untuk menghadirkan web site DAS Batang Hari.

Continue Reading

BHIP Akan Menjadi Mubazir?

Kabupaten Dharmasraya dengan 6 sub DAS yang menjadi hulu DAS Batang Hari dan juga pembangunan bendungan Batang Hari untuk irigasi (Batang Hari Irrigation Project), merupakan ?pembeda? kabupaten Dharmasraya dengan kabupaten lainnya.

Continue Reading

Hutan Solok Selatan Diambang Batas

Solok Selatan yang berada di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari, memegang peranan penting bagi kasawan DAS terbesar kedua di Sumatera. Dengan topografi yang cendrung berbukit, menjadikan daerah ini sebagai daerah tangkapan air (water catchments area) yang akan menunjang fungsi hidrologi DAS Batang Hari, yang terbentang di Provinsi Sumatera Barat dan Jambi.

Continue Reading

Jaringan Irigasi Terancam Tidak Berfungsi

Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan produksi padi, dengan terus menambah jaringan irigasi di daerah yang diharapkan menjadi sentra-sentra produksi padi. Hanya saja pembangunan irigasi ini hanya akan terancam tidak berfungsi dikarenakan pengelolaan sumberdaya alam di daerah aliran sungai yang saat ini cendrung terabaikan.

Continue Reading

Disepakati Terbentuknya

Persoalan yang melanda Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari sudah sangat komplit dan mengkhawatirkan. Tindakan dan kegiatan yang dilakukan selama ini untuk mencegah laju kerusakan DAS Batang Hari masih belum memperlihatkan hasil yang nyata. Penyelamatan DAS Batang Hari harus menjadi perhatian semua pihak, mengingat fungsi DAS Batang Hari yang sangat strategis bagi Provinsi Jambi dan Sumatera Barat.

Continue Reading

Tahun 2011 Tutupan Hutan Das Batang Hari Tinggal 10 Persen

Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari dengan luas 5 juta hektar lebih, kini telah dikategorikan sebagai DAS kritis di Indonesia. Fungsi-fungsi hidrologi DAS BAtang Hari terus mengalami kemerosotan yang menyebabkan terjadinya berbagai bencana. Banyak faktor yang menyebabkan penurunan fungsi hidrologi DAS terbesar kedua di Sumatera ini. Dari review dan analisis yang dilakukan Team Kelompok Kerja (Pokja) Monitoring dan Evaluasi DAS Batang Hari selama satu tahun terakhir, disimpulkan penyebab penurunan fungsi hidrologi DAS Batang Hari adalah dampak iklim ektrim, dampak deforestasi dan dampak kebun sawit.

Continue Reading

Badan Otorita Media Alternatif Pengelolaan Das Batanghari

Menurut kepala BPN tanjung Jabung Timur Dahrim Harahap supaya pengelolaan DAS Batanghari yang sudah terlanjur hancur ini, perlu dibentuk Badan Otorita. Pendapat ini juga mendapat dukungan dari Sekretaris Komisi C DPRD Tanjabtim. Tanggapan ini muncul pada acara yang dihadiri oleh sejumlah instansi dan komisi C DPRD Tanjabtim ini, setelah Koordinator Program Bioregion DAS Batanghari KKI Warsi Mahendra Taher menyebutkan dari luas tutupan DAS Batanghari berdasarkan analisa peta citra Lansat TM7 2002 adalah 42.841,33 km persegi, sedangkan yang berupa hutan hanya 14.196,55 km persegi, atau hanya 33 persen yang terdapat di dua Provinsi yaitu Sumbar dan Jambi. Sedangkan untuk Tanjabtim sendiri kawasan yang berupa hutan tinggal 25 persen dari luas Tanjabtim.

Continue Reading

Rencana Pelabuhan Muara Sabak Terancam Sedimentasi

Kondisi DAS Batanghari ini semakin kritis, diindikasikan oleh semakin berkurangnya kemampuan untuk menyimpan air di musim kemarau, meningkatnya frekuensi banjir tahunan, tidak memadainya lagi pasokan air bersih untuk masyarakat, serta tingginya sedimentasi.

Continue Reading

WCA Das Batanghari Tinggal 1,1 Juta Ha

Ancaman terhadap tutupan lahan Water Catchment Area (WCA/daerah tangkapan air) DAS (Daerah Aliran Sungai) Batanghari di Provinsi Jambi, memperlihatkan kecendrungan peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 1990 tutupan lahan DAS masih berupa hutan masih tercatat 2,4 juta Hektar. Pada tahun 2000 terjadi penurunan yang sangat drastis menjadi 1,2 juta hektar. Tahun 2002 terjadi penurunan sebanyak 113 ribu hektar, atau hanya tinggal 1,1 juta hektar saja.

Continue Reading

Lahan Kritis Kawasan DAS Batanghari Mencapai 193.667 Hektar

Kawasan DAS Batanghari berdasarkan interpretasi peta citra satelit DAS Batanghari hulu terdapat jumlah lahan kritis yang tinggi yaitu seluas 193.667,54 hektar (23 %) dalam tahun 2001. Kegiatan yang berpotensi pada rusaknya fungsi DAS Batanghari khususnya yang masuk wilayah Sumbar ada beberapa, antara lain konsesi HPH seluas 99.420 hektar dan izin usaha perkebunan sawit seluas 119.217 hektar pada kawasan DAS Batanghari.

Continue Reading

Jambi-Sumbar Bahas Kerusakan DAS Batanghari

Karena DAS Batanghari masuk wilayah Jambi dan Sumbar, keseriusan kedua provinsi ini membahas penanganan permasalahannya secara bersama sangat diperlukan. Setelah mengadakan beberapa kali acara konsultasi publik di kabupaten yang ada di Jambi dan Sumbar, tahap keberikutnya perlu diadakan wokshop regional. Pelaksanaan workshop ini telah menjadi kajian pihak terkait di pemerintah kabupaten tersebut dengan kembali bekerjasama dengan KKI (Komunitas Konservasi Indonesia) Warsi.

Continue Reading

Sedimentasi Kendala Pembangunan Pelabuhan Samudera Jambi

Pembangunan pelabuhan Samudera Jambi yang kini tengah berjalan merupakan alternatif penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi Jambi. Namun sendimentasi yang telah lama ?menghantam? daerah hilir dari DAS Batanghari ini bisa menyulitkan pengwujudan harapan tersebut.

Continue Reading

Pengelolaan DAS Batanghari Masih Terkotak-kotak

Saat ini tidak ada peristiwa yang lebih memilukan dan menakutkan dari bencana banjir yang menimpa Indonesia secara umum dan Jambi khususnya. Kondisi ini tak terlepas dari pengelolaan sumber daya alam yang tak memperhatikan keberlajutannya.

Continue Reading

Kondisi DAS Batanghari Kian Kritis

Pemberlakuan otonomi daerah tak selamanya memberikan keuntungan atau dampak positf sebagaimana yang ditargetkan elit politik dan birokrat di daerah. Esensi otonomi daerah sebenarnya adalah peningkatan proses dan kualitas sistim politik, bukan hanya pada soal pemindahan otoritas dari pusat ke daerah belaka.

Continue Reading