NEWS RELEASE:

Dua Staf KKI Warsi

Terima Penghargaan Dari Unesco
Dua orang aktifis Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI Warsi) mendapatkan penghargaan Man and the Biosphere (MAB) dari badan dunia untuk pendidikan, UNESCO. Mereka yaitu Zainuddin (staf Unit Desa KKI Warsi) dan Mahendra Taher (Koordinator Program Potret KKI Warsi).

Selain Zainuddin dan Mahendra Taher, ada tiga orang lagi penerima penghargaan MAB lainnya dari Indonesia, yaitu Nur Arafah (Universitas Halu Uleo, Kendari, Sultra), Muhammad Syukri (Seame Bitrop, Bogor-Jabar), Iin Purwanti Handayani (Universitas Bengkulu). Program UNESCO MAB ini merupakan program internasional yang bersifat interdisiplin yang telah ada sejak 1970. Program ini melibatkan 100 negara di dunia yang mengangkat tema keterpaduan konservasi SDA dengan pemanfaatannya secara berkelanjutan.

Sehingga penerima penghargaan ini secara langsung telah diangkat menjadi duta konservasi UNESCO untuk daerahnya masing-masing. Mereka diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk bidang konservasi di daerahnya masing-maisng, begitu juga dengan Jambi yang memiliki empat taman nasional (TNKS, TNB, TNBT, dan TNBD).

?Tahun depan (2004) UNESCO-LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) berencana berkegiatan di Jambi, dimulai dengan berkunjung ke Bukit Sari di Kabupaten Tebo di awal tahun 2004. Bukit Sari merupakan areal yang juga dilindungi di Jambi. Selain itu LIPI akan melakukan kegiatan polyculture di Jambi, salah satunya dengan menanam satu tanaman konservasi yang menjadi ciri suatu daerah, misalnya di Jambi dengan menanam tumbuhan manau,? urai Zainuddin.

Lelaki yang telah dua tahun lebih enam bulan (1 April 2001-sekarang) ini bergabung di KKI Warsi, menambahkan kalau semua yang dilakukan UNESCO (yang bekerjasama dengan LIPI), termasuk dirinya dan peserta kompetisi MAB lainnya, termasuk semua rekannya di KKI Warsi, adalah untuk mengangkat arti penting lingkungan alam/hutan bagi kehidupan masyarakat. Jika kondisi alam kritis, bencana alam pun tak terelakan akan dirasai masyarakat.

Khusus untuk masyarakat desa-desa di Jambi, dia berharap ada upaya pemerintah yng lebih tegas untuk pembangunan ekonomi mereka. Terutama pemerintah harus mengupayakan apa saja demi tergarapnya lahan sawah, sesap, belukar, yang potensinya sangat besar di Jambi, yang mana selama ini perhatian itu masih belum optimal ditunjukan pemerintah.

Sorotan itu juga yang diangkat Zainuddin dalam tulisannya yang diajukan ke UNESCO-LIPI yang lebih spesifik bertemakan Upaya Penyelamatan Kawasan TNBD Jambi. Sedangkan Mahendra Taher sendiri mengajukan tulisan Upaya Membangun Kesepahaman Bersama dalam Mengelola SDA dengan Pendekatan Bioregion di DAS Batanghari Jambi. Karena persoalan kerusakan alam tak hanya terkait kondisi hutan saja melainkan lebih luas dan kompleks dari itu, termasuk dampak kerusakan lingkungan terhadap kondisi daerah aliran sungai (DAS). Dimana lelaki yang pernah menjabat sebagai Koordinator Program DAS Batanghari KKI Warsi ini menemukan tingginya kadar sendimentasi di DAS Batanghari (Jambi), akibat kegiatan illegal logging, penambangan liar, dan faktor lainnya. Sehingga DAS Batanghari pun dijuluki salah satu DAS yang terkritis di Indonesia.

Selanjutnya, mengenai proses penentuan penerima piagam MAB ini berawal dari jumlah peserta 43 orang seluruh Indonesia 43 yang mengajukan beragam tulisan mengenai lingkungan. Kemudian jumlah itu diciutkan menjadi sembilan orang sebagai finalis MAB yang akhirnya penghargaan diberikan untuk lima orang saja dari mereka. Peserta berasal dari kalangan akademisi dan aktifis LSM di seluruh provinsi yang peduli persoalan lingkungan. Penyerahan piagam MAB ini dilakukan oleh Penasehat Senior untuk Lingkungan Hidup kantor UNESCO di Jakarta, Kuswara Kartawinata, Rabu (5/11) di Gedung LIPI, Jakarta.(*) ***





Related news:
Comments: