NEWS RELEASE:

Ludes Dimakan Hama

Lima Puluh Hektar Sawah Padangkelapo
Kembali untuk keempat kalinya petani di Desa Padangkelapo, Kecamatan Maroseboulu, Kabupaten Batanghari (Jambi), harus ?menelan? kekecewaan karena gagal panen. Sawah mereka seluas 50 hektar telah diserang hama ulat penggerek batang hingga ludes. Umur padi saat diserang hama 25 hari.

?Instansi terkait harus segera menanggapi permasalahan ini. Kalau tidak, dikhawatirkan masyarakat akan apatis untuk mengelola sawah mereka lagi,? ujar Fasilitator Unit Desa KKI (Komunitas Konservasi Indonesia) WARSI, Zainuddin, kemaren.



Menurutnya, luas sawah yang kelola masyarakat Padangkelapo dalam empat tahun belakangan ini (1999-2003) hanya berkisar 40-50 hektar, dengan kepemilikan rata-rata ?-1/2 hektar/KK. Sementara berdasarkan pengukuran lahan serta potensi sawah di Padangkelapo yang dilakukan oleh tim pemetaan tata ruang WARSI, diketahui masih ada 112 hektar potensi sawah lagi yang belum digarap oleh masyarakat Padangkelapo.Termasuk potensi lainnya yang juga layak dijadikan areal persawahan yaitu berupa rawa seluas 78,5 hektar.

Selanjutnya, jenis sawah yang saat ini dikelola masyarakat Padangkelapo yaitu tadah hujan dengan sarana 2 dam. Sedangkan jenis bibit padinya adalah jenis unggul dan sedikit jenis padi lokal (bibit padi Batanghari).

Lebih jauh lelaki yang hampir enam bulan ini mendampingi masyarakat Padangkelapo menjelaskan kalau dari tahun ke tahun untuk mengantisipasi masalah hama ini masyarakat Padangkelapo telah menyemprotkan tiodan atau larutan sipin. Namun tidak menampakkan hasil, disamping juga harga belinya tinggi.

Untuk mengatasi hama ini, masyarakat juga telah meminta bantuan pemerintah dengan menyurati Dinas Pertanian Batanghari, Bupati Batanghari, bahkan pihak kecamatan Maroseboulu tanggal 17 Juni yang ditandatangi Ketua BPD (Badan Perwakilan Desa) Padangkelapo, Muhammad Dahlan. Namun jawaban dari ketiga pihak ini masih dalam penungguan.

Sementara itu informasi yang didapat dari PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) Maroseboulu yang bermarkas di kantor BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Edi Sugiono, menurut Zainuddin, hanya berupa penjelasan kalau ulat penggerek batang ini akan selalu muncul di setiap musim kemarau dan akan hilang dengan sendirinya begitu kemarau usai. Edi berjanji akan turun ke Padangkelapo bersama petugas Hama Penyakit Dinas Pertanian Batanghari untuk memastikan bentuk serangan hama tersebut.

Sekarang masyarakat Padangkelapo yang berjumlah 365 KK hanya mengandalkan karet untuk menopang ekonomi mereka. Namun itu pun tak cukup membantu kehidupan mereka sehari-hari, karena harga getah sekarang hanya Rp1.200 perkilogram. Keluhan akan kesulitan ini sangat terasa sekali. Bahkan salah seorang petani Desa Padangkelapo, Damiri berujar, ?Kalau tidak ada tanggapan pemerintah terhadap permasalahan kami ini, biar kami makan gadung (ubitalas) saja,?***
***





Related news:
Comments: