NEWS RELEASE:

Berhasil, Panen Pertama Petani Sawah Di Desa Selatan Tnbd

Sebagian besar petani padi sawah di Desa Jernih dan Semurung (Selatan TNBD) sudah melakukan panen pertama pada minggu kedua Juli hingga akhir Agustus mendatang. Dari 200 Kg bibit yang disemai menghasilkan 15.500 Kg gabah kering. Gerakan Kembali Ke Sawah yang digalakkan Warsi sejak beberapa bulan lalu mulai memberikan hasil nyata berupa panen pertama yang telah dimulai sejak minggu ketiga Juli. Panen padi sawah di Desa Jernih dan Semurung, Kecamatan Pauh, kabupaten Sarolangun ini pertama kali dilakukan di desa Jernih yang dimulai oleh 5 orang petani.

Hingga menjelang awal Agustus, dari 31 orang petani yang bertanam padi sawah di desa Jernih, tinggal 5 orang saja yang belum panen atau 26 orang petani telah sukses melakukan pertama mereka. ?Diperkirakan awal Agustus ini mereka sudah akan panen,? kata Budi Retno Minulya, fasilitator pendampingan masyarakat desa Unit Fasilitasi Desa Warsi. Ke-31 orang petani tersebut menggarap lahan persawahan di Sawah Padang Bungur dengan luas sekitar 10 ha dan menyemaikan sekitar 200 Kg benih bibit. Panen pertama yang dilakukan oleh sekitar 26 orang petani tersebut menghasilkan lebih dari 15.500 Kg gabah kering.

Masih dari desa Jernih, petani lain yang menggarap lahan persawahan di Sawah Pematang Kecik yang menanam padi di atas areal seluas 24,5 ha diperkirakan juga akan melakukan panen pertama pada akhir minggu keempat Juli atau dalam minggu ini. Sedangkan petani di sawah Beringin yang luasnya hanya 4 ha, juga diperkirakan akan mendapatkan panen pertamanya dalam waktu dekat. Para tetua adat, ketua kelompok tani dan para petani sendiri mengaku sangat bersyukur mendapatkan panen pertama ini. ?kami sudah melakukan kegiatan upacara adat sebagai tanda syukur atas keberhasilan panen pertama ini,? kata Pak Sodri, Ketua Kelompok Tani di Sawah Padang Bungur, Desa Jernih. Dia berharap kerjasama antara Dinas Pertanian, PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) dan Warsi dengan didukung oleh Camat Pauh Henriman dan Bupati Sarolangun M. Madel tersebut dapat terus memberikan pembinaan dan pendampingan kepada para petani di desanya maupun didesa-desa disekitar TNBD sehingga di masa datang panen akan lebih baik lagi.

"Kalau panen berhasil dan kami dapat mengandalkan mata pencarian dari sini mungkin kami juga tidak akan pergi ke kawasan taman lagi untuk membuka ladang," kata dia.

Sementara di desa lain yakni desa Semurung, sebagian besar petani terutama yang membuka kembali areal persawahan mereka di Sawah Asam Bubuk dan Sawah Pematang diperkirakan juga akan melakukan panen pertama dalam waktu dekat yakni mulai minggu keempat Juli hingga akhir Agustus mendatang. Dan diharapkan sampai akhir Agustus tersebut seluruh petani padi sawah di kedua desa tersebut sudah akan mendapatkan panen pertama mereka. Panen pertama ini rata-rata dilakukan setelah benih bibit disemaikan sekitar 4 bulan lalu. Yang lebih membahagiakan para petani tersebut, menurut Bahar, sekretaris desa Semurung yang juga telah bersiap untuk panen pertama, kegiatan menggarap persawahan kembali secara bersama-sama telah mengeratkan hubungan kekeluargaan diantara sesama warga desa

"Hubungan kekerabatan sebagai sesama warga masyarakat menjadi semakin erat, mulai dari mancah, mengolah lahan, menabur benih sampai panen dilakukan secara intensif bersama-sama" kata Bahar yang juga merupakan ketua kelompok tani Desa Semurung yang cukup berpengaruh.

Memang, sebagian besar petani di desa-desa interaksi di bagian Selatan TNBD tersebut sudah sejak 3 tahun lalu meninggalkan lahan persawahan mereka dan beralih membuka sistem penanaman padi ladang di dalam kawasan TNBD. Yang memprihatinkan, dikalangan petani tersebut biasanya hanya akan melakukan maksimal 2 kali panen pada lahan perladangannya tersebut sebelum membuka ladang baru lainnya. Kondisi ini tentu saja mengakibatkan hancurnya hutan heterogen Bukit 12 yang sejak Agustus 2000 lalu ditetapkan sebagai Taman Nasional oleh pemerintah. Sejauh ini, menurut Kordinator Unit Fasilitasi Desa Diki Kurniawan kegiatan pembukaan ladang di kawasan TNBD sudah sangat jauh berkurang.

Di desa Jernih misalnya, tinggal 4 warga saja yang hingga saat ini masih membuka ladang di dalam kawasan tersebut. Begitu pula halnya dengan warga masyarakat di desa Semurung dan desa Baru yang dulu secara intensif melakukan pembukaan lahan perladangan berpindah di dalam kawasan TNBD. Kegiatan kembali ke sawah ini sesungguhnya sudah didukung oleh Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin dengan meresmikan dan mencanangkan dimulainya Gerakan Kembali Ke Sawah (GKS) pada akhir April lalu di desa Jernih. Gubernur Zulkifli Nurdin yang pada saat peresmian memberikan bantuan peralatan pertanian dan benih bibit kepada para petani tersebut, berjanji untuk melakukan perbaikan pada simpul-simpul irigasi dan perairan yang rusak berat. Para petani maupun PPL sendiri mengakui, kendala utama dalam membuka lahan persawahan di desa-desa interaksi tersebut, selain hama yakni tikus, babi dan ulat penggerek juga kendala air. Apalagi menjelang datangnya musim kemarau, yang saat ini sudah melanda sebagian wilayah di Indonesia, sehingga dinilai perlu untuk melakukan antisipasi terhadap saluran-saluran irigasi.(*)







Related news:
Comments: