NEWS RELEASE:

GKS, Alternatif Mengendalikan Laju Penebangan Liar

Upaya menggerakkan masyarakat desa agar bersedia kembali menggarap persawahan menjadi isu yang penting untuk dikemukakan guna menyelamatkan TNBD (Taman Nasional Bukit Duabelas) dari ancaman pembukaan ladang baru oleh masyarakat desa. Masalahnya karena di sebelah selatan Bukit 12, khususnya di desa Jernih dan Semurung, gerakan masyarakat membuka ladang-ladang baru semakin tinggi intensitasnya. Sejumlah masyarakat pembuka ladang baru di kawasan tersebut yang sempat dimintai pendapatnya oleh fasilitator Warsi Budi Retno Minulya menyatakan keengganan mereka bersawah disebabkan oleh beberapa factor. Diantaranya sarana irigasi yang tidak memadai, kondisi tanah yang berpasir, panasnya suhu air di sawah serta kesulitan dalam mengatasi hama tikus.

Di lain pihak ada faktor dominan yang sangat memancing minat masyarakat untuk berladang yakni tingginya tingkat curah hujan di kawasan Sungai Air Hitam (rata-rata 2 hari sekali dengan durasi antara 5-6 jam). Sementara aktiftas inti masyarakat yakni mengambil getah karet mengalami hambatan meskipun terjadi kenaikan harga karet dari Rp1500 per Kg menjadi Rp1700 per Kg. Kini, upaya untuk mengkampanyekan gerakan kembali ke sawah (GKS) dikalangan masyarakat desa Jernih dan Semurung antara lain dilakukan dengan pendekatan kepada kepala desa dan tokoh-tokoh masyarakat termasuk kalangan BPD. Budi Retno sendiri mengatakan pihak kepala desa dan aparat lainnya telah menyatakan dukungan mereka terhadap GKS. Misalnya saja dengan membuat perangkat peraturan dan kebijakan yang dapat mendukung GKS yang tertuang bentuk peraturan desa (perdes). Diantaranya petani wajib membuat pagar keliling di persawahan miliknya, peternak wajib mengikat ternaknya baik kerbau, sapi maupun kambing. Jika terjadi pengrusakan oleh ternak maka akan dikenakan denda Rp50.000 per ekor serta biaya pengganti kerusakan yang disebabkan oleh ternak tersebut. Selain itu, upaya untuk menggerakkan masyarakat agar mau kembali ke sawah juga disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : 1.80 % potensi persawahan di desa Jernih yang luasnya mencapai 1200 ha dimiliki oleh masyarakat. 2.Secara geofrafis letak persawahan tersebut berdekatan dengan pemukiman penduduk. 3.GKS diharapkan dapat mengatasi kesulitan masyarakat dalam mendapatkan beras yang akhir-akhir ini harganya sangat tinggi. 4.Upaya memanfaatkan saluran irigasi yang telah terbangun. 5.Adanya kebijakan dari pemerintah kabupaten Sarolangun untuk meningkatkan sektor pertanian khususnya persawahan. Menurut fasilitator Warsi di kawasan tersebut Budi Retno Minulya, seriusnya ancaman terhadap pembukaan ladang baru disekitar TNBD dapat dilihat dari semakin tingginya aktifitas piari?an (gotong royong). Kabarnya, sepanjang Maret 2002 saja sudah 3 kali dilakukan kegiatan piari?an yakni pada tanggal 5,12 dan 19 yang diikuti oleh sedikitnya 16 orang warga di kawasan Genting Tanah. "Aktifitas piari'an kemungkinan akan terus berlanjut hingga Agustus 2002 mendatang," ujar Budi.

Dia juga memperkirakan, akibat dari aktifitas yang tak terkendali ini, kemungkinan telah menyebabkan terjadinya erosi di 7 lokasi. ?Pada bulan ini disekitar desa Jernih tepatnya di dekat sungai Brangan terjadi erosi di 7 lokasi walaupun tidak berdampak signifikan terhadap ladang masyarakat,? kata dia. Sebaliknya, sebagian masyarakat khususnya di kawasan Sematang justru berargumen, meluapnya sungai Brangan-lah yang menjadi biang keladi erosi. Upaya lain yang dilakukan untuk mendukung GKS adalah dengan mengidentifikasi petani yang diharapkan dapat menjadi entry point dalam propaganda GKS. Selain itu dilakukan pendekatan dan pembinaan kepada para anggota kelompok tani melalui kordinasi dengan PPL dan BPP serta upaya mendapatkan dukungan yang bersifat politis dari otoritas pemerintahan daerah seperti Bupati dan unit KSDA. Bukti konkritnya menurut Budi, aktifitas kembali ke sawah pada 2 kelompok tani yakni di Sawah Padang Bungur dan Pematang kecik cenderung meningkat.

Sementara berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat GKS seperti upaya pengadaan bibit, kendala hama ulat, kebutuhan pestisida sampai permasalahan dengan kerbau milik peternak yang seringkali merusak sawah petani telah dirembukkan bersama diantara perangkat desa dan masyarakat dengan melibatkan fasilitator Warsi. ?Dari diskusi dan rembukan tadi semua permasalahan sudah dapat dicarikan jalan keluarnya,? kata Budi. Sementara itu, yang tak kalah penting adalah dapat segera terealisasinya bantuan-bantuan yang terkait dengan usaha-usaha persawahan terutama untuk desa-desa yang memiliki potensi persawahan tadi. Menurut Budi Retno, kabarnya akan ada bantuan dana dari luar negeri untuk pembangunan sarana irigasi di desa Jernih dimana Dinas Pengairan Propinsi Jambi akan bertindak selaku penanggung jawab proyek. (IRS)







Related news:
Comments: