NEWS RELEASE:

Harimau Mati Kesetrum

Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditemukan mati di salah satu perkebunan sawit warga Desa Air Hitam laut, parit 6 Kecamatan Sadu Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Harimau jantan dewasa ini kondisinya utuh dan dipastikan mati karena tersengat pagar listrik kebun masyarakat. Ini dijelaskan Tri Siswo, Kepala BKSDA Provinsi Jambi, ?Kita sudah pastikan kematian harimau jantan yang memiliki panjang 152 cm dan tinggi 82 cm ini murni kesentrum pagar kawat listrik masyarakat? paparnya, Rabu (23/3).

Ditambahkannya, masyarakat memberitahu tim BKSDA di lapangan pada 21 Maret 2011 dengan bekas luka bergaris akibat kawat listrik di bagian iga atas sebelah kiri sepanjang 32 cm. Rencananya harimau bangkai harimau tersebut akan diawetkan dan disumbangkan ke museum sebagai media pendidikan. ?Harimaunya saat ini masih diotopsi dan akan diawetkan?, tambah Tri Siswo.

Senada dengan itu, Ir Hazrin, Kepala Laboratorium Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jambi, menduga harimau ini mati akibat tersengat listrik atau keracunan. Hal ini dapat dilihat adanya darah yang keluar dari mulut harimau tersebut, yang diakibatkan pecahnya pembuluh darah. ?Hasilnya bisa dipastikan jum?at besok, namun dugaan awal harimau ini mati memang karena kesentrum? ujarnya melalui telepon selular.

Harimau Kedua

Berdasarkan data BKSDA Provinsi Jambi selama dua bulan terakhir ini, penemuan harimau mati merupakan yang kedua kali. Kejadian pertama, 16 Februari 2011 di Desa Air Hitam Laut, parit 1 Kecamatan Sadu Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Diduga penyebabnya sama, yaitu kesetrum pagar listrik yang dipasang oleh masyarakat.

Kematian harimau dalam kawasan yang sama, jangka waktu yang berdekatan serta motif yang sama ini dikatakan Tri Siswo, bahwa tim nya akan menggandeng aparat untuk mensosialisasikan pelarangan penggunaan kawat listrik sebagai pengamanan kebun.? Kalau yang pertama kita hanya menemukan kuburannya saja yang hanya berisi tulang- belulang serta kulit nya seluas kepalan tangan. Karena semua organ-organ yang lain sudah lenyap?, imbuhnya.

Terkait kejadian ini, Manager Komunikasi KKI Warsi Rudi Syaf menghimbau semua pihak untuk memperhatikan ruang hidup satwa-satwa besar yang keberadaannya sebagai penanda keseimbangan ekosistem. ?Ruang pemanfaatan yang semakin sempit, terutama akibat kegiatan investasi dalam skala besar yang bersifat masif disektor perkebunan, kehutanan dan pertambangan, yang dilakukan pemilik modal besar. Kehadiran investasi ini cenderung mengabaikan keberadaan satwa-satwa mamalia besar seperti harimau, gajah dan badak, yang membutuhkan ruang hidup cukup luas,?katanya.

Apalagi, perusahaan membuat sistem proteksi untuk melindungi areal mereka, seperti parit dalam untuk menghadang gajah, atau menggunakan pagar listrik dengan sistem kejut untuk mengusir satwa lainnya. Akibatnya sasaran satwa ini adalah kebun-kebun masyarakat, dan akhirnya terjadi benturan. ?Pada akhirnya yang menjadi korban adalah satwa dan masyarakat disekitar hutan yang umumnya miskin. Sedangkan pemilik modal besar. Jauh lebih aman dari ?gangguan? satwa ini,?lanjut Rudi. Untuk itu, menurutnya, Warsi menghimbau pemerintah untuk memberikan ruang hidup bagi satwa dengan tidak lagi membuka kawasan habitat mereka.
***





Related news:
Comments: