NEWS RELEASE:

Anak Rimba Kunjungi Sekolah

Kerusakan hutan yang semakin meningkat dari tahun ke tahunnya tidak hanya mengancam kehancuran keanekaragaman hayati, namun juga masyarakat yang ada di dalam dan di sekitar hutan yang selama ini menggantungkan hidupnya terhadap sumber daya alam yang ada di hutan. Hingga pada tahun 2000-an tutupan hutan Jambi yang tersisa hanya berkisar 1,6 juta hektar termasuk empat taman nasional yang ada di daerah itu, yakni Taman Nasional Kerinci Seblat, Berbak, Bukit Dua Belas dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Dampak nya kini menjadi persoalan baru yang menyentuh seluruh sendi kehidupan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan, akan langsung merasakan akibat dari tingginya laju kerusakan hutan ini. Salah satu, masyarakat yang sangat menggantungkan hidupnya pada hutan, yaitu Orang Rimba yang hidup menyebar di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Mereka dengan adat dan kebudayaan yang dimiliki telah membantu menjaga kelestarian hutan.

Melatarbelakangi hal tersebut, KKI Warsi, Greenpeace Indonesia dan Walhi menginisiasi kegiatan kampanye ke beberapa sekolah di Kota Jambi dengan melibatkan Orang Rimba dalam upaya penyelamatan kawasan hutan tersisa. Dicky Kurniawan, selaku manager kebijakan dan advokasi KKI Warsi meyebutkan kegiatan ini akan dilangsungkan selama 5 hari yang terdiri dari kunjungan ke beberapa sekolah, pameran foto, workshop, sepeda sanatai hingga beberapa peerlombaan yang melibatkan anak-anak sekolah. “Kita bersama teman-teman di Greenpeace dan Walhi dijadwalkan akan mengadakan kunjungan ke tiga sekolah yaitu, SMAN 1 Jambi, SMAN 5 Jambi dan SMA Xaverius selama tiga hari berturut-turut. Dan setelah itu akan dilanjutkan dengan pameran foto, workshop fotogoraphi dan sosial media, pentas seni dan musik sepeda santai serta berbagai perlombaan untuk tingkat anak-anak seperti lomba mewarnai kartu pos“, jelasnya.

Kegiatan yang baru dimulai hari ini, dengan melibatkan siswa-siswi SMAN 1 Jambi ini terlihat sangat antusias. Dimulai dari pemutaran film dokumenter yang menceritakan kerusakan hutan serta dilanjutkan dengan penuturan Orang Rimba tentang hutan sebagai rumah dan sumber penghidupan mereka. Tembuku, salah seorang anak rimba yang secara langsung menjelasakan bagaimana dia dan komunitasnya dapat bertahan hidup dan semakin terjepit dengan tingginya alih fungsi hutan menjadi perkebunan perusahaan dan masyarakat.“Nama saya tembuku, saya Orang Rimba. Sehari-hari kami hidup di hutan memiliki mata pencaharian, mencari jernang, rotan dan juga berburu kancil dan babi. Dulu, ketika hutan masih baik, sehari kami sekelompok bisa mendapatkan 1 kg jernang dan itu harganya mencapai 900 ribu. Sekarang dengan kondisi hutan yang rusak, jernang yang didapat hanya berapa gr saja“, ungkapnya.

Di sela-sela acara terdapat juga sesi tanya jawab, beberapa anak berpartisipasi dengan memberikan sejumlah pertanyaan. M. Hanif, salah seorang siswa juga menanyakan dengan mengetahui kondisi hutan yang semakin rusak saat ini, apakah Orang Rimba memiliki upaya dalam penyelamatan hutan kembali khususnya di sekitar kawasan hidup mereka. Mendengar pertanyaan ini sontak saja, Tembeku menyebutkan bahwa selama ini upaya yang mereka lakukan dengan mengajak beberapa anak sekolah di Kabupaten Sarolangun yang tergabung dalam sahabat bukit 12 untuk melakukan upaya penanaman kembali lahan yang sudah ditebangi dengan berbagai jenis tanaman kayu seperti, meranti, surian dan bulian.

Kegiatan yang bertujuan dalam penyampaian informasi dan upaya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai dampak dari pengrusakan hutan. Seperti yang disebutkan Danang, selaku Koordinator sukarelawan Greenpeace, bahwa penyelamatan hutan dengan menjadikan hutan sebagai rumah kita semua. “ Dengan menitik beratkan hutan sebagai “rumah“ bagi kita semua, bagi Satwa yang dilindungi diantaranya Harimau sumatera, gajah sumatera serta species lainnnya. Dan tidak hanya itu hutan juga menjadi “rumah“ bagi masyarakat adat yang selama ini menggantungkan hidupnya pada hutan. Serta nantinya diharapkan timbulnya kesadaran yang mengibaratkan hutan juga menjadi “rumah“ bagi kita semua. Greenpeace sendiri sudah memulai upaya penyelamatan hutan, sebagai “rumah“ bagi Harimau yang sudah dimulai melalui tour mata harimau, guna mengajak masyarakat melihat kerusakan hutan yang terjadi diakibatkan perusahaan-perusahaan yang mengalihfungsikan hutan menjadi tanaman monokultur“ terangnya.

Diakhir acara, Tembuku juga mengajak seluruh para pelajar yang hadir saat itu untuk lebih peduli pada hutan dan melakukan upaya-upaya bagi penyelamatan hutan.

***





Related news:
Comments: