NEWS RELEASE:

Sembilan Tahun Pendidikan Rimba

Hasilkan Buku ?kisah-kisah Anak Rimba?
Membaca koran, menjadi salah satu kegemaran anak-anak rimba di Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi. Meski koran yang mereka baca bukan koran terbitan terbaru, tapi yang jelas mereka sangat suka membacanya, demikian juga ketika dibawakan buku-buku cerita, mereka akan berebut untuk membaca duluan, ujung-ujungnya karena tidak sabar untuk menunggu giliran, akhirnya mereka akan membaca secara berkelompok.

Demikianlah para anak rimba di TNBD, kini mereka telah memiliki kemampuan untuk membaca, menulis dan berhitung. Kemampuan anak-anak rimba ini tidak lepas dari peran KKI Warsi yang sejak tahun 1998 lalu merintis pendidikan alternatif bagi mereka. Melalui fasilitator pendidikan Yusak Adrian Hutapea, pendidikan alternatif ditawarkan kepada Orang Rimba. Pendidikan yang diberikan adalah baca, tulis dan hitung. Pilihan ini diambil berdasarkan kebutuhan Orang Rimba. Ditipu karena tidak bisa membaca atau menghitung dengan baik sudah sering menimpa Orang Rimba, ini salah satu alasan pentingnya memberikan pendidikan bagi Orang Rimba. Selain itu tentu saja memberantas buta aksara, karena Orang Rimba juga warga negara yang berhak mendapatkan pendidikan, namun selama ini mereka belum tersentuh oleh pendidikan formal yang diberikan pemerintah.

Mengenalkan anak rimba pada pendidikan bukanlah hal mudah. Kedatangan Yusak kerap di tolak Orang Rimba. Karena bagi mereka, Orang luar adalah sumber penyakit yang bisa menulari mereka. Namun Yusak terus berjuang melakukan pendekatan demi pendekatan, sehingga dalam tahun pertama tercatat enam orang rimba yang mulai mengikuti pendidikan. Sayangnya perjuangan Yusak harus terhenti setelah dia menyerah pada malaria yang menyerang tubuhnya hingga menghadap yang Maha Kuasa. Secara berurutan fasilitator pendidikan rimba dilanjutkan oleh Saur Marlina ?Butet? Manurung (Oktober 1999?September 2003). Dimasa ini, juga dirintis pendidikan untuk perempuan rimba. Oceu Apristawijaya (September 2002?Desember 2003), Saripul Alamsyah Siregar (September 2003?Januari 2005), Agustina D. Siahaan (September 2003 ? April 2005), Ninuk Setya Utami (Januari 2005? Desember 2006), Fery Apriadi (Januari 2005 ? sekarang) dan Galih Sekar Tyas Sandra (Juni 2006 ? sekarang). Selama 17 hari dalam sebulan, para guru rimba ini akan bermukim bersama komunitas Orang Rimba, menghidupkan genoh pelajoran (sekolah rimba).

Fasilitator pendidikan rimba ini juga akan berpindah mengikuti murid-muridnya ketika mereka tengah belangun (berpindah tempat karena kematian). Selain itu, para fasilitator ini juga akan membagi waktu untuk mengarungi Taman Nasional Bukit Dua Belas untuk mengunjungi kelompok-kelompok Orang Rimba lainnya yang hidup menyebar di dalam kawasan seluas 60.500 hektar ini. Di setiap kelompok yang dikunjungi fasilitator akan dibuatkan genah pelojoron (rumah sekolah) yang dibuat secara sederhana, beratapkan terpal, berlantaikan kulit kayu atau kayu-kayu kecil dan tanpa dinding Papan tulisnya juga dibuat sederhana dan kecil sehingga mudah dibawa fasilitator untuk mengunjungi murid-muridnya. Aturan sekolah pun disesuaikan dengan kebiasaan Orang Rimba dan dibuat berdasarkan kesepakatan bersama antara para penghulu (tetua adat Orang Rimba) dengan fasilitator.

Anak-anak yang mengikuti pelajaranpun tanpa mengenakan seragam dan tanpa duduk di bangku, kadang mereka belajar sambil lesehan dan kadang juga sambil tiduran. Pakaiannya pun masih mengenakan pakaian ala Orang Rimba, hanya cawat untuk laki-laki dan kain kemben untuk anak perempuan. Waktu belajarnya disesuaikan dengan kemauan anak dan ketersediaan waktu mereka. Jika pagi anak-anak harus membantu orang tuanya mengumpulkan makanan, maka jam belajarnya diadakan setelah itu. Bahkan kadang mereka juga belajar sampai malam hari walaupun tanpa ada penerangan yang mencukupi, hanya cahaya lilin yang menemani mereka. Itu semua tidak menyurutkan langkah mereka untuk belajar dan terus belajar.

Hingga kini tercatat 226 orang yang telah mengikuti program pendidikan yang terdiri dari 27 orang perempuan dan 199 laki-laki. Dengan 44 kader-kader guru rimba?anak-anak rimba yang dianggap mampu dan punya kemauan keras untuk mengajar (tentang Baca Tulis dan Hitung)--, yang ikut mengajar anak-anak rimba lainnya.

Untuk melatih kemampuan anak-anak rimba membaca, fasilitator kerap membawakan mereka koran dan buku. Sedangkan untuk melatih kemampuan mereka menulis anak-anak rimba ini akan menulis surat kepada staf warsi. Banyak hal yang mereka tulis dan sampaikan. Dengan kemampuan anak rimba yang semakin baik baca tulis ini, muncullah ide untuk mendokumentasikan cerita-cerita dongeng yang berkembang ditengah Orang Rimba. Anak-anak rimbapun mulai menuliskan cerita yang pernah mereka dengar. Selain melatih kemampuan menulis, penulisan dongeng ini juga untuk melatih kemampuan imajinasi mereka. Hingga terbitlah buku berjudul ?Kisah-kisah Anak Rimba?. Buku yang berisi 10 cerita dongeng yang ditulis oleh 5 orang anak rimba.

Ada cerita Berok dengan kotom yang ditulis oleh Gelincak, anak rimba yang telah mengikuti pendidikan pada tahun 2000 lalu. Gelincak menuliskan kisah Boruk dengan kotom. Cerita ini mengangkat kisah kera dengan kepiting. Kera yang rakus dan tidak punya rasa setia kawan. Beruk berpuas diri menghabiskan makanan tanpa membaginya kepada kepiting yang telah kelaparan. Akibatnya kepiting menjepit sang kera, yang mengakibatkan kera marah. Kemudian membanting kepiting ke dalam sungai, kera beranggapan bahwa kepiting akan mati ketika masuk ke sungai. Sebaliknya kepiting malah tertawa ketika dibanting ke sungai karena dia akan kembali ke habitatnya.

Anak-anak rimba yang menulis buku ini, secara umum mewakili murid-murid warsi dari generasi pertama yang menerima pendidikan hingga ke generasi yang paling muda. Gelincak termasuk generasi pertama Orang Rimba yang menerima pendidikan, sedangkan generasi termuda diwakili oleh Nelikad yang kini berusia 11 tahun. Dalam penulisan dongeng rimba ini, mereka menuliskan dongeng dengan alur dan bahasa yang sederhana sehingga mudah di pahami. Selain itu, penggunaan bahasa-bahasa rimba di dalam buku ini juga sangat terasa, misalnya untuk penamaan makhluk yang menjadi aktor dalam cerita tersebut.***
***





Related news:
Comments: