NEWS RELEASE:

Sumbar kini memiliki Pohon Asuh

“Program Pohon Asuh merupakan upaya menjaga lingkungan dan mendukung pembangunan masyarakat desa,” kata Emmy Primadona Koordinator Program WARSI di sela-sela peluncuran Program Pohon Asuh di Sumatera Barat, Kamis lalu.

Dikatakannya, ide pengasuhan pohon ini muncul dari keprihatinan akan kelanjutan pengelolaan sumber daya hutan. Masyarakat sudah mengelola hutannya dengan baik, mencegah masuknya pelaku illegal logging pada kawasan hutan. Namun kemudian setelah masyararakat nerhasil menjaga hutannya, masyarakat berhak untuk mendapatkan penmghargaan atau reward yang sudah mengelola hutannya. “Berangkat dari sini, kami kemudian melihat ada peluang publik untuk terlibat melalui pengasuhan pohon. Cukup dengan donasi Rp 200.000 perpohon per tahun, publik bisa langsung memilih pohon yang mengirimkan donasinya ke rekening pohon asuh yang kemudian akan disalurkan ke masing-masing kelompok pengelola hutan nagari,”sebut Emmy.

Dikatakannya, untuk mendaftarkan diri sebagai calon pengasuh pohon juga tak perlu melewati birokasi yang berbelit. Pendaftaran bisa dilakukan dengan mengunjungi website www.pohonasuh.org. Di sini calon pengasuh bisa melihat langsung data-data pohon yang akan diasuh. Mulai dari data jenis pohon, ukuran diameter, koordinat hingga foto pohon yang ingin diadopsi. Begitu bergabung sebagai pangasuh pohon, masing-masing orang akan menerima sertifikat sebagai bukti telah melakukan pengasuhan pohon. Selain itu pengasuh juga akan mendapatkan informasi pohon miliknya dari pihak pengelola yang dilakukan setiap enam bulan sekali.

“Pohon yang diasuh ini berada di dalam dalam kawasan hutan nagari yang mereka jaga dengan baik. Jenis pohonnya pun beragam. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan KKI WARSI bersama masyarakat nagari, terdiri dari jenis Paniang, tembesu, tambago, medang lado dan lainnya, calon pengadopsi bisa memilih jenis yang diinginkan,”sebut Emmy.

Dana yang terkumpul dari pengelolaan pohon asuh ini, digunakan untuk pembiayaan kegiatan pengelolaan hutan adat dan sebagian lagi untuk pembangunan sarana umum di nagari.

Ketua kelompok pengelola hutan nagari Sirukam Buktiar menyebutkan bahwa masyarakat Nagari Sirukam telah mempertahankan hutannya dari gempuran illegal logging. Awalnya tidak terpikir untuk mengasuh pohon, karena hutan yang terpelihara saja sudah sangat bermanfaat paling tidak mencegah bencana ekologis, hanya saja ketika ada nilai lebih dari upaya yang kami lakukan apalagi kami sudah memiliki SK Hutan Nagari tentu program pohon asuh sangat baik untuk kami,”sebut buktiar.

Apalagi katanya, meski masih terbilang baru, sudah ada dana yang terkumpul dan kini akan segera di kelola oleh masyarakat nagari. “Apalagi kami sangat beruntung salah satu pengasuh pohon di nagari kami untuk mempertahankan dan mengelola hutan mereka adalah melalui program pohon asuh. Melalui pohon asuh diharapkan akan semakin banyak pengasuh pohon yang peduli akan kelestarian hutan dan lingkungan dengan mengkontribusikan dana mereka untuk pengelolaan hutan tempat pohon yang mereka asuh,” sebut Buktiar.

Beberapa waktu lalu pada saat prelaunching, hutan nagari di Sumatera Barat diikutsertakan dalam ajang Ku lari ke hutan, sebuah program lari yang berhadiah satu pohon ketika satu pelari mampu mencapai jarak 5 km. Pada ajang ini banyak artis terkenal yang ikut diantaranya Dian Sastro Wardoyo yang mendapatkan hadiah sebagai pengasuh pohon di Sirukam dan Daniel Mananta yang meraih hadiah mengasuh pohon di Sungai Buluh.

Dengan kepedulian pengasuhan pohon ini harapannya hutan nagari di Sumatera barat semakin berkembang. Saat ini tercatat 11 hutan nagari di Sumatera Barat dan 66 nagari tengah berproses untuk memperoleh izin dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
***





Related news:
Comments: