NEWS RELEASE:

Hompongon, Membawa Temenggung Tarib Ke Istana

(sekilas Tentang Termenggung Tarib Yang Menerima Penghargaan Kaplataru)
Temenggung Tarip adalah salah satu dari delapan Temenggung (pemimpin) Orang Rimba yang hidup di pedalaman hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD). Dikawasan TNBD hidup sekitar 1.500 orang yang menyebar secara berkelompok di seluruh kawasan. Orang Rimba memanfaatkan sumber daya hasil hutan secara sederhana untuk kebutuhan subsistensi misalnya berburu dan meramu hasil hutan yang diselingi perladangan sederhana. Banyak dari pemanfaatan kawasan hutan ini sangat berkaitan dengan aspek-aspek budaya, ritual dan pengobatan tradisional. Misalnya pohon-pohon tertentu telah ditandai sebagai perlambang kehidupan setiap individu Orang Rimba. Sedangkan persembahan terhadap Bahelo (Tuhan Maha Kuasa) dilakukan dengan mempersembahkan ratusan jenis bunga-bungaan. Karena itu sebagaimana di ungkapkan Temenggung Tarib ?Ado rimba ado bunga, ado bunga ado dewo. Hopi ado rimba hopi ado bunga, hopi ado bunga hopi ado dewo?(Ada rimba ada bunga, ada bunga ada dewa, tidak ada rimba tidak ada bunga, tidak ada bunga tidak ada dewa)


Orang Rimba merupakan suku asli yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Kawasan yang luasnya 60.500 ha ini telah di diami komunitas Orang Rimba sejak nenek moyangnya dan merupakan tersisa hutan sekarang ini dari keseluruhan kawasan pengembaraan suku Orang Rimba dimasa lalu. Tingginya laju deforestasi dan konversi kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan telah menjadikan sebagian besar Orang Rimba menjadi sangat marginal karena kehilangan hak atas sumber daya dan tanah. Karena itu hutan dalam kawasan TNBD menjadi sentra terakhir keberlanjutan budaya dan penghidupan Orang Rimba. Karena itu Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin mengusulkan kawasan hutan tersisa ini menjadi kawasan Penghidupan Orang Rimba dan di setujui Menteri Kehutanan sebagai wilayah penghidupan dan kehidupan Orang Rimba melalui SK 258/Kpts-II/2000 Agustus 2000.


Perjalanan panjang perjuangan kawasan hutan di Bukit duabelas untuk menjadi kawasan hak hidup Orang Rimba tidak terlepas dari sejarah dan peran Temenggung Tarib. Nama Tarip sendiri diberikan oleh para dukun rimba terdahulu yang bermakna ?kearifan?, yang berarti tempat berkumpulnya segala kebaikan dan kebajikan. Ia adalah salah seorang Temenggung Orang Rimba (50 tahun) yang sangat gigih dalam memperjuangkan kawasan hutannya. Pemimpin kelompok Orang Rimba di Sungai Pakuaji, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun ini, bagai tak bisa dipisahkan dari Taman Nasional Bukit Duabelas: Orang Rimba butuh TNBD yang menyimpan sumberdaya pencarian mereka, dan sebaliknya, TNBD juga butuh pelestarian dan pengamanan dari mereka.


Kegigihan dalam mempertahankan TNBD itu yang membawa Temenggung Tarib dan kelompoknya mendapat penghargaan, Kalpataru 2006 dari Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia yang diserahkan langsung oleh Presiden Bapak SBY di istana negara. Anugerah itu diberikan karena menilai Tarib, bersama anggota kelompoknya, melakukan kegiatan yang mampu menyelamatkan hutan alam dan keanekaragaman hayati yang ada di dalam dan sekitar TNBD.


Dalam menyelamatkan TNBD, kegiatan yang dilakukan kelompok tumenggung ini sudah menjadi bagian dari kehidupan Orang Rimba secara umum. Mereka membuka ladang, yang ditanami padi atau umbi-umbian dikawasan sekitar taman. Setelah satu kali masa panen, ladang itu ditanami karet. Cara pembukaan ladang dilakukan dengan pola hompongon, yakni berbanjar, menyisir batas taman. Hompongon itu bagaikan benteng yang menghalangi kegiatan orang luar yang ingin membuka ladang atau melakukan pembalakan liar di dalam taman.


Cara ?pemagaran? taman dengan sistem hompongon yang dilakukan oleh Temenggung Tarib bersama 23 kk anggota kelompoknya dan kini juga telah dilakukan dan berkembang di kelompok Orang Rimba lainnya. Tidak kurang dari 120 KK Orang Rimba TNBD telah membukan hompongon dengan luas mencapai 100 ha. Membuat hompongan ini selain untuk membatasi tekanan masyarakat luar terhadap taman, juga untuk mempersiapkan sumber daya di masa depan Orang Rimba. Hompongon juga sebagai salah satu alat untuk memperkuat posisi Orang Rimba dalam mempertahankan hak-haknya di dalam TNBD.

Hompongon adalah cara ?pemagaran? taman nasional yang dilakukan oleh Temenggung Tarib bersama 23 kk anggota kelompoknya dan kini juga telah dilakukan dan berkembang di kelompok Orang Rimba lainnya. Hompongon memang sangat berarti bagi Orang Rimba dalam mempertahankan hutan di TNBD. Dengan adanya hompongon, orang luar terhalang untuk berladang masuk hutan/merambah TNBD. Sebab sudah ada kesepakatan adat yang dilakukan Orang Rimba dengan masyarakat desa. "Bilo ado urang terang ndok masuk ke dalom rimba kami, biso didendo adat (Kalau ada orang terang-- dari luar kelompok Orang Rimba-- masuk berladang melewati ladang kami, akan kena denda adat)," tegas Tarib soal sanksi bagi yang melanggar.



Pembuatan Hompongan yang dilakukan oleh Orang Rimba ini juga tidak lepas dari peran serta KKI Warsi yang telah sejak 1997 aktif mendamping Orang Rimba untuk memperoleh hak-hak mereka secara lebih adil.


Kegigihan dalam mempertahankan keragaman hayati serta pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan ini pula yang menjadikan Temengung Tarib dan kelompoknya pada dianugrahi Kehati Award oleh Yayasan Kehati, pada tahun 2000 lalu. Ayah delapan anak dari dua isteri (yang satu cerai) ini, memanfaatkan aneka jenis tanaman dalam taman, dengan tetap menjaga siklus pertumbuhannya. Di antaranya rotan, damar, jernang, getah, jelutung. Tumbuhan di dalam rimba ini juga dimanfaatkan oleh orang Rimba untuk menyembuhkan berbagai penyakit, baik yang diderita anggota kelompok dan penduduk desa sekitar. Untuk pengobatan, Tarib memang seorang dukun Orang Rimba. Ia meramu dan meracik berbagai tumbuhan obat yang ada di dalam dan sekitar taman. Menurut temuan tim biota medika, yang meneliti akhir 1998 lalu, terdapat 137 biota obat: berupa tumbuhan, jamur hingga hewan. Tarib masuk dalam tim yang berasal LIPI, Depkes, UI serta IPB, dan menjadi penunjuk jenis biota yang sebagian memang sudah langka.


Karena konsistensi dan kegigihan ini juga serta telah menjadi contoh bagi komunitas Orang Rimba lainnya, BKSDA Jambi sebagai pengelola TNBD telah mengangkat beliau sebagai salah seorang kader konservasi.


Tumenggung Tarib dan kelompoknya yang mendiami di sisi Selatan TNBD yang berbatasan dengan ladang penduduk desa, kebun kelapa sawit dan permukiman transmigrasi atau hanya tinggal hanya 1-3 km dari perkebunan sawit dan desa terdekat tetap mempertahankan jati dirinya sebagai Orang Rimba. Namun bukan berarti ia dan kelompok orang rimba lainnya menolak semua kebudyaan yang berasal dari luar. Mereka secara selektif dapat menerima berbagai perubahan yang mereka anggap penting bagi peningkatan sumber daya manusia Orang Rimba.


Orang Rimba juga menerima pendidikan dan mulai mengenal pengobatan modern, asal sesuai dengan kehidupan Orang Rimba, seperti yang difasilitasi oleh KKI Warsi. Orang Rimba telah mulai menyadari pentingnya pendidikan, BTH (Baca, Tulis Hitung), telah menjadi trend baru dikalangan Orang Rimba terutama anak-anak. Hal ini dilakukan Orang Rimba supaya mereka tidak lagi dibodohi dalam hal pemasaran hasil hutan non kayu yang menjadi mata pencaharian mereka oleh orang luar.


Tak hanya itu, Temenggung Tarib kini juga membantu kelompoknya dalam memasarkan hasil hutan non-kayu seperti rotan, damar, jernang dan lainnya. Ia berharap ke depan Oran Rimba tidak lagi di eksploitasi orang luar pihak-pihak luar.


Namun betapun gigihnya Temenggung Tarib dan kelompoknya dalam mempertahankan hutan, mereka tetap miris melihat penebangan kayu dan perambahan lahan yang dilakukan pihak luar yang selalu mendominasi dan bersikap dan berprasangka negatif terhadap Orang Rimba. Berbagai perundingan dan perjanjian telah dilakukan dengan kelompok pengeksploitasi, namun tetap saja pihak luar ingin memperebutkan TNBD untuk diambil kayu dan lahan secara illegal. Hampir dalam setiap pertemuan dengan pemerintah Temenggung Tarib dan Temenggung lainnya selalu menyampaikan harapan komunitas Orang Rimba TNBD untuk memohon perlindungan, agar hutan mereka tetap terjaga. Moment anugrah Kalpataru ini, juga menjadi harapan baru bagi Kumunitas Orang Rimba TNBD kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan dan melindungi kawasan.


Salah satu bagian dari pengelolaan dan pengamanan taman telah disepakati antara Orang Rimba dengan BKSDA Jambi yang baru saja dilakukan pertemuannya di kantor BKSDA Jambi. Pertemuan ini semakin memperkuat landasan kerja sama antara pihak pemerintah dalam hal ini pengelolan kawasan dengan kelompok-kelompok komunitas Orang Rimba. Harapan Orang Rimba ke depan adalah bagaimana pengelolaan barsama yang partsipatif dakan dikembangkan untuk perlindungan hak dan sumber daya Orang Rimba di dalam TNBD.


Begitulah Tarib. Ia tidak tampak gelisah, meski Orang Rimba sudah gerah karena luas hutan sebagai kawasan hidup mereka makin berkurang. Tutur katanya tetap bersahaja, tanpa emosi, meski nadanya kadang-kadang meninggi, dalam menyuarakan aspirasi kelompoknya. Ia bagai mewakili alam Bukit Duabelas, yang memang tidak pernah memarahi para penjarah yang terus-menerus menggerus hutan yang tersisa, hanya berharap ada pihak-pihak yang peduli dan ikut serta mempertahankan keberadaan hutan yang menjadi urat nadi kehidupan mereka.


Ia sadar, sebagian kecil penjarah adalah orang-orang di sekitar cagar yang butuh makan. Mustahil, kata Tarib, ia bersama anggota kelompoknya, akan berhadapan secara frontal dengan masyarakat yang selama ini hidup bertetangga, dan berlangsung rukun. "Kami tidak marah sama mereka, tapi pada pengusaha, yang ngambik kayu pakai sinso, membawanya pakai doser (buldozer, red.) dan truk keluar. Mereka ngambik semua tanpa menyisakan kayu yang kecik-kecik. Kalau orang dusun hanyo untuk biso makan," paparnya. Tarib juga tidak memalingkan muka ketika ada anggotanya, yang sudah menjadi orang dusun, ikut terlibat. "Ado jugo Orang Rimba yang ngambik, tapi itu yang sudah dicampok adat dan kini bukan lagi anggota kami."


Orang Rimba memang masih bercawat dan tinggal di hutan. Tapi mereka punya kearifan memelihara hutan, agar tetap lestari. Penghargaan Kalpataru ini sudah membuktikan. Perjuangan itu akan menjadi catatan sejarah yang akan mereka kenang, setidaknya oleh semua Orang Rimba di TNBD.(Rober Aritonang, Program Koordinator KKI Warsi ) ***
***





Related news:
Comments: