Select Page

Setelah melewati proses magang selama hampir 2 bulan lebih, 5 mahasiswa magang yang berasal dari Universitas Negeri Padang mempresentasikan hasil kegiatan lapangan, sekaligus menandai berakhirnya masa magang mereka di KKI Warsi, senin 26 Agustus 2019 bertempat di kantor lapangan KKI Warsi Padang. Kelima 5 mahasiswa magang yang berasal dari jurusan geografi UNP ini adalah Rafika, Nurfajri, Rahmat Alfayad, Mimi Yulia dan Anggi Erliza. Proses yang mereka ikuti dari awal hingga magang berakhir, diawali semenjak bulan mei lalu dengan mangajukan surat permohonan magang di KKI Warsi. Pasca surat permohonan magang di setujui, proses magang pun dimulai pada akhir juni.

“Kegiatan magang mahasiswa UNP ini dimulai sejak akhir juni lalu. Mekanisme yang pertama kali dibangun adalah mengadakan diskusi awal untuk menjelaskan isu yang dibahas Warsi terkait Perhutanan Sosial, Konservasi, peningkatan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan, serta menjelaskan bagaimana dinamika berkegiatan di KKI Warsi,” jelas Asrul Aziz Sigalingging, selaku Koordinator Lapangan KKI Warsi.

“Masing-masing mereka diikut sertakan membantu kegiatan lapangan fasilitator KKI Warsi, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas keilmuan atau lapangan yang dimiliki, namun secara umum karena memiliki latar belakang keilmuan geografi, mereka difokuskan pada membantu kegiatan pemetaan dan analisis keruangan pada kawasan hutan maupun masyarakat di sekitar hutan,” sambung Aziz.

Rafika, mahasiswa magang UNP, dalam presentasi hasil kegiatan lapangan, menjelaskan terkait kegiatan pemetaan/penitikan (GPS/Global Positioning System) yang dilakukannya di Nagari Rangkiang Luluih dan turut membantu menitik jalur (tracking) ke lokasi pemasangan “Guardian,” alat pemantau dan pengamanan kawasan hutan.

“Kegiatan yang saya lakukan berfokus di Solok, mengikuti fasilitator pendamping KKI Warsi, Bang Beni (Beni Dahna). Di Nagari Rangkiang Luluih, saya membantu melakukan penitikan lokasi potensi jasling/ekowisata di Jorong Kapujan. Bersamaan dengan kegiatan pemasangan “guardian” di Sirukam, juga telah dibuat jalur tracking menuju lokasi pemasangan dan di laporan sudah ada analisis peta, sejauh mana “guardian” mampu mendeteksi suara yang ada dihutan,”  jelas Rafika.

Selain itu, hasil dari kegiatan yang dilakukan mahasiswa magang sangat membantu kegiatan lapangan fasilitator komunitas KKI Warsi.

“Hasil dari penitikan lokasi potensi Jasling/Ekowisata akan membantu dalam upaya pengembangan wisata budaya, eduwisata, dan ekowisata di nagari Rangkiang Luluih. Sekaligus menjadi bahan advokasi dalam pengusulan Hutan Nagari Rangkiang Luluih yang sampai saat ini masih terhambat,” tambah Beni Dahna.

Berbeda dari kegiatan Rafika, kegiatan yang diikuti Fayad lebih difokuskan pada Potensi Ruang Mikro (PRM) yang merupakan salah satu inisiatif yang dikembangkan Warsi untuk membantu Pemerintah Nagari dalam menyusun rencana pembangungan Nagari. Secara umum, penyusunan PRM itu sendiri mengakomodir data spasial dan data sosial.

“Kegiatan PRM yang saya ikuti dilakukan di Nagari Tanjung Bonai Aur, Sijunjung. Karena memiliki basic dalam pemetaan (spasial), maka saya banyak membantu melakukan analisis pemetaan lokasi fasilitas umum dan fasilitas sosial yang ada di nagari, seperti titik lokasi persawahan, pemukiman, masjid, dsb,” jelas Fayad dalam presentasi laporannya.

Menurut Mita, selaku Fasilitator Komunitas di Nagari Tanjung Bonai Aur, selama ini kegiatan PRM terutama untuk data spasial, dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat nagari. Dari kegiatan ini, terjadi peningkatan kapasitas (capacity building) LPHN, dengan adanya 3 orang masyarakat yang telah menjadi kader pemetaan.

“Kehadiran rekan-rekan magang sangat membantu proses melengkapi data PRM, terutama data spasial. Disisi lain, dalam proses adaptasi dengan masyarakat dampingan, dia (Fayad) juga mampu membaur dengan baik,” ungkap Mita.

Dilain sisi, mahasiswa magang ini juga melakukan analisis pemetaan lokasi sebaran potensi ekonomi, seperti yang dilakukan oleh Mimi Yulia dibawah pendampingan langsung Hultayuni Delseana, selaku spesialis Pemberdayaan Perempuan dan Pengembangan Ekonomi KKI Warsi.

“Di nagari Pasir Talang Timur dan Pakan Rabaa, sebagai upaya untuk mengukur berapa sebaran potensi kopi yang ada, telah dilakukan penitikan lokasi kebun kopi masyarakat. Untuk mengetahui berapa jumlah pendapatan dan keuntungan secara ekonomi, kami melakukan wawancara langsung dengan masyarakat,” jelas Mimi.

Pesan bagi Mahasiswa Magang

Setelah semua mahasiswa magang selesai mempresentasikan laporan hasil kegiatan lapangan, pada umumnya komentar tentang kegiatan yang mereka lakukan relatif positif. Mereka mampu menyajikan presentasi dengan baik dilengkapi dengan data-data lapangan yang telah dikumpulkan. Lebih jauh dari itu, program magang ini menjadi salah satu upaya penyadaran masyarakat (public awareness) terkait pengelolaan lingkungan, perhutanan sosial, serta konservasi yang tidak hanya berfokus pada lingkungan saja, namun bagaimana masyarakat didalam dan sekitar hutan mampu disejahterakan.

“Saya cukup takjub dengan hasil kegiatan lapangan rekan-rekan semua. Secara umum, laporan yang disajikan menjawab kebutuhan analisis di lapangan. Mereka mampu memahami konsep Perhutanan Sosial yang tengah digalakkan Warsi. Bahkan bila dirunut kebelakang, kegiatan rekan-rekan magang periode ini, dapat dikatakan lebih baik dari sebelum-sebelumnya” kata Rainal Daus, Manager Program KKI Warsi.

“Rekan-rekan harus ingat proses pembelajaran yang didapat di KKI Warsi menjadi bekal penting untuk memahami terkait isu lingkungan, konservasi, pengelolaan hutan bersama masyarakat kedepannya yang berguna ketika menentukan pilihan pasca menyelesaikan kuliah nantinya,” tambah Rainal Daus.

Disamping itu, Endah, Dosen Geografi sekaligus Pembimbing Lapangan Mahasiswa Magang UNP, menjelaskan evaluasi laporan hasil kegiatan lapangan mahasiswa magang sangat penting untuk mengetahui jalannya proses magang yang diikuti, selain itu, bagi pihak kampus kegiatan magang menjadi bahan masukan untuk perbaikan kurikulum.

“Kami dari pihak kampus amat berterima kasih kepada KKI Warsi. Melihat proses yang diikuti oleh mahasiswa kami, laporan-laporan hasil kegiatan lapangan mereka menjadi masukan penting bagi pihak kampus kedepannya, baik dalam penyusunan kurikulum untuk menyesuaikan dengan perkembangan teori maupun praktek yang ada saat ini, begitupun dalam rangka perbaikan mekanisme kegiatan magang itu sendiri,” tutup Endah. 

Suasana Presentasi Laporan Hasil Magang