Select Page

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di provinsi jambi tentu saja menimbulkan dampak yang beragam di masyarakat. Bencana kabut asap yang mengiringi kebakaran hutan dan lahan yang ada di provinsi jambi. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan dengan tujuan untuk memadamkan api yang membakar lahan, namun hingga saat ini api tak juga padam yang mengakibatkan asap kian pekat. Landskap londrang yang terhampar luas di kabupaten tanjung jabng timur terbakar hebat pada tahun ini. Landskap seluas 12.500 Ha ini terbakar sebagian dan turut menjadi penyebab bencana kabut asap di provinsi jambi. Selain karena lokasi yang lumayan jauh dari pusat kota, lahan yang terbakar juga merupakan lahan gambut yang njika sudah terbakar, akan sangat sulit untuk memadamkannya.

Dampak sosial, ekonomi serta lingkungan sangat dirasakan oleh masyarakat baik yang berada di sekitar ataupun jauh dari lokasi kebakaran hutan dan lahan. Di kota jambi saja, asap yang pekat membuat pemerintah daerah meliburkan sekolah. Bagaimana dengan masyarakat yang tinggal disekitar lokasi kebakaran? Dewi, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Kota Kandis Dendang, Tanjung Jabung Timur, merupakan salah satu masyarakat yang merasakan langsung dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya. “kalau pagi asapnya pekat, tapi siang karna banyak angin jadinya agak mendingan daripada pagi” ungkapnya. Sebenarnya kebakaran hutan dan lahan bukanlah hal baru bagi Dewi. Ia tinggal di desa tersebut sejak tahun 1998 dan telah merasakan bencana yang sama lebih dari 3 kali. “udah biasa lah itu mas, udah sering juga kan” candanya.

Sekolah diliburkan, jalanan sepi dan pintu rumah warga kebanyakan ditutup. Warga yang berada di Desa Kota Kandis Dendang banyak tergabung kedalam Masyarakat Peduli Api (MPA) serta memiliki kebun di landskap tersebut. Hal itu membuat mereka harus berjibaku untuk menyelamatkan kebunnya serta memadamkan api yang makin lama semakin mengkhawatirkan. Saat itu, api memang tidak berkobar merah seperti sebelumnya, namun asap masih terus mengepul akibat api yang sebenarnya masih berkobar di dalam gambut. Berulang kali warga serta stake holder terkait melakukan pemadaman namun api kembali hidup dan membakar kebun hingga Hutan Lindung Gambut (HLG) yang merupakan lahan restorasi gambut. Termasuk salah satunya Bapak Milham. Sudah hampir seminggu Milham bolak-balik membantu memadamkan api yang ada di sekitaran PT. ATGA dan HLG untuk memastikan api tidak menyebar hingga Hutan Desa Kota Kandis Dendang, Perhutanan Sosial yang dimiliki warga desa sejak 2009 lalu.

“sudah hampir seminggu ini bolak-balik buat bantu madamin api, takutnya nanti apinya tambah jauh menjalarnya” ungkapnya. Kekhawatiran milham sebenarnya tidak berlebihan, disinyalir Hutan Desa Kota Kandis Dendang juga sudah sedikit terbakar, namun karena akses untuk melihat daerah yang kemungkinan terbakar tersebut tidak ada, pemeriksaan langsung tidak dapat dilakukan, bahkan oleh warga disana. Milham yang juga merupakan Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) merasa terpanggil untuk turut membantu petugas memadamkan api agar tak semakin merusak lingkungan yang ada. “takutnya nanti kalau tidak dibantu, malah makin rusak kan gambutnya” tambahnya.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di landskap londrang membuat seluruh pihak baik itu pemerintah, swasta serta masyarakat sekitar ikut terjun untuk memadamkan api yang berada di lahan gambut. Salah satu prajurit TNI yang bertugas memadamkan api mengatakan bahwa telah tiga minggu bertugas untuk memadamkan api. “sudah 3 minggu saya bertugas mas gabung sama Manggala Agni, lihat aspal saja tidak mas, takutnya nanti saya lupa jalan pulang nih, haha” candanya.

Kerugian yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan serta bencana kabut asap yang mengiringinya tidaklah sedikit. Anak-anak tidak bisa menuntut ilmu, orang tua tidak bisa berladang untuk menafkahi keluarganya, serta masyarakat tidak bisa bercengkrama dan berkegiatan diluar rumah karena ancaman kesehatan yang ada. Dampak tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat di tingkat tapak, padahal sebenarnya pemerintah sudah membuat kebijakan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Peraturan Gubernur Jambi Nomor 31 Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan merupakan salah satu instrument hukum guna mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di provinsi jambi.

Khusus untuk di lahan gambut sendiri, PP Nomor 57 tahun 2016 tentang perubahan dari PP nomor 71 Tahun 2016 mensyaratkan setiap perusahaan atau pihak swasta yang menjalankan bisnis serta usahanya di kawasan gambut untuk menjaga kandungan air di kawasan gambut. Kanal-kanal yang telah dibuat oleh perusahaan ataupun pihak swasta di sekeliling area konsesinya harus menjaga muka air dengan kedalaman air minimal 40 cm agar gambut tetap basah dan terhindar dari resiko kebakaran. Namun, kenapa gambut masih juga terbakar?

Pengawasan atau audit terhadap kepatuhan untuk menjalankan peraturan perlu segera ditegakkan sehingga tidak terjadi lagi kebakaran hutan dan lahan. Sehingga masyarakat tidak lagi menjadi korban akibat dari kebakaran hutan dan lahan serta bencana kabut asap yang hampir setiap tahun terjadi di provinsi jambi dan kerugian baik itu materil ataupun imateril dapat diminimalisir bahkan dihilangkan kedepannya. (Wahyu Priyanto)