Ada sebuah pepatah mengatakan, “Cintailah Takdir, Walaupun takdir itu menyakitkan (Fatum Brutum Amorfati),” pepatah ini mungkin memunculkan tanya, kapan konteks waktu yang tepat untuk menggunakannya. Barangkali di masa pandemi inilah, pepatah tersebut menemukan bentuk kongkretnya, bahwa walaupun pandemi merupakan “takdir” yang menyakitkan bagi seluruh aspek kehidupan manusia saat ini, tapi tetap kita mesti “mencintainya,” maknanya tetap bergiat, berkarya, beraktivitas, dengan menyesuaikan kondisi yang ada. Bukan berarti kehidupan menjadi berhenti dan semuanya diam tanpa melakukan upaya apapun.

Giat ini yang coba didorong KKI WARSI di berbagai nagari dampingan di Lanskap Mudik Baduo dan Sumatra Barat secara keseluruhan. Tidak butuh waktu lama. Ketika mengetahui kurva infeksi COVID-19 semakin meningkat, penyesuaian dalam aktivitas lapangan pun dilakukan. Bila selama ini giat di lapangan, fokus pada pertemuan, internalisasi ide, membangun inisiatif tertentu yang melibatkan banyak masyarakat, namun, di kondisi pandemi, kegiatan tersebut di minimalisirkan, dengan membatasi jumlah orang pada setiap pertemuan.

Peran Aktif di Nagari

Fasilitator KKI WARSI pun diarahkan untuk turut memberikan kontribusi terhadap upaya membangun pencegahan COVID-19 di setiap nagari, mulai dari sosialiasi pencegahan dan penanganan COVID-19 bersama pemerintah Nagari; menyalurkan bantuan masker, sabun cuci tangan, alat semprot disenfektan; lebih dari itu, Fasilitator juga turut serta dalam melakukan disefektan rumah warga, membagikan masker, bahkan ikut bergotong royong membangun posko COVID-19 di berbagai nagari. Tidak jarang dibeberapa tempat, seperti di Nagari Lubuk Karak, Dharmasraya, kunci posko diberikan khusus untuk fasilitator KKI Warsi.

“Kami diberikan kunci posko oleh pak Wali Nagari. Selain bisa membantu untuk kegiatan lapangan, hal ini merupakan bentuk kepercayaan nagari terhadap WARSI,” terang Ayu Sartika, Fasilitator Lapangan di Dharmasraya, Jum’at (24/4/2020)

Selain itu, Ayu menjelaskan bahwa Nagari Lubuk Karak adalah salah satu Nagari dampingan yang telah menerapkan SOP ketat bagi siapapun warga yang masuk ke nagari. Beberapa perantauan diminta untuk melakukan isolasi selama 14 hari sebelum diperbolehkan untuk masuk ke nagari.

“Perantauan atau orang luar yang akan masuk ke Nagari diminta untuk melakukan isolasi. Inisiatif ini menujukkan walaupun Nagari Lubuk Karak berada jauh dan tepat di tepi hutan, dengan jaringan telekomunikasi minim, setidaknya, masyarakat sudah mengetahui tindakan mitigasi awal untuk pencegahan COVID-19,” sambung Ayu.

Disela melakukan sosialisasi ke berbagai jorong dengan membawa poster edukasi COVID-19 yang berisi informasi soal cara pencegahan, cara penularan, cara menghindari, serta informasi fakta dan hoax seputar COVID-19, Ayu bersama dengan Pemerintah Nagari juga memberikan bantuan masker ke masyarakat.

“Total ada 539 buah masker bantuan dari KKI WARSI yang dibagikan ke masyarakat Lubuk Karak. Dari jumlah itu ada sekitar 103 masker yang diproduksi dengan memanfaatkan kepandaian ibu-ibu penjahit di Lubuk Karak,” tambah Ayu.

Ibu-ibu Lubuk Karak Menjahit Masker Kain (22/4/2020)

Ayu menerangkan, bulan Ramadan yang hampir menjelang waktu itu membuat penanganan semakin di tingkatkan. Pemerintah Nagari, setelah melakukan rembuk bersama masyarakat memutuskan untuk membuat palang pembatas di satu-satunya pintu masuk ke Nagari Lubuk Karak.

“Jalan masuk ke Nagari Lubuk Karak ditutup penuh. Hanya masyarakat dari dalam yang diperkenankan keluar untuk urusan tertentu dan mendesak. Masyarakat ingin agar bisa beribadah seperti biasa. Jadi dengan ditutupnya pintu masuk, praktis hanya masyarakat lokal saja yang ada di nagari. Sehingga, akan mudah mengidentifikasinya,” terang Ayu.

Sementara itu, Pemerintah Nagari Lubuk Karak sangat menyadari betul penanganan dini dalam pencegahan COVID-19 sangat dibutuhkan. Kehadiran KKI WARSI amat membantu untuk mempercepat tugas dari seluruh pihak di nagari. “Mengingat kondisi nagari yang cukup sulit diakses dengan jaringan telekomunikasi dan fasilitas kesehatan yang tidak memadai. Butuh waktu untuk mengakses fasilitas kesehatan hingga ke Sungai Dareh,” jelas Marti Ajis, Wali Nagari Lubuk Karak.

Cerita serupa juga ditemui di Nagari Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung. Di nagari yang identik disebut “kota di tengah hutan,” upaya penanganan COVID-19 bersama pemerintahan Nagari dilakukan oleh fasilitator KKI WARSI, Yudi Fernandes, disana. Yudi turut berperan aktif memberikan sumbangsih masukan dan ide ke pemerintahan nagari.

“WARSI memberikan bantuan alat semprot disenfektan sebanyak 3 unit ke Nagari. Alat semprot akan digunakan untuk melakukan disenfektan ke rumah-rumah masyarakat dan masjid,” kata Yudi.

Yudi menyebutkan, isolasi selama 14 hari bagi pendatang yang baru masuk ke Sumpur Kudus juga diberlakukan, baik oleh pemerintahan Nagari maupun melalui koordinasi bersama Puskesmas dan pihak kepolisian. 

“Ini untuk mempermudah pendataan pendatang yang masuk dan berjaga-jaga andaikan situasi darurat terjadi,” tambahnya.

Tindakan cepat dan bantuan dari KKI WARSI menjadi berkah tersendiri bagi Pemerintahan Nagari. Ini seperti energi tambahan untuk mencegah pandemi di Nagari.

“KKI WARSI datang disaat yang tepat. Posko COVID-19 di setiap titik masuk nagari, poster edukasi pencegahan covid, alat semprot, sabun cuci tangan dan sosialisasi pencegahan, membuat kerja penangan menjadi semakin terukur,” sebut Syarijal, Wali Nagari Sumpur Kudus.

Ia menambahkan, Pemerintah Nagari sudah mengalolasikan anggaran penanganan COVID-19. “Sejumlah 190 Juta rupiah yang dialokasi dari dana desa,” ungkapnya.

Ditemui di Kantor Lapangan KKI Warsi di Padang (21/4/2020), Asrul Azis Sigalingging, Koordinator Lapangan KKI Warsi menyebutkan ada banyak penyesuaian yang dilakukan di masa pandemi. Penyesuaian ini dilakukan agar aktivitas pendampingan masyarakat tetap berjalan, sembari tetap melakukan update terkini berbagai inisiatif lapangan terkait Perhutanan Sosial dan Pengelolaan Lingkungan secara berkelanjutan.

“Setiap fasilitator yang ke lapangan akan difasilitasi kendaraan sesuai dengan SOP COVID-19 dari pemerintah, namun mesti dipastikan dahulu apakah nagari berkenan menerima kedatangan fasilitator,” jelas Aziz. Terkait kedatangan fasilitator ada beragam tanggapan. “Ada yang menerima, dan ada juga yang tidak bisa menerima. Tapi, kita sudah pastikan fasilitator terkait sudah dinayatakan bebas dari COVID-19 dan membatasi aktivitas keluar rumah selama di Kota Padang,” ujarnya.

Selain itu, WARSI juga menyalurkan bantuan kepada pihak nagari. “Setidaknya pada masa pademi ini, WARSI telah menyalurkan bantuan berupa hampir 900 buah masker, 350 buah poster edukasi COVID-19, alat semprot disenfektan 4 unit, dan sabun cuci tangan,” tambahnya.

Aziz menyebutkan penyaluran bantuan penanganan COVID-19 menyeluruh dan merata untuk seluruh nagari dampingan KKI WARSI di Lanskap Mudiak Baduo dan Sumatra Barat secara umum dengan melibatkan fasilitator lapangan.  “Mulai dari Solok, Solok Selatan, Sijunjung, Dharmasraya yang merupakan bagian dari lanskap Mudiak Baduo, serta Pasaman, Agam, 50 Kota, Pesisir Selatan, semua kita fasilitasi bantuan,” terangnya.

Sembari ikut aktif dalam penangan COVID-19 di nagari, “kawan-kawan fasilitator juga melakukan update beberapa inisiatif lapangan yang sudah dilakukan,” ujarnya.

Belajar Peta di Tengah Pandemi

Tidak hanya soal penanganan dan pencegahan COVID-19 di Nagari. Ahmad Salim Ridwan, Spesialis GIS KKI Warsi selaku koordinator pelaksana kegiatan pelatihan SIGURA (Sistem Informasi Geografis Untuk Rakyat) menyebutkan kegiatan tetap dilaksanakan di tengah pademi. Pelatihan SIGURA ini berlangsung selama 3 hari, dari tanggal 20-22 April 2020, bertempat di Nagari Tanjung Bonai Aur (TBA) dan Nagari Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung. Walaupun sempat pesimis, tapi bersyukur pelatihan dapat terlaksana dengan baik.

“Pelatihan ini sudah direncanakan sejak Januari lalu untuk diadakan di Kabupaten Sijunjung. Sempat pesimis juga melihat kondisi pandemi sekarang. Tapi setelah berdiskusi dengan fasilitator lapangan terkait, dan mereka menyatakan masyarakat bersedia mengikuti pelatihan. Jadi, kita tetap lanjut,” kata pria yang sehari-hari akrab dipanggil Salim.

Pelatihan SIGURA di Sumpur Kudus (22/4/2020)

Salim mengatakan pelatihan SIGURA memiliki tujuan penting untuk mendukung inisiatif lokal. “SIGURA bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat soal Analisa keruangan mikro di tingkat nagari, dan pengetahuan tentang Sistem Informasi Geografis (SIG/GIS). Materinya sangat mendasar dan mudah dipahami oleh masyarakat” jelasnya.

Agar memudahkan penyesuaian dengan pemanfaatan teknologi yang amat jarang di masyarakat, kriteria peserta ditentukan sedari awal. “Peserta diprioritaskan untuk mereka yang familiar dan tebiasa menggunakan laptop dan memahami penggunaan beberap aplikasi yang ada di laptop,” terang Salim.

Dari pelaksanaan SIGURA, diharapkan terjadi peningkatan kapasitas masyarakat. “Kita berharap agar muncul kader nagari yang memahami  oprasionalisasi GIS yang akan membantu dalam analisa dan perencanaan penataan ruang nagari masing-masing,” kata Salim. Hasil analisa pemetaan ini nantinya akan bisa dimanfaatkan pihak nagari, “sebagai basis data perencanaan pembangunan,” tambahnya.

Pelatihan SIGURA ditengah masa pandemi menjadi cukup unik dibanding pelaksanaan sebelumnya. Ada banyak penyesuaian. “Peserta dibatasi hanya 4 orang dari tiap Nagari, untuk tetap menjaga jarak fisik dan menghindari kerumunan,” ungkapnya.

Meskipun ada beberapa kendala teknis di lapangan, tapi masih bisa di akomodir. “Kendala selama pelatihan boleh dibilang hanya kendala teknis, kalau soal perizinan tidak ada masalah. Ada beberapa peserta yang ternyata, laptopnya tidak sesuai spesifikasi dan kurang terbiasa menggunakan laptop. Walaupun sudah diberitahukan sebelumnya. Tapi hal ini lumrah terjadi dimasyarakat, dan itu pula yang menjadi cerita menariknya,” kata Salim.

Kedepannya Salim akan tetap mengawal baik secara langsung kepada peserta pelatihan, maupun komunikasi melalui fasilitator lapangan yang bersangkutan. “Hal ini agar implementasi pengetahuan pasca pelatihan benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat. Saya juga terbuka untuk selalu berkomunikasi ketika masyarakat, mengalami kesulitan tertentu,” terangnya.

Dihubungi terpisah, Rainal Daus, Koordinator Program KKI Warsi, menyebutkan bahwa giat di masa pandemi mesti tetap dilakukan.

“Memang ada penyesuaian, selama masa pandemi, sosialisasi dan bantuan berupa masker, poster pengetahuan tentang COVID19 menjadi kegiatan strategis untuk dilakukan di berbagai nagari. Setiap staff yang kelapangan pun kita pastikan agar meminimalisir kontak selain dengan masyarakat nagari. Staff diminta mengkomunikasi kedatangan mereka sebelumnya, apakah kedatanganny diterima atau tidak,” terang Rainal.

Harapannya kehadiran tim WARSI di lapangan melalui berbagai kegiatan penanganan dan pencegahan COVID-19. “Akan turut meringankan dan membantu kerja dari pihak Nagari selama masa pandemi ini,” tutup Rainal.

(Nabhan Aiqani)

error: Content is protected !!