Para saintis sepakat bahwa Bumi yang kita tinggali telah berusia lebih dari 4,5 miliar tahun, dan tiap tahun sejak 1970, telah ditetapkan tanggal 22 april sebagai hari bumi. 50 tahun sejak ditetapkannya Hari Bumi, tentu tidak sebanding dengan miliaran tahun usia Bumi. Periode sejarah telah banyak terlewati dengan silih berganti rangkaian tragedi besar menghantam bumi, sebut saja zaman es, zaman batu, musim panas ekstrem, kenaikan suhu bumi, dan kepunahan spesies tertentu. Namun kontribusi umat manusia abad ini pada bumi, adalah suatu hal yang patut disyukuri, sebuah aksi kolektif untuk penyadaran bersama dalam membangun momentum untuk menjaga bumi tidak terlepas dari sejarah ditetapkannya Hari Bumi.

Tahun 1970, berawal dari seruan damai reformasi lingkungan untuk memprotes massifnya tumpahan minyak di lepas pantai California. Jutaan orang di seluruh dunia spontan bergerak. Momentum ini bertahan hingga lebih dari 1 miliar orang dari 192 Negara yang sekarang berpartisipasi penuh. Praktis, Hari Bumi mejadi momen peringatan sipil terbesar di Dunia, yang menginspirasi aksi jutaan orang tiap tahun pada Global Climate Strike yang dimulai sejak tahun 2018.

Layaknya yang dikatakan Milan Kundera (1979), Novelis Ceko, bahwa perjuangan terberat adalah perjuangan melawan lupa. Semangat yang dibawa pada Hari Bumi cukup berbeda, bukan sekadar hanya seremonial tahunan yang diperingati lalu dilupakan. Hari Bumi adalah hari untuk berkontemplasi, penyadaran massal tentang sudah sejauh mana kita bertindak untuk menjaga bumi ? Apa langkah yang mesti dilakukan ?

Hari Bumi 2021 bertemakan, “Restore Our Earth (Pulihkan Bumi Kita).” Pilihan tema yang kritis, sesuai dengan visualisasi kondisi Bumi yang tengah dihadang persoalan bencana lingkungan, deforestasi dan degradasi hutan, sampah plastik, massifnya penggunaan bahan bakar fosil oleh Industri yang berdampak pada Perubahan Iklim Global.

Semua dapat terlibat dalam pemulihan bumi, bahkan aksi kecil untuk membuang sampah pada tempatnya, mematikan listrik ketika tidak dibutuhkan, dan mengurangi penggunaan plastik akan menjadi besar dampaknya ketika rantai itu terus menyambung. Siapa sangka cerita dalam Buku Silent Spring (1962), karya Rachel Carson, seorang ahli Biologi, yang mendokumentasikan penggunaan pestisida kimiawi dan dampaknya terhadap Sungai di Ohio, namun luput dari perhatian publik, bahkan bukunya ditarik karena dianggap kontroversial, adalah awal dari perubahan besar, tonggak dari hari Bumi. Sama halnya denga aksi-aksi kecil yang kita lakukan, meskipun luput dari perhatian, tapi konsistensi dan waktu akan menunjukkan dampaknya. Kata kuncinya adalah aksi kolektif.

Aksi Kolektif

Aksi kolektif peringatan Hari Bumi menjadi momentum penting bagi NGO seperti KKI Warsi dan kelompok masyarakat untuk kembali menguatkan simpul, menata kekuatan bersama dalam menjaga Bumi. Aksi kolektif tidaklah dimaknai sebagai tindakan perlawanan, tidak. Namun aksi kolektif adalah bentuk aksi bersama yang menghimpun seluruh kekuatan dan suara, serta upaya lokal agar menjadi bagian dalam simpul besar penyelamatan lingkungan dan menjaga bumi.

Aksi kolektif bersama masyarakat yang terwujud dalam berbagai inisiatif lokal juga menjadi dasar dalam pengembangan berbagai upaya untuk pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan secara berkelanjutan. Pengelolaan yang ramah ekologis dan dapat dimanfaatkan oleh genarasi mendatang.

Satu persatu inisiatif lokal ini mendapatkan tempat dan perhatian publik. Kegiatan pengelolaan dan perlindungan Hutan oleh masyarakat di Lanskap Bujang Raba yang diganjar dengan insentif lingkungan berupa dana karbon sejak tahun 2018, mengejutkan dan membanggakan bagi banyak pihak.

Kemudian, perencanaan Desa berbasis database Potensi Ruang Mikro (PRM) yang dimulai pada dusun di Kecamatan Bathin III Ulu, menjadi rujukan bagi Pemerintah Kabupaten Bungo dan Kemendes PDTT dalam menyusun perencanaan pembangunan integratif.

Lalu, adapula kegiatan pengamanan dan perlindungan hutan berbasis teknologi AI di 9 Hutan Desa Sumatra Barat sejak tahun 2019 membantu aktivitas patroli bagi kelompok Pengelolaan Hutan Desa. Inisiatif terhubung dengan program Dinas Kehutanan Sumbar. Sinergitas pengamanan hutan berbasis Guardian menjadi model yang akan dikembangkan di seluruh areal perhutanan sosial sumbar.

Tak luput juga, diversifikasi ekonomi lokal dengan berbagai produk usaha masyarakat berbasis potensi hutan, seperti Minyak Kemiri Indudur, Sumbar; Beras Organik Simancuang; Pengelolaan Getah Pinus di Simarasok; Teh Gaharu Padang Laweh Sijunjung; Kopi di Serampas; Pengelolaan rotan manau di Bathin III Ulu; Selai Kerben Suko Pangkat Kerinci; Gulo Anau Kerinci, dan masih banyak lagi. 

Inisiatif lokal yang acapkali luput dari perhatian, tapi memiliki dampak besar keberlanjutan lingkungan terhimpun dalam aksi kolektif. Ekspos dan pembelajaran terkait dengan upaya yang dilakukan adalah dalam rangka menggugah kesadaran publik, bahwasanya nun jauh di antara belantara rimba sana, ada sekelompok orang yang tengah berjuang, dan tanpa mereka sadari tengah menyediakan oksigen bagi kelangsungan hidup umat manusia. Sekelompok orang ini juga yang tengah berjuang menjaga hutan dari korporasi dan penjahat lingkungan, dan tanpa mereka sadari, hutan yang dijaga akan menyerap setiap emisi karbon yang dihasilkan, untuk menghindarkan dari ancaman perubahan iklim. Tentu langkah pemulihan bumi yang tak ternilai harganya.

Deforestasi dan penurunan tutupan memang masih saja terjadi. Pada tahun 2020, analisis GIS KKI Warsi menemukan bahwa tutupan hutan Jambi tinggal seluas 882.272 Ha, berkurang 2 persen dari tahun sebelumnya. Sementara tutupan hutan Sumatera Barat pada tahun 2020, mengalami penurunan sebesar 7.994 ha dari tahun sebelumnya, menjadi 1,8 Juta ha. Disinyalir penurunan hutan disebabkan oleh aktivitas PETI dan pembukaan lahan baru. Bayangkan, tanpa tangan-tangan pejuang dan penyelamatan lingkungan kerusakan ini akan semakin parah dan tak terhindarkan. Fakta bahwa ada peningkatan tutupan hutan di areal perhutanan sosial Sumbar rentang tahun 2017-2020 seluas 987 Ha (Analisa GIS KKI Warsi, 2020), membuktikan bahwa masyarakat lokal mampu menjadi simpul yang tak bisa dipisahkan dalam upaya menjaga bumi.

Bukan Sekadar Crowdfunding

Simpul inisiaitif lokal dalam menjaga bumi, tidak berhenti pada satu titik. Ia akan terus menyebar dan meluas menyentuh seluruh kalangan untuk diajak membangun kepedulian bersama. Bila momentum Hari Bumi, dimaknai sebagai upaya pelibatan seluruh umat manusia di Bumi untuk membangun kesadaran akan menjaga Bumi. Maka, inisiatif Pohon Asuh (Tree Adopting) yang dikembangkan KKI Warsi Hutan Desa di Jambi dan Sumatera Barat, merupakan upaya untuk memperluas aksi kolektif kepedulian terhadap lingkungan. Pohon Asuh menyalurkan kepedulian lingkungan antara kelompok masyarakat yang relatif tidak banyak berinteraksi dengan hutan, kepada kelompok masyarakat yang hidup dan tinggal didalam dan disekitar hutan. Insentif yang diberikan untuk setiap pohon yang diadopsi menjadi kekuatan bagi masyarakat sekitar hutan untuk terus menjaga hutan.

Pohon asuh tentu bukan sekadar crowdfunding, aksi menghimpun pendanaan dari para pihak untuk mendukung kegiatan tertentu. Pohon asuh lebih dari itu, menjadi penghimpun aksi kolektif untuk menyuarakan kepedulian terhadap hutan dan menjaga bumi kepada semua kalangan. Melalui program pohon asuh tidak ada beda antara pohon yang diasuh oleh figur publik, seperti Dian Sastro, dan seorang mahasiswa di Padang yang peduli akan lingkungan. Tujuannya sama, untuk menjaga hutan, menjaga bumi.

Pada akhirnya, sudah sepatutnya semangat Hari Bumi yang menghimpun kepedulian seluruh kalangan tidak menjadi inisiatif parsial, tapi turut menyentuh seluruh umat manusia, lokal, nasional, dan global. Semangat hari Bumi memudarkan batas, antara isu kehutanan dan lingkungan, kelautan dan maritim, kejahatan lingkungan, masalah satwa dan biodiversity, persoalan sampah plastik dan gaya hidup manusia abad ini, semua isu adalah satu, yang akan terhubung dengan kegiatan penjagaan bumi dan pemulihan bumi, demi Bumi yang jauh lebih baik untuk ditempati.

error: Content is protected !!