Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun. Begitu pepatah Minangkabau menyebutkan bahwa pemuda diharapkan pergi belajar dahulu ke rantau untuk menempa dirinya sehingga nanti dapat mengabdi ke kampung halaman. Pun juga menyiratkan jika bujang atau dapat pemuda belum berguna di nagari atau desanya. Tidak sekedar pepatah, dalam praktiknya pemuda tidak dilibatkan diskusi-diskusi membahas permasalahan yang ada, tidak terkecuali mengenai pengelolaan sumber daya alam yang berada di nagari. Padahal pemudalah yang menjadi ujung tombak peradaban dan regenerasi yang menentukan baik buruk suatu bangsa di masa depan. 

 “Selama ini memang yang terlibat dalam pengelolaan perhutanan sosial itu masih eksklusif. Kita mau mendorong pengelolaan sumber daya alam melalui skema perhutanan sosial itu secara inklusif. Inklusif itu artinya melibatkan semua orang dalam pengelolaan perhutanan sosial pada skala-skala yang ditentukan.” kata Wakil Direktur KKI Warsi Rainal Daus.

Karena itu, KKI Warsi mengajak para pemuda yang merupakan salah satu kelompok yang suaranya sering kali tidak jadi prioritas di nagari terlibat dalam kegiatan aktivasi pemuda perhutanan sosial. Kegiatan ini melibatkan 18 pemuda dari 13 nagari yang memiliki perhutanan sosial di Sumatera Barat.  Tujuannya agar pemuda mampu terlibat dalam persoalan yang ada di nagari mereka dengan melakukan peningkatan kesadaran dan pemahaman pemuda dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan melalui perhutanan sosial. 

“Pertemuan kita dengan pemuda ini kita harapkan bisa mengenalkan kepada pemuda bahwa ini ada perhutanan sosial yang adalah pengelolaan hutan yang dilakukan oleh masyarakat lokal atau masyarakat adat di nagari dan ini punya potensi bagus untuk pengembangan kesejahteraan masyarakat, perlindungan hutan dan tujuan-tujuan lainnya.” kata Rainal Daus.

Selama dua hari, 15-16 Juli 2023 mendapatkan materi mengenai pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan melalui pengelolaan perhutanan sosial untuk kesejahteraan masyarakat. Dari materi, kemudian pemuda saling berdialog mengenai peran-peran yang bisa mereka isi dalam pengelolaan perhutanan sosial serta peluang dan hambatannya.

Setelahnya, para pemuda menulis rencana aksi apa yang akan dilakukan dalam jangka waktu yang disepakati untuk memaksimalkan potensi pengelolaan perhutanan sosial. Pada kegiatan ini perwakilan pemuda nagari telah berkomitmen untuk berkolaborasi menjadi sebuah jejaring pemuda perhutanan sosial dengan nama jejaring pemuda penggerak nagari. Maksud dari jejaring pemuda ini untuk menjadi wadah kolaborasi di antara pemuda untuk terlibat dalam isu-isu pengelolaan sumber daya alam di nagari.

“Kami berharap kepada KKI Warsi untuk selalu memotivasi dan mendampingi untuk menuju kesadaran yang lebih baik, supaya kami bisa menjelaskan bagaimana pentingnya mengembangkan sumber daya yang ada di nagari kita masing-masing. Dan kami bisa membangkitkan jiwa pemuda agar lebih sadar dalam mengenal lingkungan dan bisa menghasilkan suatu sumber daya alam secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.” kata Bj Ihza Mahendra, perwakilan pemuda dari nagari Aie Batumbuak, Solok.