Lubuk Tojuang merupakan nama salah satu kawasan yang sangat berpotensi untuk dijadikan ekowisata, yang terdapat di Nagari Lubuk Karak Kecamatan Sembilan Koto, Kabupaten Dharmasraya.. Setiap tahunnya kawasan ini ramai dikunjungi oleh masyarakat setempat maupun yang berasal dari luar Nagari Lubuk Karak. Biasanya ramai dikunjungi pada masa menjelang Bulan Ramadhan, tentu ini dilakukan untuk kegiatan “Mandi Balimau”. Pada pinggir Lubuk Tojuang, terapat Batu Ojuang, yang menurut sejarahnya batu tersebut merupakan bagian depan dari kapal. Sampai saat ini batu tersebut masih ada dan masih berbentuk bagian depan kapal yang berbentuk segitiga. Berdasarkan legendanya batu tersebut akan mengeluarkan bunyi bergemuruh apabila air sungai akan naik. Karena keunikan-keunikannya tersebut, pemerintah nagari beserta pimpinan adat nagari Lubuk Karak berinisiatif untuk menjadikannya sebagai kawasan ekowisata. Dari hasil diskusi dengan pemerintah nagari, inisiatif ini sudah berlangsung semenjak lima tahun terakhir, namun sampai saat ini masih belum ada pergerakan yang signifikan.

Pada tahun 2019, fasilitator KKI Warsi yang bertugas mendampingi Nagari Lubuk Karak dalam pengelolaan hutan nagarinya, juga melakukan diskusi dengan pemerintah nagari, pengurus LPHN maupun pucuk pimpinan adat di nagari terkait potensi ekowisata yang terdapat di Nagari Lubuk Karak. Selama pendampingan tersebut, LPHN sebagai penggerak dalam mengelola hutan nagari bersepakat untuk melakukan pengembangan ekowisata Lubuk Tojuang. Mereka bertekad akan melakukan pengelolaan ekowisata Lubuk Tojuang dan optimis akan hal tersebut. Apalagi dengan didampingi oleh fasilitator, LPHN semakin bersemangat dalam melakukan pengelolaan kawasan tersebut. Karena ini merupakan fokus utama kegiatan LPHN sesuai dengan rencana kerja yang telah disepakati. Mereka bertekad bahwa harus ada perubahan yang dilakukan oleh LPHN, tidak hanya sebatas pertemuan, namun juga pergerakan yang bisa mereka lakukan. Kegiatan ini didukung penuh oleh pemerintah nagari, bahkan pemerintah nagari sudah menganggarkan dana untuk pembuatan Jembatan menuju lokasi.

LPHN Bergerak

Pergerakan awal yang dilakukan oleh LPHN adalah melakukan survei kawasan Lubuk Tojuang, dan gotong royong untuk pembersihan kawasan dari semak belukar. Kegiatan ini telah dilakukan pada minggu pertama dan kedua Bulan Januari 2020. Tidak hanya LPHN, pemerintah nagari, Bamus, dan datuk pucuk Nagari Lubuk Karak juga sudah melakukan survei di kawasan tersebut. Sembari survei dan gotong-royong, ide-ide cemerlang bermunculan baik dari pengurus LPHN sendiri, maupun pemerintah nagari dalam mengembangkan ekowisata tersebut. Berdasarkan hasil diskusinya, akan dibangun beberapa wahana yang menarik pada kawasan tersebut, tanpa menghilangkan estetika dan nilai ekologi yang terdapat di dalamnya. Selain bernilai ekowisata, kawasan tersebut juga layak dijadikan sebagai wisata sejarah, sesuai dengan legendanya. LPHN juga menginisiasi untuk melakukan pembangunan papan informasi yang menarik sehingga dapat mengedukasi para pengunjung tentang sejarah Nagari Lubuk Karak, sejarah Lubuk Tojuang, Sejarah Batu Ojuang serta kearifan lokal yang terdapat di dalamnya.

Gotong Royong Pembersihan Lokasi Ekowisata. Sumber: Nabhan Aiqani/KKI WARSI

Dari hasil analisis tim pengembangan kelompok usaha KKI Warsi, dalam pengelolaan ekowisata Lubuk Tojuang, perlu dilakukan penanaman, agar semakin meningkatkan nilai ekologi serta ketahanan ekowisata tersebut. Hal ini ternyata sudah disadari dari awal oleh pengurus LPHN yang akan melakukan pengelolaan ekowisata tersebut. Sehingga sudah sependapat dengan ide dari Tim Support KKI Warsi.

Ide-ide tersebut tidak akan bisa terealisasi tanpa adanya serah terima lahan kawasan ekowisata Lubuk Tojung. Berdasarkan status kepemilikannya, lahan tersebut masih dimiliki secara pribadi oleh salah satu pasukuan di Nagari Lubuk Karak. Pihak LPHN, pemerintah nagari, pemuda nagari, ninik mamak maupun masyarakat setempat berinisiatif untuk melakukan serah terima lahan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi permasalahan di kemudian hari, jika ekowisata ini maju dan berkembang. Ini menandakan bahwa pada umumnya masyarakat nagari sudah memikirkan resolusi konflik yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

            Sampai saat ini kegiatan LPHN yang bersifat sosial, disertai dengan kondisi perekonomian pengurus LPHN yang pada umumnya menengah ke bawah, sangat berpengaruh terhadap kinerjanya dalam melakukan pengelolaan hutan nagari maupun kawasan ekowisata. Di satu sisi mereka memiliki semangat yang tinggi dalam melakukan pengelolaan hutan nagari ataupun ekowisata, di sisi lain mereka harus bekerja untuk memenuhi kebuhtuhan ekonomi rumah tangga mereka. Hal ini menjadi salah satu kendala LPHN dalam melakukan pergerakannya untuk kegiatan pengelolaan hutan nagari dan pengelolaan ekowisata.

(Ayu Sartika, Fasilitator Komunitas dan Kabupaten Dharmasraya)

error: Content is protected !!