Langit membiru, udara menyegar, dan hewan berlarian dengan bebasnya. Mungkin begitu kesan pertama kala pandemi Covid-19 menghantam seluruh penjuru bumi. Kegiatan manusia yang terhenti sejak awal 2020 ini seperti memberikan efek yang signifikan bagi keberlangsungan lingkungan hidup di seluruh dunia. Mulai dari munculnya lumba-lumba di kanal-kanal venice yang biasanya hanya penuh dengan kapal-kapal manusia, langit jakarta yang sempat beberapa saat terlihat membiru di seantero kota, hingga penurunan polusi udara juga terlihat dibeberapa kota besar yang biasanya dilalui jutaan kendaraan dengan bahan bakar fosil, hingga banyak orang bilang, bumi sedang memulihkan dirinya sendiri.

Tapi apa yang bisa kita lihat dari berbagai fenomena tersebut? Fakta yang muncul hanya menuju ke kesimpulan bahwa dengan berkurangnya manusia beraktifitas, maka keadaan lingkungan hidup akan semakin baik. Sebuah ironi manakala di seluruh agama menyatakan bahwa bumi merupakan tempat tinggal bagi seluruh manusia malah seperti tidak membutuhkan manusia sama sekali. Hal ini tak lain disebabkan oleh habit manusia yang tidak melihat keberlanjutan terhadap apa yang dilakukannya. Pembangunan yang tidak berkelanjutan kebanyakan tidak memperhatikan aspek lingkungan sebagai prioritasnya. Padahal, generasi mendatang memiliki hak untuk mendapat warisan lingkungan hidup yang layak untuk ditinggalinya.

Tahun 2019 lalu sebenarnya merupakan suatu momentum yang baik untuk memperbaiki kebiasaan atau habit tadi. Kebakaran hutan yang hebat melanda Indonesia, Australia, serta Brasil. Jutaan hektar hutan dan lahan terlalap kobaran api. Entah itu akibat ulah manusia ataupun dari alam sendiri. Bisa juga terjadi akibat kenaikan suhu yang membuat musim kemarau lebih kering dari biasanya dan mengakibatkan tumbuhan yang sudah layu dan kering menjadi mudah untuk terbakar. Untuk skala kecil sendiri misalnya, dari analisis GIS KKI Warsi, untuk Provinsi Jambi (setitik kecil jika dilihat dari peta dunia), 157 ribu  Ha hutan dan lahan habis dilalap api, di tanah gambut dan mineral.

Belum sempat manusia mengambil hikmah dari apa yang terjadi waktu itu, virus corona jenis baru menghantam dunia dari awal 2020 ini. Virus yang dinamakan Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 6 juta orang di seluruh dunia dan membunuh lebih dari 300 ribu orang (data 4 Juni 2020). Berbagai krisis terjadi di seluruh dunia, baik itu krisis ekonomi, krisis kesehatan, hingga krisis pangan telah mengancam milyaran populasi manusia karena aktivitas harus dihentikan untuk meminimalkan penyebaran virus tersebut. Mengingat bahwa penyebab dari virus ini adalah akibat mutasi virus dari habitat aslinya di hewan ke manusia. Konon mutasi ini disebabkan kebiasaan memakan binatang liar (bahkan dilindungi), sehingga banyak yang mengatakan bahwa hal ini diakibatkan oleh kebiasaan manusia yang tidak menjaga keseimbangan ekologi bahkan mengabaikan konservasi dalam kegiatannya.

Hari ini kita kembali memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dalam situasi yang berbeda. Sejak hari lingkungan hidup pertama kali diadakan pada tahun 1974 untuk memperingati diadakannya Konferensi Stockholm pada 5-16 Juni 1972, dunia tidak pernah terlihat seperti ini. Pandemi yang terjadi bisa disebut telah merubah keadaan sosial hingga ekonomi di seluruh dunia. Berbeda dengan pandemi Flu Spanyol yang terjadi satu abad yang lalu, waktu itu banyak negara eropa menutupi pemberitaan mengenai Flu Spanyol karena takut akan berpengaruh terhadap posisi mereka di Perang Dunia I, pandemi Covid-19 ini telah menjadi fokus utama bagi seluruh negara di dunia sehingga mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia.

Di Indonesia, dampak pandemi tidak hanya dirasakan oleh masyarakat diperkotaan melainkan hingga ke pelosok nusantara. Misalnya saja di kecamatan Bathin III Ulu di Provinsi Jambi, KKI Warsi memiliki 5 desa binaan di daerah tersebut, yaitu Lubuk Beringin, Senamat Ulu, Laman Panjang, Sangi Letung, dan Sungai Telang. Mayoritas warganya merupakan petani karet harus lebih banyak bersabar karena harga karet yang jatuh akibat dari berhentinya pabrik-pabrik karet yang ada di daerahnya karena efek dari pandemi yang terjadi. Untungnya, 5 dusun yang memiliki hutan desa di lanskap Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba) seluas 7331 Ha telah berhasil masuk dalam pasar karbon sukarela. Tepat di masa pandemi ini dana karbon ini dijadikan jaring pengaman sosial dalam bentuk bantuan sembako dan uang tunai yang dibagikan kepada seluruh warga di 5 desa.

New Normal

Beberapa waktu lalu WHO menyatakan bahwa dunia tidak akan bisa kembali seperti keadaan seperti sebelum terjadinya pandemi Covid-19 karena kemungkinan virus ini tidak akan bisa menghilang dari muka bumi. Sehingga muncullah ide baru untuk menerapkan apa yang tenar disebut dengan ‘New Normal’.

‘New Normal’. Jargon yang saat ini menjadi penting dikala banyak negara mulai melonggarkan karantina wilayah yang selama 3 bulan ini diberlakukan di banyak negara. Tapi normal apa yang ada sebelumnya? Apakah kenormalan yang dimaksud adalah kebiasaan kita yang tidak ramah dengan alam? Momentum New Normal ini bisa dijadikan sebagai perubahan kebiasaan atau habit kita dalam memperlakukan lingkungan hidup. Apalagi jika dikatikan dengan pemanasan global. Sudah saatnya pembangunan yang tidak berkelanjutan harus dirubah dengan mengutamakan aspek lingkungan hidup. Istilah ‘tobat ekologis’ yang akhir-akhir ini sering digaungkan oleh aktivis lingkungan di seluruh dunia juga dapat menjadi jalan keluar agar warga dunia tidak mengulangi kegiatan yang dapat merusak lingkungan yang ada di sekitarnya.

New Normal atau kewajaran baru sebaiknya tidak hanya diartikan sebagai tambahan kegiatan baru seperti selalu cuci tangan, memakai masker, serta menjaga jarak saja, tetapi untuk skala besar, pembangunan yang berkelanjutan serta pemahaman akan pengembalian fungsi alam yang telah rusak harus lebih digaungkan. Jika tidak, bisa saja depresi alam akan terjadi, kenaikan suhu akan lebih ekstrem terjadi, serta keanekaragaman hayati akan merosot jauh.

Memang, merubah kebiasaan merupakan hal yang sulit untuk dirubah. Namun untuk keberlangsungan hidup manusia sendiri hal itu tidaklah menjadi suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

Ancaman di awal new normal :

Kala bersiap memasuki kehidupan normal barui, sumber daya alam juga masih menghadapi ancaman yang serius. Dari pantauan Warsi, pandemi ini telah mendorong sejumlah pihak untuk melakukan kegiatan illegal dan merusak lingkungan. Ibaratnya kelompok ini melakukan kegiatan dalam sunyi, terus merongrong sumber daya alam kita, utamanya di daerah pedalaman. Diantara yang mulai terlihat adalah:

1. Kegiatan illegal logging. Pada sejumlah daerah dampingan Warsi yang dilakukan pemantauan intensif illegal logging dengan menggunakan alat guardian, terpantau aktivitas penebangan illegal terlihat cukup meningkat. Hal ini menyebabkan kelompok pengelola yang memantau perkembangan illegal logging semakin gencar melakukan patroli. Bisa dibayangkan di daerah lain yang pemantauannya kurang intensif kondisi serupa bisa juga meningkat tajam, hanya saja kurang terdeteksi.

2. Penambangan emas illegal. Sumatera sebagai pulau emas memang memiliki kandungan emas yang melimpah. Dari zaman dahulu, kala perekonomian macet, maka emas menjadi pilihan lainnya. Pilihan ini dilakukan secara tradisional dengan mendulang emas di sungai-sungai sekitar desa. Namun kini, penambangan emas liar ini semakin marak malah menurut reportase sejumlah media di Jambi, pelaku penambangan ini semakin brutal dan tidak segan untuk melakukan tindakan kekerasan.

3. Perubahan cuaca dan iklim. Saat ini kita sudah masuk di penghujung musim penghujan, musim kemarau sudah di depan mata. Di ujung musim penghujan ini, cuaca ekstrim mewarnai sejumlah daerah. BKG berulang kali mengeluarkan peringatan waspada menghadapi cuaca ini, hujan dengan intensitas tinggi, angin kencang hingga timbulnya banjir rob dan lainnya. Kondisi lingkungan kita hari ini, kala curah hujan yang ekstrim seolah tidak mampu lagi di tampung bumi, sehingga meluber menimbulkan banjir di banyak tempat.  Sebentar lagi, kala kemarau tiba, kekhawatiran berikutnya adalah musim kemarau yang akan berdampak pada terulangnya kebakaran hutan dan lahan.

Perbarui  tindakan dan prilaku pada alam

Bersiap dengan New Normal dengan segala dinamika dan etika yang mengikutinya, harusnya juga tidak hanya merubah habit atau kebiasaan kita sendiri, namun juga harusnya mengubah prilaku dan kebiasaan kita dalam menikmati, memanfaatkan serta mengelola alam.   Bisa saja bencana-bencana ekologis serta virus-virus baru akan muncul ke depannya akibat dari kita tidak menghormati serta memperlakukan alam secara tidak baik. Mari bersama kita manfaatkan momentum New Normal yang sedang digalakkan oleh pemerintah ke dalam kebiasaan kita memperlakukan alam. Dapat kita lihat bahwa ternyata alam semakin membaik pada saat manusia mengurangi aktivitasnya. Alam tidak butuh manusia, tetapi manusia membutuhkan alam.

(Wahyu Priyanto)

error: Content is protected !!