Select Page

Pandemi, wabah berskala global. Penyakit menular. Tentu hal – hal tersebut menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat di seluruh dunia. Pada era modern sekarang ini, baik itu masyarakat urban perkotaan hingga ke masyarakat di pedalaman terdampak oleh wabah ini. Berbagai pandemi mulai dari Black Death di abad 14 lalu hingga pandemi Covid-19 telah mempengaruhi kehidupan milyaran orang d dunia, tak terkecuali ke masyarakat adat. Komunitas ataupun masyarakat adat biasanya memiliki kehidupan yang terkait erat dengan alam. Entah itu di kawasan perairan, hutan, gurun hingga di kawasan salju di bagian utara bumi sana. Terjadinya wabah Covid-19 ini tentu dapat memiliki dampak yang besar untuk mereka karena tidak memiliki fasilitas kesehatan yang cukup untuk menghadapinya. Selain itu, untuk masyarakat adat yang biasa hidup berdampingan dengan dunia luar, baik itu terkait dengan kebutuhan hidup dan pangannya, akan sangat terdampak akibat dari pandemi ini.

Ketahanan pangan merupakan elemen yang memiliki resiko terdampak yang tinggi dalam masa wabah ini. Bisa terdampak karena terhambatnya aktivitas produksi maupun distribusi atau karena kemampuan ekonomi yang melorot tajam sehingga menjadi tidak mampu memenuhi pasokan pangan.

Orang Rimba merupakan masyarakat adat yang sejatinya tinggal di dalam hutan dan hidup berdampingan dengan alam. Wabah Covid telah mempengaruhi kehidupan mereka. Orang Rimba tetap memiliki resiko terpapar Covid-19.  Pada Orang Rimba ketika mengetahui ada wabah mereka langsung menjalankan tradisi mengatasi wabah dengan cara sesandingon, memisahkan diri jauh ke dalam rimba. Antara anggota kelompok hidup menyebar. Sesandingon,  trandisi yang dijalankan ketika ada penyakit menular yang menyerang anggota kelompoknya. Anggota yang sakit disebut bercenenggo dan dibangunkan tempat terpisah dari anggota kelompok yang sehat atau bungaron. Cara ini efektif untuk menangkal penyebaran penyakit.

Ketika wabah covid, Orang Rimba yang berada di dalam hutan relatif stabil menjalankan tradisi sesandingon. Hutan memberi mereka sumber pangan yang memadai. Berbeda dengan Orang Rimba yang tinggal tidak lagi dalam hutan. Hutan mereka sudah terlanjur berubah menjadi perkebunan sawit ataupun HTI. Orang Rimba dalam kategori ini mengandalkan hidupnya dari berburu dan menjual hasil buruannya untuk kemudian dibelanjakan lagi jadi bahan kebutuhan pokok.

Kondisi ini bisa dilihat di Orang Rimba yang ada hidup di sepanjang jalan lintas tengah Sumatera dari batas Sumatera Selatan hingga batas Sumatera Barat. Orang Rimba hidup di kawasan ini bisa dianggap kelompok rentan akan terdampak terkait dengan pandemi ini. Bukan hanya soal terpapar virus, namun juga terkait dengan ketersediaan makanan untuk mereka.

Robert Aritonang, Manajer Program Suku – Suku KKI Warsi mengatakan bahwa, Orang Rimba yang berada di jalan lintas memiliki resiko terkena dampak yang luar biasa dari pandemi Covid-19 ini. “Kebanyakan dari mereka menggantungkan hidupnya dari berburu dan menjual hasil buruannya untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras, sekarang sudah jarang orang mau membeli binatang buruan mereka karena dari berita yang ada di luar sana, virus ini ditularkan melalui memakan binatang liar yang ada di hutan. Oleh sebab itu toke-toke yang biasanya membeli hewan buruan mereka mulai enggan untuk membeli,” ujarnya.

Saat ini beberapa daerah memang telah mengalokasikan dana untuk jaring pengaman sosial untuk masyarakat akibat dari wabah ini. Namun kebanyakan daerah memerlukan data kependudukan agar dapat mengakses serta menyalurkan bantuan yang ada. “Hingga saat ini fasilitator kita di lapangan masih terus mendorong agar Orang Rimba yang ada di jalan lintas dapat terdata agar bisa menerima bantuan jaring pengaman sosial dari pemerintah,” tambah Robert.

Orang Rimba saat ini bisa disebut dalam masalah besar. “Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga, mereka tidak punya lahan untuk penghidupan sehari-hari, sekarang malah terkena dampak lebih parah karena Covid-19,” ujarnya.

Terdapat beberapa rombong yang ada di sepanjang jalan lintas sumatera. Salah satunya adalah Rombong Sahar yang bermukim di bawah perkebunan sawit milik warga di Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin. “Kita telah memberikan beberapa bantuan kepada rombong – rombong yang paling terdampak saat ini, salah satunya di Rombong Sahar. Keadaan mereka sangat tertekan, ada salah satu anggotanya yang terkena TB Paru. Ditambah dengan penghasilan mereka dari berburu yang hasilnya susah untuk dijual karena situasi ini, sehingga untuk membeli beras saja mereka tidak mempunyai uang,” kata Robert.

Pandemi covid-19 telah mempengaruhi sendi – sendi kehidupan manusia, baik itu masyarakat perkotaan hingga masyarakat adat juga turut terdampak. Ketahanan pangan yang menjadi persyaratan utama untuk bertahan hidup bagi Orang Rimba perlu dijadikan perhatian utama. Jangan sampai karena pandemi ini, kehidupan mereka yang sejak awal memang sulit, semakin bertambah sulit. Dari situasi ini tentu kita dapat melihat apa yang paling dibutuhkan oleh Orang Rimba, yaitu lahan penghidupan mereka. Perbedaan ketahanan pangan antara Orang Rimba yang masih memiliki hutan sebagai lahan penghidupannya dibanding dengan Orang Rimba yang berada di jalan lintas dan tidak memiliki lahan penghidupan dapat dijadikan tolak ukur akan pentingnya hal tersebut. Setidaknya Orang Rimba yang masih memiliki hutan, masih dapat menggantungkan hasil hutannya, walaupun itu tidak banyak, namun masih bisa menghidupi keluarganya yang hidup di dalam rimba. (Wahyu Priyanto)

error: Content is protected !!