Akhir-akhir ini, kita sering dibuat bingung oleh perubahan cuaca yang tak menentu. Dari siang hingga sore, panas terasa bedengkang, terik matahari seakan membakar ubun-ubun dan menimbulkan sakit kepala. Namun, menjelang petang, tiba-tiba saja hujan deras turun disertai petir dan angin kencang. Fenomena ini hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia selama April hingga Mei. Lalu, apa sebenarnya penyebabnya?

Berdasarkan analisis iklim terbaru untuk dasarian kedua Mei 2025, hanya sekitar 11 persen wilayah Zona Musim (ZOM) di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, mayoritas wilayah sekitar 73 persen masih berada dalam musim hujan. Ini berarti sebagian besar daerah sedang berada dalam fase pancaroba, yaitu masa peralihan antara musim hujan dan kemarau.

Pada fase ini, pola cuaca umumnya cerah dari pagi hingga siang hari, kemudian berubah menjadi hujan disertai petir pada sore atau malam. Dalam beberapa hari terakhir, hujan deras bahkan memicu terjadinya bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah. 

Kondisi ini juga dipicu oleh perubahan iklim yang membuat pemanasan global, sehingga membuat permukaan bumi menjadi sangat panas dan menyebabkan penguapan semakin tinggi. Dinamika cuaca yang saat ini masih menunjukkan transisi dari musim hujan menuju kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia. 

Fakta lain terkait perubahan iklim

  • Hutan kita pengendali perubahan iklim juga dapat memperparah krisis iklim karena tiap tahun selalu terjadi deforestasi. Di Jambi misalnya kehilangan hutan sebanyak 73% dalam 50 tahun terakhir. Pada 1973 tutupan hutan Jambi tercatat 3,4 juta hektare. Namun pada 2023, tutupan hutan di Jambi hanya tinggal 922.891 hektare. Kehilangan ini awalnya disebabkan perubahan kawasan hutan menjadi areal penggunaan lain, pemukiman, dan perkebunan. Kehilangan hutan ini akan melepaskan karbon ke udara sehingga memicu terjadinya pemanasan global. 
  • Isu perubahan iklim masih sulit dipahami oleh masyarakat, karena penjelasan terlalu teknis. Padahal untuk memahami perubahan iklim, kita bisa menganalogikan bumi kita sedang diselimuti  oleh gulungan polusi tebal yang kemudian membuat bumi kita kepanasan sehingga Suhu bumi yang terlalu panas menyebabkan cuaca ekstrim, kekeringan, hujan jadi sangat deras, dan permukaan laut naik menggenangi daratan.
  • Perempuan menjadi paling terdampak dari perubahan lingkungan 

Riset KKI Warsi dan Komnas Perempuan menemukan jika perubahan ekologi paling terdampak adalah perempuan. Seperti di Desa Sungai Telang perempuan yang memiliki pembagian peran dalam kegiatan mencuci, bertani, dan mengolah sawah menjadi pihak yang terdampak karena air sungai yang tercemar. 

  • Anomali cuaca yang sering tak menentu memperbesar risiko gagal panen

Petani kecil yang menjadi ujung tombak ketahanan pangan nasional. Kini mereka harus bergulat dengan tantangan perubahan iklim. Adaptasi dilakukan dengan cara menanam tanaman yang tangguh terhadap cuaca ekstrem seperti jagung dan hortikultura lain.

  • Mitigasi perubahan iklim perlu upaya yang menyeluruh 

Pemerintah harus menjamin akses terhadap teknologi, informasi, pembiayaan dan infrastruktur yang memadai. Selain itu, juga diperlukan penguatan kebijakan adaptasi yang sensitif gender untuk mitigasi dampak dan kerentanan terhadap perempuan karena perubahan lingkungan dan iklim.