Meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi menjadi peringatan serius untuk pentingnya menjaga hutan, sebagai penyangga kehidupan. Salah satu bentang alam yang masih tersisa di Jambi adalah Lanskap Berbak–Sembilang. Kawasan hutan yang didominasi oleh ekosistem rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan mangrove pesisir. Lanskap ini memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi sebagai habitat keanekaragaman hayati penting, penyimpan karbon dalam skala besar, pengatur tata air, sekaligus penyangga kehidupan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya. Pentingnya kawasan ini juga diakui secara internasional melalui penetapan sebagian wilayahnya sebagai Situs Ramsar dan Cadangan Biosfer UNESCO Berbak–Sembilang. 

Namun tidak bisa dipungkiri, di tengah nilai strategis tersebut, tekanan terhadap hutan terus terjadi. Hasil analisis terbaru KKI Warsi yang disampaikan pada awal Januari 2026 menunjukkan adanya kehilangan tutupan hutan sekitar 30 ribu hektare dalam periode 2024–2025, sebuah tren yang menjadi peringatan serius bagi upaya perlindungan hutan di provinsi Jambi.

Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, dalam sambutannya menjelaskan bahwa pada tahun 2024 luas tutupan hutan di Provinsi Jambi tercatat sekitar 957 ribu hektare. Namun, pada akhir tahun 2025, angka tersebut menurun menjadi sekitar 929 ribu hektare.
“Artinya, terjadi penyusutan atau kehilangan hutan sekitar 30 ribu hektare dalam periode 2024–2025. Padahal, jika melihat trend pada tahun-tahun sebelumnya, dari 2020 hingga 2024, kondisi tutupan hutan di Jambi relatif positif dan stabil. Penurunan ini tentu menjadi catatan penting bagi kita semua,” ujarnya, pada pembukaan pelatihan SMART Patrol untuk Mendukung Pengamanan Kawasan Hutan secara Kolaboratif di Lanskap Berbak–Sembilang yang diselenggarakan KKI Warsi berkonsorsium dengan Wahana Mitra Mandiri, dan Forum HarimauKita bersama Balai Taman Nasional Berbak-Sembilang, sebagai bagian dari program Integrated Tiger Habitat Conservation Programme (ITHCP) di Jambi, 19 Januari 2026. 

Adi Junedi menekankan kawasan konservasi masih memegang peranan penting dalam menjaga sisa hutan alam di Provinsi Jambi. Dari total hutan alam tersisa, lebih dari 60 persen berada di dalam kawasan Taman Nasional, atau sekitar 585 ribu hektare, termasuk di dalamnya Taman Nasional Berbak–Sembilang. “Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Taman Nasional memiliki peran yang sangat strategis dalam praktik penyelamatan hutan, tidak hanya di tingkat provinsi dan nasional, tetapi juga secara global,” tegas Adi Junedi.

Guna mempertahankan hutan di kawasan ini, pelatihan Smart Patrol dirancang untuk memperkuat kapasitas teknis dan kelembagaan para pihak dalam mendukung pengelolaan dan pengamanan kawasan hutan berbasis data, terintegrasi, dan kolaboratif.

Pelatihan ini dilaksanakan secara tatap muka pada 19–21 Januari 2026 di Jambi dan diikuti oleh petugas lapangan serta operator data yang terlibat langsung dalam kegiatan patroli dan pengelolaan data pengamanan kawasan. Para peserta dibekali keterampilan teknis perekaman data spasial menggunakan Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART), pengelolaan dan analisis data patroli, serta pemahaman bersama mengenai standar dan prosedur patroli kolaboratif yang disampaikan oleh narasumber dari Forum HarimauKita, Oktafa Rini Puspita dan Alfin Muhamad Alfiyasin.

Secara lebih spesifik, pelatihan ini mencakup penyegaran kembali pendekatan patroli berbasis SMART dalam konteks pengelolaan lanskap, pembaruan sistem SMART Desktop ke versi 7.5.10, penggunaan SMART Mobile untuk perekaman data lapangan, serta penguatan dan penyesuaian petunjuk teknis pengamanan kawasan hutan berbasis SMART. Seluruh materi dirancang agar selaras dengan dinamika pengelolaan kawasan serta perkembangan kebijakan terbaru.

Kepala Balai Taman Nasional Berbak–Sembilang, Yunaidi, dalam sambutannya menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data dan kolaborasi multipihak dalam pengelolaan kawasan konservasi.
“Penguatan pengelolaan kawasan konservasi dengan pendekatan SMART menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa upaya perlindungan kawasan tidak berjalan sendiri-sendiri. Data patroli yang akurat dan terintegrasi akan memperkuat pengambilan keputusan serta meningkatkan efektivitas pengamanan di lapangan,” ujarnya.

Pelatihan ini juga menegaskan bahwa tantangan pengelolaan kawasan konservasi tidak dapat dihadapi oleh satu pihak saja. Sinergi antara pengelola kawasan konservasi, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Taman Hutan Raya (Tahura), Manggala Agni, serta kelompok masyarakat, termasuk Masyarakat Mitra Polhut dan pemegang izin Perhutanan Sosial menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan Lanskap Berbak–Sembilang.

Lebih lanjut, Adi Junedi menekankan bahwa penguatan pengamanan kawasan melalui SMART Patrol juga berkontribusi langsung pada upaya perlindungan habitat Harimau Sumatera yang terus mengalami tekanan akibat penyusutan hutan.
“Dalam satu hingga tiga tahun ke depan, kita perlu berupaya bersama agar penurunan populasi Harimau Sumatera dapat ditekan, atau setidaknya dipertahankan, khususnya yang berada di kawasan Taman Nasional Berbak–Sembilang,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sistem pengamanan kawasan hutan yang lebih kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan. Dengan dukungan data yang andal serta komitmen multipihak, pengelolaan dan perlindungan Lanskap Berbak–Sembilang diharapkan mampu menjawab berbagai ancaman sekaligus menjaga fungsi ekologis dan sosialnya bagi generasi mendatang.