Pasaman, Sumatera Barat — Perempuan Nagari Tanjung Baringin, Kabupaten Pasaman, menunjukkan kiprahnya dalam mendorong tata kelola hutan yang inklusif sekaligus menggerakkan roda ekonomi berbasis potensi lokal. Mereka menghidupkan kembali tradisi membuat karupuak kaluai (kerupuk ubi) dan anyaman pandan liar, hasil hutan bukan kayu yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal.
Gerakan ini diprakarsai oleh kelompok perempuan yang menamakan diri Hutanita Puti Sangka Bulan, sebuah inisiatif kolektif yang lahir dari pelatihan bertajuk “Perempuan dan Tata Kelola Hutan” yang difasilitasi oleh KKI Warsi.
“Selama ini kami membuat kerupuk dan anyaman hanya untuk dikonsumsi sendiri. Sekarang, kami ingin menjadikannya usaha bersama. Kami ingin perempuan tidak hanya mandiri, tapi juga dihargai,” ujar Anis, anggota kelompok Hutanita.
Nagari Tanjung Baringin memang dikenal sebagai sentra kerupuk ubi di Kabupaten Pasaman. Namun, pamornya mulai meredup seiring waktu karena dominasi pelaku usaha lansia dan kurangnya regenerasi. Sementara itu, pandan liar yang tumbuh melimpah di sekitar hutan belum digarap maksimal.
Tidak mudah bagi perempuan untuk berkelompok dan membangun usaha bersama, seringkali sudah disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan domestik. Hingga batasan lain, misalnya tingkat pendidikan yang biasanya cenderung lebih rendah dibandingkan laki-laki. Karena itu pelatihan, ini bertujuan memperkuat peran perempuan dalam pengambilan keputusan, pemanfaatan sumber daya hutan, serta penciptaan nilai tambah ekonomi dari hasil hutan bukan kayu.

Pelatihan yang dilakukan menggunakan pendekatan Feminist Participatory Action Research (FPAR), para perempuan mulai memetakan potensi, mengidentifikasi tantangan, serta menyusun strategi pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal. Trainer pelatihan, Siska Okta Mahdona, menyebut bahwa FPAR bukan hanya metode riset, tapi ruang bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman dan membangun keberdayaan.
“Perempuan di Tanjung Baringin mampu memetakan persoalan, merumuskan solusi, dan menciptakan jalan keluar bersama. Ini praktik feminisme akar rumput yang hidup dan mengakar dari tapak,” ujarnya.
Melalui proses penyusunan sketsa wilayah dan analisis peta kuasa, para peserta mengidentifikasi dua produk unggulan: kerupuk kaluai dan anyaman pandan hutan. Mereka juga menyusun rencana aksi yang melibatkan kolaborasi dengan pemerintah nagari, KPHL Pasaman Raya, serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Pemerintah Nagari Tanjung Baringin menyambut baik inisiatif ini. Wali Nagari Ronal Yulmasri menyatakan komitmen untuk mendukung pengembangan kapasitas perempuan melalui pendanaan dan pelatihan teknis.
“Program ini memberi ruang bagi perempuan untuk tidak hanya ikut serta, tetapi juga menjadi pemimpin dalam pembangunan nagari. Ke depan, kami akan fasilitasi pelatihan teknis dari dana nagari,” ujarnya.
Langkah nyata Hutanita Puti Sangka Bulan menjadi pondasi penting dalam membangun ekonomi hijau berbasis komunitas. Dukungan kelembagaan, akses modal, serta pembukaan pasar, baik lokal maupun digital menjadi elemen kunci agar produk perempuan ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga simbol kemandirian dan keberlanjutan.
Pelatihan dan pendampingan diharapkan meningkatkatkan partisipasi perempuan Tanjung Baringin tidak lagi menjadi penonton, melainkan aktor utama dalam pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan. Suara dan kontribusi mereka menjadi krusial dalam membentuk kebijakan dan praktik yang mencerminkan keadilan sosial, keberlanjutan ekologis, dan kesejahteraan kolektif.