Cahaya matahari dari timur mulai muncul dari sela-sela perbukitan, ketika masyarakat Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, memulai perjalanan ke ladang Yusuf Apui. Mereka berjalan menuju dermaga desa sembari saling lempar candaan. Sampai di dermaga mereka menanti perahu ketinting yang akan mengantarkan mereka ke ladang yang berlokasi di seberang kampung itu. Perlengkapan untuk berladang tersusun dalam keba -sejenis alat angkut tradisional yang terbuat dari rotan-, menggantung di pundak para warga. Tak ketinggalan, saung dari daun sang (Johannesteijsmannia) melindungi kepala para petani dari sengatan matahari. Namun udara panas dan kering ini masih saja tak dapat dihalau pergi.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari 5 menit menggunakan perahu ketinting berkekuatan 15 Paardekracht, para petani itu tiba di ladang. Dengan sigap mereka menyimpan barang yang belum akan digunakan di pondok pinggir ladang. Keba yang dibawa sedari tadi kini disi dengan benih padi dan terkadang botol air putih. Ladang Yusuf tidak begitu datar, beberapa bagiannya adalah bukit yang menanjak. Ya, hari ini para petani Apau Ping itu melaksanakan kegiatan senguyun.
Senguyun merupakan tradisi kerja sama atau gotong royong yang telah dirawat secara turun temurun hingga saat ini. Sementara kegiatan menanam padi di ladang kering itu disebut nugal. Benih padi yang akan ditanam merupakan hasil panen sebelumnya yang telah disimpan sebagian untuk musim tanam berikutnya, dan begitu seterusnya siklus ini berulang. Bagi masyarakat Apau Ping, menanam padi merupakan penopang utama sumber pangan keluarga. Membangun ketahanan pangan keluarga, wajib hukumnya bagi masyarakat Apau Ping, mengingat desa ini berada paling ujung di Kalimantan Utara, berbatasan langsung dengan Malaysia. Desa ini bisa diakses dengan menggunakan long boat dengan perjalanan tiga hari perjalanan dari Tanjung Selor Kota terdekat desa ini, jika kondisi air sungai sedang baik, dan bisa lebih panjang kalau kondisi sungai banjir atau malah surut.
Pada proses senguyun nugal ini, masyarakat membagi tugas dalam dua kelompok. Kelompok pertama bertugas membuat lubang di tanah menggunakan batang kayu yang ujung bawahnya telah diruncingkan agar mampu menembus permukaan tanah. Disusul di belakangnya, kelompok kedua yang menaburkan benih padi yang dibawa menggunakan kantong dari kulit labu (Lagenaria siceraria) yang sudah dikeringkan. Ladang menanjak berpadu udara panas membuat peluh bercucuran ke tanah.
Sistem pertanian di Apau Ping masih dijalankan secara subsisten, di mana hasil ladang lebih banyak digunakan untuk konsumsi keluarga daripada dijual. Komoditas utama yang dihasilkan mencakup padi ladang sebagai sumber karbohidrat pokok.
Area perladangan Apau Ping berada di sekitar pemukiman, di mana satu hamparan perladangan berisi 3 – 5 ladang masyarakat. Langkah ini dipilih untuk meminimalisir serangan hama, serta lebih mudah mengawasi tanaman dari serangan binatang. Sebelum memilih lokasi ladang yang digarap tahun ini, masyarakat telah melakukan survei lokasi dan musyawarah. Pemilihan lokasi didasarkan pada kesuburan tanah, sumber air (sungai) dan kemudahan akses dari kampung. Jarak ladang masyarakat Apau Ping bervariasi, mulai dari yang paling dekat berada di ujung dan seberang kampung, hingga yang terjauh mencapai 5 km menyusuri hulu sungai Bahau.
Tradisi di masyarakat Dayak, berladang dilakukan dengan melihat kondisi tanah, Tidak dengan sistem pertanian intensif. Ladang hanya digunakan untuk sekali musim tanam, kemudian tanah diberakan -distirahatkan-, sampai kemudian ladang itu dianggap siap untuk ditanami kembali. Dengan cara ini kesuburan tanah dapat dipertahankan. Daur penggunaan ladang ini dengan siklus gilir balik 4–5 tahun sekali. Artinya, lahan yang dibuka dan ditanami tahun ini akan kembali digunakan setelah dilihat masa kesuburan tanahnya pulih. Maka, masyarakat akan senguyun membuka bekan (bekas ladang berusia 3-5 tahun) atau jakau (bekas ladang berusia 10 tahun). Hampir seluruh kegiatan pertanian dilakukan secara senguyun dan balas budi. Masyarakat secara bergilir bekerja sama membuat ladang, menanam padi (nugal), dan panen dari satu ladang ke ladang milik masyarakat lain di desa.
Dalam mengelola pertanian, 3-5 KK yang berada pada satu hamparan perladangan juga melakukan praktik senguyun berskala kecil. Mereka membangun sebuah pondok yang lengkap dengan tempat istirahat dan dapur. Pada siang hari, pekerjaan yang dilakukan adalah menyiangi rumput dan menjaga padi dari serangan hama. Mereka akan saling menjaga ladang satu sama lain, terutama jika si pemilik sedang berhalangan datang ke ladang.
“Ladang ini sudah berusia 2 tahun. Beginilah cara kami hidup terbatas di perbatasan ini. Hutan telah lama menghidupi kami, dari sini pula kami bisa menanam padi dan mendapatkan makanan. Makanya tidak mungkin kami merusak rumah kami sendiri”, ucap Yusuf Apui.
Masyarakat memakai sistem perladangan berpindah dengan siklus waktu tertentu agar lahan yang sudah dipakai diberikan waktu pemulihan (fallow period). Dengan istirahat lahan, kesuburan tanah bisa kembali, sehingga keanekaragaman tanaman dan organisme tanah dapat dipertahankan. Sebab hingga kini sistem pertanian Apau Ping masih mengandalkan unsur hara alami tanah tanpa menggunakan pestisida sintetik.
Ladang berpindah telah lama menjadi praktik ketahanan pangan. Bukan hanya padi latak, bahasa lokal untuk menyebut beras putih (Oryza sativa) yang ditanam, melainkan juga beras ketan (Oryza sativa var. glutinosa). Selain itu masyarakat Apau Ping juga berkebun sayuran, ubi, jagung, mentimun, cabai, kacang tanah, dan buah-buahan lainnya untuk ketahanan pangan keluarga. Sedangkan tanaman kakao dan kopi lebih banyak diperuntukkan sebagai sumber uang tunai. Hasil panen, berkarung padi akan disimpan di lumbung atau rumah, lalu beberapa bagian akan mereka sisihkan sebagai benih pada tahun tanam berikutnya. Padi itu bukan hanya menjadi beras untuk pangan sehari-hari, namun juga dijadikan tepung beras agar dapat menjadi makanan olahan lain.
Bagai pisau bermata dua, tantangan justru muncul di sisi yang lain. Perputaran ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah yang sulit dipecahkan. Hasil padi melimpah untuk sekedar memenuhi kebutuhan beras rumah tangga bahkan desa. Hasil panen beberapa tahun belakang masih tersisa di lumbung – lumbung mereka. Keterbatasan akses pasar dan transportasi menjadi salah satu kendala untuk mendistribusikan padi ke daerah lain. Lain cerita dengan kakao dan kopi, ada tengkulak lokal yang akan menampung biji kakao dan kopi untuk dipasarkan ke daerah lain, terlepas dari harga beli yang fluktuatif.
“Sebenarnya padi kami banyak sampai tersisa. Tapi kalau mau dijual ke kota, kami gak bisa balik modal. Kalau mau dijual di sini, ya semuanya kan tanam padi juga,” begitu cerita salah satu warga sambil menyantap makan siang yang disiapkan tuan rumah senguyun hari ini.
Santapan makan siang sederhana lengkap dengan kopi panas yang manis dan beberapa kudapan telah dihidangkan, siap mengisi ulang tenaga. Suara candaan diselingi tawa masih saling bersahutan. Tanpa percakapan soal tantangan hidup di perbatasan itu, sulit diketahui bahwa mereka telah lama hidup dengan segala keterbatasan akses.