Pengalaman masyarakat dalam menjaga hutan dan mengelola sumber daya alam menjadi pembelajaran penting dalam pengembangan pasar karbon yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pesan tersebut disampaikan oleh Emmy Primadona dari KKI Warsi dalam forum internasional Launching the Forum Community of Practice: Gathering Insights and Building Alliances yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan London Climate Action Week di London, Selasa 23 Juni 2026.

Forum yang diselenggarakan oleh Engagement Forum, Flora & Fauna, Plan Vivo, dan LEVEL ini menjadi ruang pembelajaran bersama bagi berbagai aktor dalam ekosistem pasar karbon, mulai dari perwakilan masyarakat adat dan komunitas lokal, organisasi masyarakat sipil, pengembang proyek karbon, penyusun standar, pembeli karbon, hingga investor.

Kegiatan ini menandai peluncuran Community of Practice (CoP), sebuah platform pembelajaran berbasis komunitas yang dirancang untuk memastikan pengalaman, pengetahuan, dan kepemimpinan masyarakat adat serta komunitas lokal dapat membentuk bagaimana pasar karbon dikelola, standar ditetapkan, serta proyek karbon dirancang dan dijalankan.

Dalam forum tersebut, Emmy Primadona menyampaikan perspektif KKI Warsi sebagai Project Developer Community PES Bujang Raba bahwa keterlibatan komunitas dalam proyek karbon tidak boleh dipahami hanya sebagai pemenuhan aspek partisipasi, perlindungan sosial (social safeguard), atau pengurangan emisi semata.

“Bagi WARSI, CoP bukan hanya sekadar wadah partisipasi. CoP merupakan bagian penting dalam memastikan komitmen jangka panjang, keberhasilan proyek secara menyeluruh, peningkatan ekonomi masyarakat, serta terciptanya kondisi yang mendukung keberlanjutan setiap proyek karbon,” ujar Emmy.

Menurutnya, pasar karbon perlu mulai melihat komunitas sebagai pemimpin dalam proyek, bukan hanya sebagai penerima manfaat atau pelaksana kegiatan. Masyarakat yang hidup bersama hutan memiliki pengetahuan, pengalaman, dan peran utama dalam menjaga keberhasilan serta integritas sebuah proyek karbon.

“Setiap langkah yang dilakukan komunitas dalam menjaga hutan harus mendapatkan pengakuan dan apresiasi. Mereka bukan hanya bagian dari proyek, tetapi merupakan penggerak utama yang menentukan keberhasilan di lapangan,” tambahnya.

KKI Warsi melihat bahwa salah satu tantangan besar dalam pengembangan pasar karbon saat ini adalah belum sepenuhnya terbangun sistem yang koheren dan sinergis dalam mengintegrasikan kepemimpinan komunitas ke dalam mekanisme pasar karbon.

Di sinilah CoP memiliki peran strategis, yaitu menghadirkan ruang dialog yang terbuka antara komunitas dan berbagai aktor pasar karbon untuk membangun pemahaman bersama, berbagi pengalaman, serta mencari solusi yang lebih adil.

Melalui CoP, para pihak tidak hanya berbicara tentang komunitas, tetapi belajar bersama komunitas. Platform ini mendorong pertukaran praktik, diskusi yang terbuka, serta pembelajaran kolektif agar perspektif masyarakat dapat bergerak dari posisi pinggiran menuju pusat tata kelola pasar karbon.

Dalam kesempatan tersebut, Emmy juga menekankan beberapa hal penting yang perlu dilakukan oleh pengembang proyek karbon (project developer) dalam mendukung CoP.

Pertama, project developer perlu membuka ruang bagi komunitas untuk terlibat dalam pengambilan keputusan dan menjadi bagian dari kepemimpinan proyek. Pemahaman terhadap kebutuhan, aspirasi, dan pengetahuan lokal masyarakat menjadi fondasi penting bagi keberhasilan jangka panjang.

Kedua, project developer perlu aktif belajar dan mengintegrasikan hasil pembelajaran dari CoP ke dalam desain dan implementasi proyek, termasuk penerapan standar serta praktik terbaik yang dibangun bersama.

Ketiga, developer memiliki peran penting dalam menjembatani komunitas dengan pasar karbon, sehingga nilai kontribusi masyarakat dapat diakui secara adil, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun ekologis.

Keempat, penguatan kapasitas komunitas menjadi bagian penting agar masyarakat mampu berperan dalam pengelolaan sumber daya, tata kelola proyek, serta pengambilan keputusan terkait masa depan hutan mereka.

Bagi KKI Warsi, pengalaman Community PES Bujang Raba menunjukkan bahwa perlindungan hutan dan solusi iklim hanya dapat berjalan ketika masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama.

Dengan pendekatan berbasis komunitas, pasar karbon tidak hanya menjadi mekanisme ekonomi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat perlindungan hutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memastikan keberlanjutan ekosistem.

“Transisi menuju pasar karbon yang lebih adil membutuhkan perubahan cara pandang. Komunitas harus ditempatkan sebagai mitra dan pemimpin, karena merekalah yang menjaga hutan setiap hari,” tutup Emmy.