Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) merupakan kawasan dengan nilai konservasi tinggi yang berfungsi sebagai habitat penting bagi harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), salah satu spesies endemik yang terancam punah dan telah ditetapkan sebagai salah satu dari 25 spesies prioritas nasional. Saat ini, populasi harimau di lanskap ini menghadapi tekanan akibat degradasi habitat, perburuan, dan meningkatnya konflik manusia-satwa liar.

Dengan kondisi demikian perlu adanya upaya konservasi. Namun, konservasi satwa liar, khususnya Harimau Sumatera ini, memerlukan sistem monitoring yang terencana, terstandarisasi, dan berkelanjutan. Berdasarkan pengalaman pemantauan populasi harimau di Taman Nasional Berbak dan Sembilang sejak tahun 2007 menunjukkan bahwa kegiatan monitoring memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika populasi, efektivitas intervensi konservasi, serta dalam merumuskan strategi pengelolaan kawasan yang adaptif.

Seiring dengan dinamika ancaman, keterbatasan sumber daya, serta kebutuhan untuk memperluas pendekatan monitoring tidak hanya pada harimau tetapi juga satwa liar kunci lainnya, diperlukan forum bersama untuk menyamakan persepsi, mengevaluasi praktik monitoring yang telah berjalan, dan merumuskan strategi monitoring satwa liar di Taman Nasional Berbak dan Sembilang ke depan yang terintegrasi dengan pengamanan kawasan, pengelolaan habitat, dan kebijakan nasional.

KKI-WARSI yang didukung oleh Forum HarimauKita melalui program Integrated Habitat Conservation Program (ITHCP) dari IUCN bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang, dalam upaya Penguatan Fungsi Kawasan Taman Nasional Berbak dan Taman Nasional Sembilang Melalui Upaya Konservasi Harimau Sumatera.

Dalam proses perancangan strategi, teridentifikasi sejumlah tantangan utama, khususnya terkait perlunya penguatan standar operasional prosedur (SOP) penggunaan kamera jebak (camera trap) dalam monitoring Harimau Sumatera, serta pentingnya peningkatan sinergi antar pemangku kepentingan dalam pengelolaan dan pemanfaatan data satwa liar.

Menindaklanjuti hasil tersebut, dilakukan pelatihan sebagai upaya peningkatan kapasitas teknis, yang mencakup penggunaan kamera jebak, penyusunan SOP monitoring, serta perumusan strategi monitoring Harimau Sumatera tidak hanya di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang namun juga dalam skala Lanskap Berbak-Sembilang.

Pelatihan yang dilakukan pada tanggal 6-7 April 2026 ini melibatkan BTNBS, Dinas Kehutanan Jambi, BKSDA Jambi, Tahura Orang Kayo Hitam, Forum Harimau Kita, serta private sector.

“Saya berterimakasih kepada KKI WARSI dan WMM yang ikut membantu mengupayakan konservasi di TNBS.Harimau sumatera merupakan 1 dari 25 spesies langka yang perlu di selamatkan. Hal ini terjadi karena adanya interaksi negatif antara manusia dan harimau, pembukaan lahan, maupun ilegal logging. Tujuan pelatihan ini adalah untuk:

  • Penguatan sop kamera trap
  • Peningkatan sinergi pemangku kepentingan dalam pengelolaan dan pemanfaatan data satwa liar

kami berharap dengan adanya pelatihan ini dapat membantu penguatan dalam rangka upaya konservasi harimau sumatera yang lebih baik lagi,” ucap Yunaidi, Kepala Balai Taman Nasional Berbak-Sembilang.

Pelatihan mencakup pembelajaran dari pemantauan populasi Harimau Sumatera, kesiapan kelembagaan, arah pengembangan sistem data dan pemanfaatan hasil monitoring, hingga perumusan rekomendasi awal strategi monitoring satwa liar di Lanskap Berbak- Sembilang. Untuk memperkuat strategi pemantauan, juga dilakukan peningkatkan kapasitas teknis para pihak terkait, dalam penggunaan kamera jebak untuk monitoring Harimau Sumatera dan satwa mangsanya sesuai dengan standar yang disepakati.