Oleh: Abdis Sallam Fajri/Knowledge Management KKI Warsi

Hutan telah lama menjadi bagian dari kehidupan Sinta, perempuan dari komunitas Orang Rimba yang tinggal di kelompok Temenggung Yudi, Desa Pelakar Jaya, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi. Dari rimba makanan diperoleh, berbagai tanaman pangan, hingga mempelajari obat-obatan alami yang selama ini menopang kehidupan komunitasnya. Kisah itu ia ceritakan pada webinar PARARA Internasional Women’s Day, Selasa (10/03/26).

Setiap hari, perempuan di komunitasnya terbiasa mengenali berbagai tanaman yang tumbuh di hutan. Pengetahuan ini diwariskan melalui praktik sehari-hari, dari ibu kepada anak perempuan mereka. Sinta, yang saat ini diperkirakan sekitar 40 tahun, mengenang masa kecilnya ketika hutan masih menyediakan berbagai kebutuhan hidup dengan berlimpah, sebuah ingatan yang sulit ditentukan waktunya, karena Orang Rimba tidak mengenal penanggalan seperti masyarakat pada umumnya. Ia sejenak mengingat masa itu sebelum melanjutkan ceritanya.

“Dulu rimba berbuah banyak. Kami hidup dari rimba,” katanya pelan.

Namun kondisi itu perlahan berubah. Dalam beberapa dekade terakhir, ruang hidup Orang Rimba terus menyusut seiring berkurangnya hutan di wilayah Provinsi Jambi, termasuk hutan tempat kelompok Sinta hidup seketika berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Analisis citra satelit yang dilakukan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dalam 52 tahun terakhir, sejak tahun 1973 sampai 2025 tutupan hutan Jambi  hilang 2,5 juta hektare. Kehilangan hutan terbanyak akibat alih fungsi menjadi hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit.

Kehilangan hutan ini terus berlanjut, dilihat dalam dalam sepuluh tahun terakhir, 2016 hingga 2025, masih tercatat kehilangan 112.372 hektare tutupan hutan.  Hilangnya hutan dipicu aktivitas pertambangan, kebakaran hutan dan lahan serta aktivitas lainnya yang menyisakan ruang terbuka di Provinsi Jambi.  Data menunjukkan, seluas 16 ribu hektare Areal Penggunaan Lain (APL) di kelola untuk batubara, melalui sistem tambang terbuka. Sementara itu, 60.224 hektar aktivitas tambang emas ilegal turut menghancurkan hutan dan sungai melalui penggalian yang tidak terkendali.

Penyusutan hutan ini tidak hanya mengubah lanskap, tetapi juga cara hidup komunitas yang bergantung pada hutan sebagai sumber pangan. Saya dari kecil hidup di rimba mengambil obat-obatan dan buah-buahan, tapi sekarang rimba sudah menjadi lahan sawit,” ujar Sinta.

Saat Hutan Berubah

Cerita perempuan dari komunitas adat, terutama mereka yang hidup di wilayah hutan, masih jarang muncul dalam pembahasan mengenai perubahan lingkungan dan ketahanan pangan. Padahal bagi komunitas seperti Orang Rimba, perubahan pada hutan secara langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk sistem pangan yang selama ini mereka jalankan. Orang Rimba menghadapi perubahan yang berlangsung cepat, tanpa mereka sadari konsekuansi perubahan itu. Perubahan ruang hidup memaksa mereka beradaptasi, sementara bekal untuk beradaptasi belum mereka miliki dengan baik.

Salah satu adaptasi yang dijalani adalah menjadi hidup menetap. Dari kelompok pemburu dan peramu, Orang Rimba dibangunkan pemukiman dan direlokasi ke kawasan yang ditunjuk pemerintah, melalui Dinas Sosial. Bekal lainnya untuk hidup menetap masih sangat minim, termasuk cara beradaptasi untuk bertahan hidup tanpa rimba. Seperti kelompok Sinta yang tinggal di Pamenang, menempati pemukiman yang dibangun pada Dekade 2000-an.

Tertatih Orang Rimba melakukan penyesuaian,  menjalani transisi sosial. Perubahan ini tidak serta merta bisa dilakukan Orang Rimba, butuh waktu yang sangat panjang sehingga mereka kini perlahan bisa melakukan penyesuaian. Misalnya saja Orang Rimba diakomodir sebagai bagian dari masyarakat desa, setelah melalui advokasi panjang berbagai pihak, termasuk KKI Warsi yang sejak awal memperjuangkan perlindungan sumber hidup dan pengakuan hak-hak masyarakat adat.  Diantara perjuangan itu adalah pencatatan administrasi terhadap Orang Rimba dan terintergrasi dengan pemerintahan desa. Dengan pola ini, ada peluang Orang Rimba untuk masuk dalam perencanaan pembangunan desa serta pelibatan mereka dalam pengambilan keputusan di desa. termasuk dukungan untuk memperoleh pengetahuan baru untuk budidaya tanaman pangan.

Jika sebelumnya kebutuhan pangan banyak diperoleh dari hutan melalui berburu, meramu, atau memanfaatkan tanaman liar, kini sebagian dari mereka mulai belajar membudidayakan tanaman di sekitar tempat tinggal. Proses ini tidak selalu mudah, karena sebagian besar pengetahuan pangan mereka sebelumnya berakar pada pemanfaatan sumber daya hutan. Namun, Orang Rimba di Pamenang perlahan mencoba menyesuaikan diri dengan cara hidup yang baru.

Dalam proses ini, perempuan mulai mengambil peran melalui berbagi ruang belajar yang dibangun di komunitas. Salah satunya adalah adalah forum kelas perempuan adat.

Hesti, fasilitator KKI Warsi yang juga menjadi narasumber dalam webinar tersebut, menjelaskan bahwa kelas perempuan membantu meningkatkan keberanian perempuan untuk terlibat lebih aktif menyampaikan aspirasi dan kebutuhan komunitas, seperti melalui musyawarah perencanaan pembangunan desa.

Dari ruang belajar ini, perempuan Orang Rimba juga mencoba berbagai cara untuk memperkuat ketahanan pangan. Salah satunya dengan menanam tanaman hortikultura di sekitar tempat tinggal mereka. Beberapa jenis tanaman yang telah dipanen antara lain kangkung dan jagung.

Upaya ini menjadi bagian dari cara komunitas beradaptasi dengan perubahan lingkungan sekaligus menjaga ketersediaan pangan di tengah semakin terbatasnya akses terhadap hutan.

Mendengar Suara Perempuan dari Komunitas Adat

Peringatan Internasional Women’s Day menjadi momentum untuk menghadirkan suara perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk perempuan dari komunitas adat yang jarang muncul dalam percakapan publik mengenai perubahan lingkungan dan pergeseran ruang hidup.

Sinta masih mengingat ketika rimba berbuah lebat dan menjadi sumber berbagai kebutuhan hidup komunitasnya. Hutan tempat Orang Rimba hidup dipenuhi berbagai buah-buahan, seperti durian, kuduk kuya, mata kucing, ajon, sengkoyo, rambutan, dekat, buasiu, hingga siabuk. Kini ketika rimba semakin menyusut, yang terancam bukan hanya pohon. Bersamanya ikut dipertaruhkan pengetahuan, pangan, dan cara hidup yang selama ini dijaga perempuan Orang Rimba.