Beberapa tahun silam, ada sosok yang dengan tenang menyusuri pedalaman hutan hutan Kalimantan. Dengan perawakan yang cukup nyentrik dan ukuran tubuh yang cukup besar. Sosok ini pemalu yang tidak menyukai perjumpaan dengan manusia. Sosok ini bukanlah penguasa hutan, bukan pula sosok buas yang mendominasi. Akan tetapi kehadirannya menyimpan pesona magis yang luar biasa. Bahkan perjumpaan dengan sesamanya akan di hindari jika tidak ada hal penting yang akan di lakukan semisal untuk mating, bercerita, bercengkerama ataupun bermain bersama. Siapakah sosok ini? Dia adalah Macan Dahan Kalimantan, Si Pemalu penjelajah sunyi di antara dahan-dahan tinggi hutan Kalimantan.

Macan Dahan Kalimantan (Neofelis diardii borneensis) adalah salah satu subspesies dari Macan Dahan Sunda yang endemik Pulau Kalimantan dari keluarga Kucing-Kucingan (Felidae). Ya, dia masih satu keluarga dengan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis). Tubuhnya tidak sebesar Harimau Sumatera, namun pola garis gelap dan corak tutul di tubuhnya jutru memberikan penampilan eksotis dan penuh pesona. Di desain dengan tubuh yang lentur dan ekor panjang yang mana berfungsi sebagai penyeimbang membuat dia mendapatkan gelar Si Pemanjat Ulung Penghuni Pohon di dunia.

Bagi Masyarakat Dayak, Si Pemalu ini di panggil “Kule/Kole”, sering diberikan untuk nama mereka dan simbol kebangsawanan dan juga bagian dari roh hutan yang suci. Si Pemalu ini hidup berdampingan dengan mereka. Dia sering dianggap sebagai pelindung, di hormati dan simbol keseimbangan alam. Sayangnya, Si Pemalu yang menyukai ketenangan ini saat ini sudah mulai terusik. Hutan-hutan tempatnya bersembunyi terus di tebang, digantikan dengan pertanian dan perkebunan monokultur, pertambangan maupun perburuan liar. Rumah yang selama ini menjadi tempat paling aman kini perlahan menghilang hingga jumlah keluarga merekapun terus menurun, hingga akhirnya dia resmi masuk dalam daftar spesies yang terancam punah menurut IUCN Redlist.

Salah satu metode pengamatan untuk memantau keberlanjutan hidup mereka adalah menggunakan camera trap, namun ini tidak bisa hanya sekedar menggantungkan harapan pada alat ini. Mereka butuh aksi nyata yaitu perlindungan hutan, penghentian perburuan liar dan edukasi masyarakat agar Si Pemalu ini dapat tetap bisa menjelajah dalam kesunyian, diam-diam bisa melanjutkan perannya menjaga ekosistem hutan Kalimantan. Menjaga si Pemalu ini berarti menjaga warisan leluhur dan keharmonisan antara manusia dan alam, seperti yang telah lama diajarkan oleh para Tetua Dayak.