“Aplikasi PRM-AID ini dibuat untuk warga, dikelola oleh warga dan data-datanya dikumpulkan oleh warga”

Kisah Ulfah (Panggilan Akrab Ulfah fauziah), seorang perempuan Alumni Antropologi Universitas Andalas yang memutuskan menjadi fasilitator di Desa Long Alango. Sebuah desa di Kecamatan Bahau Hulu yang terletak di Kalimantan Utara dan berbatasan dengan Malaysia. Desa tersebut dihuni oleh mayoritas dari Suku Kenyah yang masih memegang teguh adat istiadatnya dalam menjaga hutan. Disana mereka memiliki tanah ulen yang sangat dijaga kelestariannya.

“Tidak diperbolehkan untuk siapapun mengambil kekayaan alam yang ada di area tersebut, kecuali untuk kepentingan umum. Misalnya, untuk acara pernikahan, dan acara desa. Karena sangat kuat budaya untuk menjaga hutan di Desa Alango” Kata Ulfah

Warga Desa Alango juga dikenal masih menerapkan budaya senguyun (gotong royong) ketika ada panen, dimana semua warga harus terlibat dan saling membantu, sehingga ketika hasil panen semua warga sibuk di ladang secara bergiliran untuk membantu satu sama lain.

Mereka juga memiliki lumbung padi desa, dimana setiap orang memiliki lumbung sendiri karena melimpahnya hasil panen. Lumbung padi tersebut dibuat secara terpisah dari tempat tinggal mereka, tujuannya jika ada kebakaran di wilayah permukiman, maka lumbung padi tidak akan ikut terbakar.

Untuk menuju desa tersebut, ulfah kerap melawan rasa takutnya menaiki loangboat selama dua hari melewati sungai dengan banyak giram. Pasalnya, ia belum terbiasa naik loangboat berhari-hari, biasanya hanya beberapa jam saja.

Awal kedatangannya di Desa Long Alango, ia ditemani oleh bang Furwoko selaku Koordinator Project. Disana mereka disambut hangat oleh pemerintah Desa Long Alango. Pada kesempatan tersebut, mereka menyampaikan maksud dan tujuannya untuk membangun Sistem Informasi Desa PRM-AID. Sebuah Aplikasi yang dapat membantu pemerintah desa dan masyarakat setempat membangun database online desa, secara partisipatif.

Pemerintah Desa Long Alango menyambut baik iqtikad tersebut, dan bersepakat untuk membentuk tim kerja sosial, spasial dan entry data. Pembentukan tim kerja langsung disiapkan oleh pemerintah desa dan dipilih secara partisipatif berdasarkan kriteria yang dibutuhkan untuk program ini.

Memfasilitasi pembangunan Sistem Informasi Desa PRM-AID tidaklah mudah, karena warga Desa Alango sangat kritis . Ditambah adanya kabar burung jika datanya akan disalahgunakan atau dijual. Mengatasi hal tersebut, Ulfah menjelaskan kepada warga bahwa PRM ini dibuat untuk mereka bukan untk KKI WARSI, artinya aplikasi tersebut milik warga, dikelola oleh warga dan dikumpulkan data-datanya oleh warga.

Dengan begitu, warga tidak menaruh rasa curiga dan khawatir karena proses pengambilan data, baik spasial dan sosial serta penginputan data semuanya melibatkan warga Desa Alango.

Pintu masuk  yang juga dilakukan ulfah untuk menjalin kedekatan dengan warga melalui aktif terlibat dalam aktivitas-aktivitas warga atau bahkan dalam setiap acara.

“Kalo ada acara pernikahan, saya ikut bantu-bantu dan menari bersama mereka“

Karena pada kegiatan tersebut akan berkumpul banyak warga, sembari memperkenalkan diri dan maksud kedatangannya ke desa tersebut.

Kendala lain yang tak kalah pelik  dialami oleh ulfah, dimana ia pernah terpapar covid-19, ia harus di isolasi selama 40 hari di desa dengan alat kesehatan yang sangat minim. Apalagi saat itu, ia sempat sesak nafas dan membutuhkan oksigen. Akhirnya, seluruh lampu di Desa Alango dimatikan untuk menghidupkan oksigen tersebut. Syukurnya, ia bisa melalui kondisi kritis tersebut.

Meski demikian, perjuangan ulfah fauziah tidak sia-sia, pasalnya sistem informasi desa PRM AID di Desa Long Alango sudah bisa digunakan oleh pemerintah desa, baik secara ofline maupun online. Dimana, Sistem Informasi Desa Long Alango dapat diakses secara online pada  https://longalango.desa.id/ (Peri Anggraeni)