Firdan Grita Sukma (Community Facilitator KKI WARSI)

Indudur adalah nama sebuah Nagari yang berada di Kecamatan IX Koto Sungai Lasi Kabupaten Solok. Terletak di ketinggian lereng perbukitan, bahkan ketika memasuki pintu masuk dari jalan utama Solok, siapapun yang berkunjung kesana sudah disuguhkan dengan perbukitan, jalan mendaki dan berliku-liku. Hal ini, semakin menambah eksotisme nagari ini saja.

Tidak hanya itu, kondisi nagari yang berada di perbukitan dengan dikelilingi Kawasan hutan, menjadi alasan dibalik pengusulan skema perhutanan sosial disana. Masyarakat Nagari Indudur sadar akan pentingnya memiliki hak atas pengelolaan Kawasan hutan. Singkatnya, baru pada tahun 2015 masyarakat menerima SK pengesahan Hutan Kemasyarakatan dengan luas 240 Ha.

Untuk jumlah KK, masyarakat Nagari Indudur memang terbilang sedikit dibanding nagari lain di Sumatra Barat, tapi jangan salah, semangat masyarakat untuk memanfaatkan hutan sebagai Kawasan perladangan tanaman tua (agroforest) seperti manggis, durian, dan kemiri sudah dimulai semenjak nagari ini berdiri. Adagium, Alam (Hutan) adalah ibu yang baik, sangat tepat sekali. Tidak hanya tanaman buah, HHBK dan kayu-kayuan yang dihasilkan, Hutan Nagari Indudur menyediakan sumber air bagi irigasi persawahan masyarakat.

Selain itu, semenjak memperoleh pengakuan atas hak kelola Hutan Kemasyarakatan, membuka peluang bagi masyarakat untuk pemanfaatan jasa lingkungan, salah satunya adalah sumber air di Kawasan hutan, yang selama ini hanya dimanfaatkan untuk sumber air irigasi, kemudian dikembangkan untuk pengembangan usaha air bersih.

Secara konsep, pemanfaatan jasa lingkungan sendiri dari sisi ekologi terbagi atas beberapa bentuk, seperti pemandangan yang indah, perairan, tanah yang subur, udara yang bersih, dan sebagainya. Berdasarkan itu juga jasa lingkungan bisa menghasilkan kegiatan ekonomi yang diprakarsai oleh masyarakat sebagai imbas dalam menjaga lingkungan.

Untuk lebih memudahkan dalam memahami historis pemanfaatan jasa air di Nagari Indudur perlu dilakukan penelusuran jauh kebelakang.

Sumber Air dari Hutan

Pada tahun 2013, KKI WARSI hadir di Nagari Indudur untuk melakukan Pendampingan dan penjajakan peluang inisiatif pengelolaan lingkungan dan Kawasan hutan. Momen puncaknya adalah ketika kegiatan Participatory Conservation Planning (PCP). Dengan menggandeng Pemerintahan Nagari, kegiatan ini mengundang beberapa unsur masyarakat dari Niniak Mamak, Bundo Kanduang, Tokoh Masyarakat, dan Pemuda untuk membahas apa saja potensi yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Nagari pada sektor ekonomi, sosial, dan ekologi. Terdapat 3 potensi utama yang di identifikasi yaitu sawah, HHBK berupa hasil buah – buahan tanaman tua, dan sumber air bersih.

Barulah upaya untuk mulai menggambleng pengelolaan air bersih dilakukan pada tahun 2018. Memang agak jauh rentang dari 2013 ke 2018, tapi proses ini saling mendukung, apalagi dengan telah diperolehnya SK Hutan Kemasyarakatan tahun 2015, yang semakin menguatkan posisi masyarakat dalam mengelola potensi yang ada di Kawasan hutan mereka. Pada tahun 2018 ini pemerintah Nagari memfasilitasi untuk dilakukan uji laboratorium sumber air yang dihasilkan dari mata air Luak Pincuran, ke Bukik Limau Manih. Uji laboratorium air tersebut untuk mengetahui kelayakan konsumsi, meskipun sejak dahulu masyarakat sudah meminum air tersebut. Bahkan dari penuturan masyarakat yang sering berkegiatan ke hutan, air dari sumber mata air Luak Pincuran terasa segar dan enak jika dikonsumsi langsung.

Dari uji laboratorium, didapatkan hasil bahwa air dari sumber mata air Luak Pincuran layak untuk dijadikan air minum. Mengacu pada hasil uji laboratorium, KKI Warsi mulai untuk mendiskusikan potensi besar ini dengan Pemerintahan Nagari Indudur terkait pengelolaan potensi air minum oleh Nagari melalui Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) Rumah Sejahtera yang dibentuk sejak akhir tahun 2017.

Depot Air Minum Nagari Indudur

Kelola Air, Kelola Hutan

Sekarang ini, progres pengembangan usaha air minum, menunjukkan capaian yang signifikan. Pada Tahun 2019, Pemerintahan Nagari Indudur telah merancang rencana anggaran untuk membuat sebuah depot air minum dan akan merealisasikannya pada tahun anggaran 2020, melalui alokasi penyertaan modal BUMNag Rumah Sejahtera. Tepatnya Bulan Maret 2020, dimulai pembangunan lokasi depot pada Jorong Kubang dekat Kantor Wali Nagari Indudur.

Unit usaha depot air minum merupakan salah satu dari dua unit usaha yang dikelola oleh BUMNag Rumah Sejahtera Nagari Indudur (satunya lagi minyak kemiri yang didominasi oleh kaum perempuan Nagari Indudur). Pengurus unit usaha tersebut, terdiri dari tiga orang, dua sebagai pengelola depot dan satunya sebagai pengantar air galon ke konsumen.

“Pengelolaan unit usaha depot air minum dilakukan oleh 3 orang saja. Karena target pengembangan pasar masih berskala nagari, maka pengelolaan lebih menekankan pada aspek sosial-ekonomi. Tidak murni berorientasi bisnis. Ke depan nantinya produk air minum ini akan dikembangkan pada tingkat se kecamatan sungai lasi dan dibuat dalam kemasan gelas atau botol” ujar Direktur BUMNag sekaligus pengelola unit usaha Delfi Afrizal.

Mekanisme pembagian hasil untuk memastikan keberlanjutan usaha juga sudah dirancang sesuai kebutuhan masyarakat. “Sistem bagi hasil yang ditetapkan adalah 15% untuk penambahan modal usaha, 40% untuk pemegang saham secara proporsional, 10% untuk Kas Nagari, 10% untuk pelaksana operasional, 10% untuk tanggung jawab sosial lingkungan usaha, 5% untuk dana Pendidikan dan pelatihan pelaksana, 5% untuk penasehat, dan 5% untuk pengawas,” lanjut Delfi Afrizal.

Keberadaan depot air minum dari BUMNag Rumah Sejahtera ini dirasakan sekali oleh masyarakat Nagari Indudur, “masyarakat yang sebelumnya harus menunggu datangnya mobil pick up membawa air galon satu kali dalam tiga hari sekarang sudah bisa langsung memesan air minum tanpa harus menunggu lagi, tentunya ini tidak lepas dari peran KKI Warsi yang membuka mata masyarakat terhadap potensi – potensi yang bisa dimanfaatkan Nagari” ujar Ibrahim MLN Bungsu yang merupakan mantan Kepala Desa Tahun 1982 – 1999.

Selain itu, masyarakat yang dulunya memasak air sebelum dikonsumsi bisa menghemat penggunaan bahan bakar gas dan kayu api dengan keberadaan depot air minum di Nagari Indudur. Akses perputaran uang di dalam Nagari menjadi satu keuntungan pula yang didapatkan Nagari Indudur karena tidak ada lagi arus uang keluar dari Nagari Indudur.

Oleh karena itu, upaya dibalik pengembangan potensi jasa lingkungan potensi air minum di Indudur, merupakan sebuah langkah maju dalam implementasi skema perhutanan sosial. Pemberdayaan masyarakat Nagari dalam dan sekitar hutan tentu penting dilakukan dalam rangka penyadaran kritis terkait sumber daya alam di sekitar yang bisa dimanfaatkan oleh masyarkat karena Nagari yang berada di dalam dan sekitar hutan yang mana diketahui merupakan Nagari yang jauh dari pusat peradaban yang tentunya akses informasi yang minimal dan tidak bersinyal. Dengan penyadaran kritis yang dilakukan selama kegiatan pemberdayaan harapannya bisa menguatkan masyarakat hingga masyarakat Nagari dalam dan sekitar hutan bisa berdiri dikaki mereka sendiri (berdikari).

error: Content is protected !!