Bengkulu Utara, 11 Juni 2025 – Sebuah momen penuh makna dan semangat kolaborasi hari ini tercipta di Desa Batu Raja R, Kabupaten Bengkulu Utara. Untuk pertama kalinya, seluruh pemangku kepentingan—dari tingkat desa hingga pemerintah pusat—berkumpul dalam satu semangat: memperkuat sinergi lintas sektor demi masa depan Kabupaten Bengkulu Utara yang berkelanjutan.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi pertemuan formal, tetapi juga sebuah panggung dialog dan penyatuan visi antara berbagai pihak. Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Bengkulu Utara, seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) kabupaten, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu, serta Kementerian Kehutanan melalui kehadiran Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial (PUPS), Catur Endah Prasetiani. Mitra strategis lainnya turut meramaikan acara, seperti perwakilan bank BUMN, komunitas offroad DAC, organisasi masyarakat sipil, dll.

Dialog hangat dan terbuka juga terjadi bersama masyarakat Desa Batu Raja R, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Ini menjadi panggung nyata bagaimana suara masyarakat didengar dan dihargai. Dari mereka mengalir harapan dan refleksi.

“Kelompok memiliki harapan agar patroli hutan dapat berlangsung lebih intensif dan berkelanjutan. Di KUPS Eco Print ada kebutuhan sarana seperti mesin jahit misalnya agar produksi bisa ditingkatkan. Sedangkan di KUPS Kopi menganggap penting akses permodalan dan keinginan untuk terus belajar dalam mengelola usaha kopi agar tidak cepat merasa cukup.” Disampaikan Syafi’i, ketua KUPS Kopi Sako Lemo Nakai.

Ada kesadaran kolektif yang tumbuh bahwa usaha tidak akan berarti tanpa pengetahuan, dan pengetahuan harus terus dipupuk. Melalui bentuk peningkatan kapasitas seperti pelatihan dan diskusi seperti hari ini.

“Momen ini adalah waktu yang sangat tepat karena kehadiran seluruh OPD dan pimpinan daerah membuka ruang sinergi yang luas. Banyak potensi yang bisa disambungkan, dari pelatihan keterampilan di BLK, dukungan dari Dinas Pariwisata, hingga di tingkat pusat seperti program dana bergulir dari BPDLH. Tugas kita bersama adalah menjembatani dan memfasilitasi komunitas agar bisa terhubung dengan peluang-peluang ini.” Disampaikan oleh Catur Endah Prasetiani, selaku Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan.

Catur Enda juga menggarisbawahi lembaga-lembaga seperti KKI Warsi merupakan mitra penting yang setia melakukan pendampingan dalam memfasilitasi komunikasi antara komunitas dan para pemangku kebijakan. Selain itu Ia juga sangat percaya dengan perhatian Bupati Bengkulu Utara terhadap perlindungan hutan yang begitu kuat seperti yang ditunjukkan hari ini, sinergi ini sangat mungkin untuk kita wujudkan.

“Kami –Pemerintah Daerah Bengkulu Utara–, akan menindaklanjuti seluruh masukan dari masyarakat. Dengan juga memastikan bahwa infrastruktur penunjang seperti jalan desa menuju kebun akan diperbaiki melalui program TMMD serta target pengaspalan di beberapa lokasi dalam tiga tahun ke depan. Jalan bukan hanya urusan ekonomi, tapi jembatan harapan.” Dijelaskan oleh Arie Septia Adinata, Bupati Bengkulu Utara dengan penuh komitmen.

Arie Septia menambahkan bahwasanya tidak semua jalan harus menjadi aspal hitam. Ada nilai ekologis dan menjaga harmoni dengan alam. Jalan tanah pun tetap kita pelihara agar keasrian dan kearifan lokal tidak hilang. Namun harus tetap nyaman dilalui dan mendukung ekowisata. Pemerintah kabupaten, bersama KKI WARSI, juga akan segera menyusun pendekatan Integrated Area Development (IAD) berbasis perhutanan sosial agar semua sektor bisa bersinergi dan keberlanjutan.

“Perjalanan LPHD Lemo Nakai merupakan perjalanan panjang, bukan jalan yang instan dan penuh pelajaran. KKI Warsi bahkan pernah melibatkan kolaborasi dengan pihak swasta seperti Uniqlo, yang turut memperjuangkan penguatan komunitas dan desa. Terdapat tiga hal mendasar yang dilakukan bersama masyarakat Desa Batu Raja R yakni kelola lembaga, kelola usaha, kelola kawasan.” Kata Emmy Primadona selaku Koordinator Program KKI Warsi.

Sebagaimana semangat KKI WARSI yang terus digaungkan yakni “Konservasi bersama masyarakat”. KKI Warsi hanya teman berdiskusi dan saling bertukar pengetahuan. Yang berjuang, yang bangkit, yang bertahan, adalah masyarakat Batu Raja R sendiri. Maka, semua capaian sampai hari ini adalah milik mereka.

“Menyoroti tantangan sinergitas lintas sektor yang kerap terjadi di lapangan. Salah satu contoh misalnya tentang perbedaan nomenklatur kelembagaan antara sektor kehutanan dan sektor lainnya. Di perhutanan sosial, kita mengenal KUPS wisata. Namun di sektor pariwisata, istilah yang digunakan adalah POKDARWIS. Kita harus cerdas dan adaptif—bukan mengganti atau menambah kelompoknya, melainkan menyesuaikan penyebutannya saat berkoordinasi lintas sektor, karena objek yang akan disasar juga sama yakni wisata.” Ujar Safnizar, Kepala Dinas LHK Provinsi Bengkulu.

Sebagai penutup kegiatan, dilakukan aksi simbolik berupa adopsi pohon asuh sebanyak 93 pohon dan penanaman oleh Bupati dan para pihak. Aksi ini bukan sekadar rutinitas seremonial, tetapi penanda awal dari komitmen kolektif: bahwa pemerintah daerah ingin benar-benar hadir, mengenal, dan mendukung masyarakat pengelola hutan. Melalui kegiatan ini, ditanam pula harapan agar kesadaran kolektif semua pihak—pemerintah, swasta, dan masyarakat—terus tumbuh dan berbuah nyata dalam aksi.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, semua pihak sepakat bahwa tidak ada jalan lain untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan selain melalui kolaborasi nyata. Kerjasama antar sektor harus dibangun dalam semangat saling mendukung, bukan tumpang tindih atau berjalan sendiri-sendiri. Melalui itu Perhutanan sosial bukan sekadar skema legalitas, tetapi sebuah jalan yang harus dijaga dan di dukung bersama, agar hutan tetap lestari memberikan fungsi ekologis, bermanfaat secara sosial dan berkeadilan secara sosial. *(M. Roddini)