Di ujung transmigrasi A4, di sela-sela semak belukar dan sisa rerimbunan hutan yang telah dibabat, sekelompok Orang Rimba hari ini membagi hasil buruan: seekor monyet kecil, kurus, yang menjadi santapan mereka. Monyet menjadi pilihan mereka konsumsi setelah peristiwa getir yang baru saja dialami kelompok Ganta, di tanah R Desa Sialang Kecamatan Pamenanag Kabupaten Merangin.

Menantu Ganta, Pelajang alias Firdaus baru saja di kuburkan di pemakaman umum desa Sialang. Pelajang telah menjadi korban keganasan aparat korporasi. Pelajang tewas bersimbah darah setelah mengalami penganiayaan yang diduga dilakukan oleh aparat keamanan perusahaan. Tidak hanya Pelajang, tiga Orang Rimba lainnya, yaitu Rendi, Bepangku dan Ridho juga mengalami luka-luka serius akibat peristiwa yang terjadi di jalan perusahaan milik PT Persada Harapan Kahuripan, Makin Group.

Peristiwa ini bermula ketika  delapan Orang Rimba membrondol di areal perusahaan. Selasa lalu (29/4), Bepangku, Rendi, Pelajang, Ngadang, setelah dua hari berjuang mengumpulkan dua karung berondolah. Rencananya hasil menjual berondol ini akan digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan pangan keluarga. Namun naas, belum sempat keluar, rombongan ini dihadang massa yang ditenggarai juga terdiri dari aparat keamanan perusahaan.

Bepangku sempat mendengar “ini harus hukum masa….” dari kelompok yang menghadang mereka. Tak lama berselang, orang-orang ini langsung memukul dengan membawa alat kayu dan parang. Saat dikepung yang dipukul pertama Bepangku dan Pelajang. Menghadapi situasi ini, Orang Rimba berusaha membela diri, namun pilihan lain tidak di dapatkan, Pelajang dan Bepangku jatuh. “Akeh hopi teringat lagi, taunya sudah di rumah sakit,” ujar pria yang berumur sekitar 30 tahun ini, dengan bibir yang masih mongong dan balutan perban di kakinya.

Sedangkan Rendi dan Ngadang berusaha melarikan diri. Tangan Rendi terkelis karena sempat tertangkap dan dihentakkan seseorang. Namun ia dan Ngadang terus berlari masuk jauh ke dalam kebun dan meminta bantuan kepada kelompok orang rimba lainnya yang saat tu posisinya juga tengah membrondol di kawasan itu. Mereka akhirnya bertemu dengan empat Orang Rimba lainnya dan berjuang untuk bisa keluar. Ketika melewati desa mereka diarahkan untuk memilih jalan lain, karena disebutkan ada massa lain yang mengahadang mereka. Bersusah payah, akhirnya orang rimba ini bisa kembali ke pemukimannya di Tanah R Desa Sialang.

Situasi ini menghebohkan hampir seluruh Orang Rimba, Bepangku yang berasal dari wilayah Mekakal, dekat dengan lokasi kejadian di jalan perusahaan. Para korban, meski berasal dari Desa Sialang, namun mereka memiliki kekerabatan dengan Orang Rimba lainnya di Mekekal, Tebo, Orang Rimba di Pauh Menang dan Orang Rimba di Rejo Sari di Pemenang karena hubungan perkawinan.

Pasca peristiwa getir ini, Orang Rimba tidak bisa menjalankan aktivitas mereka mencari penghidupan, sehingga monyet yang melintaspun menjadi santapan mereka.

“Kami aslinya tidak makan monyet, namun hutan telah habis, membrondolpun tidak bisa, itulah yang kini bisa kami makan,”kata Tumenggung Ganta, pimpinan kelompok Orang Rimba Sialang yang juga mertua Pelajang.

Bagi Ganta dan kelompok Orang Rimba lainnya, membrondol sudah menjadi kebiasaan sejak beberapa waktu belakangan, karena sumber penghidupan yang semakin tipis. “Hutan sudah tidak ada, hewan buruan juga tidak ada, kami tidak punya pilihan lain untuk mencari hidup,”kata Ganta.

Monyet bukanlah makanan utama dalam budaya Orang Rimba. Dalam kehidupan mereka yang dahulu menyatu dengan rimba, mereka mengandalkan hasil hutan yang berlimpah: umbut, buah-buahan hutan, umbi, madu, ikan dari sungai, dan rusa atau babi hutan yang kadang mereka buru dengan tata cara dan pantangan adat. Kini ketika hutan telah berubah menjadi kebun sawit, pilihan mereka semakin sempit.

Orang Rimba di Tanah R

Orang Rimba kini hidup di tanah-tanah sisa nan sempit. Tanah sisa yang dalam masyarakat di kenal dengan Tanah R, tanah restan. Tanah R merupakan tanah sisa diujung kawasan transmigrasi. Sebagian Orang Rimba seperti di Sialang dan Pauh Menang di bangunkan pemukiman oleh kementrian sosial di tanah R ini. Pembangunan kebun kelapa sawit yang masif di wilayah hidup Orang Rimba telah menjadikan mereka kehilangan akses terhadap hutan, tiada lahan usaha, tidak punya kebun, tidak punya ladang. Hidup menggantung pada belas kasih alam yang kian menipis dan kemurahan hati sesekali dari dunia luar yang jarang peduli.

“Kami ingin hidup bisa mencukupi kehidupan kami, kami pengakuan dan keadilan. Kami butuh tempat hidup dan sumber kehidupan, jati diri, dan keberlanjutan budaya,” kata Tumenggung Ngilo, Orang Rimba di Pauh menang yang juga sepupu dari Pelajang yang baru dikubur.

Banyak kelompok Orang Rimba menghadapi krisis kehidupan yang kian mengkhawatirkan. Kehilangan hutan sebagai ruang hidup utama mereka, Orang Rimba kini hidup tanpa sumber makanan yang layak, tanpa hewan buruan, dan tanpa hasil hutan bukan kayu yang dulu menopang kehidupan mereka secara mandiri. Seperti memakan monyet, itu bukan lumrah di kalangan Orang Rimba. Monyet bukanlah pilihan untuk di makan kecuali ketika masuk masa peceklik. Bisa disebutkan monyet berada di pilihan terakhir dalam pemilihan lauk Orang Rimba.

Dalam kondisi terdesak dan kelaparan, sebagian Orang Rimba terpaksa mengambil brondolan dari areal perkebunan sawit  yang kini menggantikan hutan mereka.