Select Page

Wabah corona telah menggemparkan dunia, bumi seolah dipaksa berhenti dan fokus melawan penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini. Nun jauh di pedalaman, Orang Rimba juga sudah mendapat informasi tentang pendemi global ini. Reaksinya, tidak sedikit Orang Rimba yang bergeser tempat tinggal, menjauh ke dalam hutan ataupun menjauh dari desa-desa interaksi mereka.
“Kami ketetakuton,”ujar Tunggni Basemen, di belantara Kedudung Muda Taman Nasional Bukit Duabelas Sarolangun Jambi. Ketakutan Orang Rimba ini disampaikan kepada Robert Aritonang Antropolog KKI Warsi yang memberikan penyuluhan dan sosialisasi tentang penyakit corona kepada Orang Rimba.

Ketakutan Tungganai Basemen ini tidak berlebihan. Sebagian anggota kelompoknya, tinggal di luar hutan, di perumahan sosial yang dibangun pemerintah di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Sarolangun, kembali masuk ke dalam hutan. Hal ini terjadi sejak kepulangan tiga anak rimba yang dari Jogjakarta. Tiga anak ini, bersekolah di sana, hanya saja karena sekolah dirumahkan mereka kembali ke orang tuanya.

Karena adanya wabah, anak-anak yang kembali ini dikarantina mandiri kelompoknya di perumahan sosial selama 14 hari, sedangkan Orang Rimba yang tinggal di perumahan sosial masuk kembali ke dalam rimba.
“Orang Rimba sangat takut wabah, meski sudah bertahun-tahun tidak ketemu anaknya, dan ketika kembali mereka secara sadar melakukan pemisahan dan memilih untuk tidak bertemu dulu dengan anaknya yang baru datang,” kata Robert.

Orang Rimba yang kembali masuk ke dalam hutan tidak tinggal secara berkelompok seperti biasanya. Mereka menyebar di dalam hutan dengan jarak antar sudung,–pondok Orang Rimba sekitar 500 meter-1 km. Pemisahan jarak ini diyakini akan membentengi mereka dari wabah penyakit, yang mereka sebut gelaba godong atau wabah besar.

Ketakutan karena wabah corona juga dirasakan Orang Rimba yang tinggal di Perumahan Air Panas, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun. “Ada beberapa Orang Rimba yang tinggal di perumahan sosial, sementara tidak lagi tinggal di perumahan, mereka membuat sudung masuk ke dalam perkebunan, tidak berkelompok tetapi hanya satu keluarga-satu keluarga,”kata Anggun Fasilitator Orang Rimba KKI Warsi.

Pun demikian dengan Orang Rimba di Terap yang sementara waktu memilih masuk ke dalam rimba. Meninggalkan aktivitas harian mereka. Takut virus korona. Interaksi yang sudah sangat dekat dengan masyarakat desa, menjadikan Orang Rimba juga mendapatkan informasi tentang pandemi ini. Bagi Orang Rimba, cerita wabah sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Dengan pola hidup di dalam perkebunan dan hutan dalam sudung– tenda plastik, mereka sangat rentan dengan berbagai penyakit.

Dari pola hidup inilah lahir kearifan mereka untuk menghentikan wabah. Caranya bersesandingon. Memisahkan orang yang sakit dengan orang yang bungaron– sehat. Betuk, selemo–pilek, muntah bingguk–muntaber, cacar air, campok,–campak, muntah darah, diare dan penyakit menular lainnya, dengan cepat komunitas ini untuk membuat pemisah. Cara alami yang ditempuh Orang Rimba untuk mengkarantina diri dari penularan penyakit.
Orang yang sakit posisinya ketika dipisahkan ini disebut bercenenggo.

Dalam aturan sesandingon dan cemenggo ini, tidak hanya berlaku ketika ada penyakit menular. Ketika ada Orang Rimba yang melakukan perjalanan ke luar rimba dan ingin kembali ke keluarganya di rimba juga kena pasal sesandingon. Waktunya tiga hari. Aturan ini juga berlaku jika ada tamu datang. Orang rimba akan menunjuk tempat yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah terluar mereka untuk tempat bermukim sementara, setelah tiga hari, jika tamu tidak sakit maka diizinkan untuk berkunjung ke kelompok.

Untuk bercenenggo, bisa diputuskan oleh tumenggung atau atas inisiatif sendiri oleh si sakit. Selama sesesandingon biasanya dilakukan bersama keluarga intinya. Anggapannya keluarga inti juga telah terkontaminasi/terpapar oleh penyakit dari si orang sakit. Jika belum terlalu sakit dan masih bisa beraktivitas sudung untuk tempat tinggal akan di bangun oleh keluarga inti ini namun jika sudah tidak mampu maka dibangunkan oleh anggota kelompoknya. Biasanya berjarak sekitar 100 meter dari sudung terluar anggota kelompok lainnya. Jalan yang mereka lalui untuk ke tempat bercenenggo ini haruslah jalan baru, tidak diizinkan melewati jalan yang biasa dilalui anggota kelompok yang bungaron—sehat.
Untuk berkomunikasi dengan keluarga yang sakit ini, Orang Rimba menerapkan sosial distancing yang ketat. Minimal mereka akan berjarak 10 meter. Cara bicaranya dengan bersesalungon, berbicara jarak jauh dengan intonasi suara keras.

Untuk menjaminkan pasokan pangan pada anggota kelompok yang sedang sakit, Orang Rimba sesuai dengan aturan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Pasokan pangan untuk orang yang sedang bercenenggo tanggung jawab tumenggung dan anggota kelompok yang sehat alias bungaron. Cara menyerahkannya pun sesuai dengan aturan kesehatan. Tidak boleh bersentuhan langsung. Makanan diantar ke titik tengah, si pengantar akan bersesalungon, memanggil. Si sakit atau keluarga intinya yang akan mengambil ke titik itu. Tanpa ada pertemuan sama sekali. Bahkan bagi Orang Rimba. Aturan lainnya tidak boleh melintasi lokasi tinggal orang yang sehat, tidak boleh mengambil air di pencibukon– sumber air yang sama dengan dengan yang sehat.

Aturan ini sudah dijalankan dan ditaati Orang Rimba sejak zaman nenek moyang mereka, jauh sebelum UU Karantina Kesehatan dikeluarkan. Relatif tidak ada pelanggaran. Masing-masing pihak yang bersesandingon maupun yang bercenenggo sangat menyadari posisi mereka masing-masing. Aturan adatnya juga sangat jelas, jika ada yang melanggar maka akan diberikan denda adat. Besaran denda ditentukan berdasarkan sidang adat yang dipimpin oleh tumenggung atau rerayo yang telah disepakati.
Dalam kondisi isolasi diri ini Orang Rimba yang sakit beserta keluarganya akan berupaya menyembuhkan diri. Setelah dinyatakan benar-benar sehat oleh perspektif Orang Rimba maka anggota komunitas ini akan berkumpul kembali seperti semula yang dalam bahasa Orang Rimba disebut terbit. Namun bagi yang tidak beruntung atau meninggal dunia maka Orang Rimba satu kelompok ini akan berpindah ke lokasi baru yang oleh Orang Rimba sebut melangun/belangun.

Proses katantina dan isolasi penyakit yang dilakukan Orang Rimba ini, sejalan dengan praktek penghentian penyebaran virus corona yang saat ini menjadi wabah global. Proses self isolasion digaungkan dan menjadi kebijakan ketika wabah ini melanda Wuhan. Namun kenyataannya tiga bulan kemudian, virus ini menyebar lebih ke ke 200 negara di dunia. Corona Virus Disease-19 pada awal kemunculannya belumlah memiliki nama atau penyebutan resmi karena kasus ini merupakan kasus baru dalam sejarah hidup manusia. Masyarakat dunia pada awalnya menyebut dengan sebutan Corona Wuhan, hal ini merujuk pada asal lokasi pertama virus ini menginfeksi orang-orang yaitu di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Namun karena adanya aturan pemilihan nama tidak boleh merujuk pada lokasi geografis, hewan, individu atau sekelompok orang, serta harus mudah diucapkan dan terasosiasi dengan penyakit yang diakibatkan. Maka pada hari Rabu tanggal 12 Februari 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Direktur Jenderal, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus pada konferensi di Jenewa, Swiss resmi mengumumkan nama virus mematikan ini dengan nama Corona Virus Disease-19 yang disingkat Covid-19. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus menerangkan bahwa C-o diambil dari kata corona, v-i dari kata virus, dan D dari kata disease. Jadi Covid bisa diikan penyakit virus corona. Sedangkan angka 19 menandai tahun pertama kali virus teridentifikasi.

Covid-19 adalah adalah virus yang menginfeksi saluran pernapasan, Saat virus tersebut berada di dalam tubuh, mereka akan menyerang sel-sel ACE2 yang melapisi saluran-saluran udara manusia. Ketika infeksi berlanjut, paru-paru tersumbat dengan sel-sel mati dan cairan serta membuat pernapasan menjadi lebih sulit. Dalam kondisi ini, sistem kekebalan tubuh akan melawan dan menyerang virus, sehingga menyebabkan peradangan dan demam. Reaksi tubuh terhadap virus yang berlebihan yang merusak ini disebut badai sitokin, badai sitokin juga dapat mempengaruhi organ-organ lain selain paru-paru, terutama jika orang sudah memiliki penyakit kronis. Ini mungkin menjelaskan mengapa beberapa pasien Covid-19 berakhir dengan komplikasi seperti masalah jantung dan infeksi sekunder. Hal ini jugalah yang mendasari mengapa orang yang sudah lanjut usia yang sistem imun tubuhnya sudah menurun menjadi korban terbanyak pada kasus ini.

Gejala orang yang terpapar virus covid-19 umumnya adalah mengalami pilek, sakit tenggorokan, batuk, demam dan kesulitan bernapas. Namun pada orang yang memiliki daya tahan tubuh yang bagus gejala yang disebutkan bisa jadi tidak muncul namun orang tersebut telah terpapar covid-19 setelah melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan. beberapa contoh kasus orang yang terpapar covid-19 tanpa menunjukkan gejala adalah Paulo Dybala (pemain sepak bola asal argentina), Donovan Mitchell (Pebasket NBA), Detri Warmato (Artis Indonesia), Idris Elba (aktor Hollywood).

Cepatnya penyebaran covid-19 ini baik dari segi lokasi dan orang yang terpapar/terifeksi menjadikan kasus ini menjadi pandemi tidak lagi epidemi. Seluruh negara di dunia kewalahan mengatasinya karena tinggi dan cepatnya persebaran dari virus ini, selain itu antivirus atau obat untuk covid-19 juga sebelumnya belum tersedia karena covid-19 termasuk jenis baru dari jenis virus corona. Untuk diketahui, Covid-19 (SARS-CoV-2) merupakan jenis ketujuh bersama dengan enam jenis virus corona lainnya yang menginfeksi manusia. Empat diantaranya yaitu OC43, HKU1, NL63, dan 229E, yang telah menyebabkan sepertiga dari pilek biasa. Dua lainnya, yaitu MERS dan SARS.

Oleh karena cepatnya persebaran covid-19 dan belum ditemukannya anti-virusnya maka anjuran yang dapat dilakukan untuk memutus rantai persebaran covid-19 antara lain:

  1. Mencuci tangan
    Mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik dan membilasnya menggunakan air mengalir, jika jauh dari air dan sabun maka disarankan untuk menggunakan hand sanitizer.
  2. Social Distancing
    Social distancing yaitu satu tindakan untuk menjaga jarak (minimal 1 meter) dari orang lain dan menjauhi segala bentuk perkumpulan, menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang. melakukan isolasi pada orang sakit, sementara karantina ditujukan kepada orang yang sehat. Social distancing bertujuan untuk mengurangi penularan virus dari orang ke orang.
  3. Work From Home (WFH)
    Work From Home adalah bekerja dari rumah, artinya kita tidak perlu pergi bekerja untuk mengurangi risiko tertular virus Corona. Kita bisa menyelesaikan pekerjaan dari rumah dan bisa dilakukan secara online jika memungkinkan. Keluar dari rumah jika hanya kebutuhan yang sangat penting.
    Orang Rimba yang tinggal di hutan, perkebunan dan desa-desa terdekat, tentu juga mempunyai peluang untuk terpapar. Dengan sebaran di lima kabupaten yaitu Sarolangun, Batanghari, Merangin, Tebo dan Bungo. Dengan jumlah populasi 5.235 berdasarkan survei KKI Warsi 2018. Dengan nilai dan tatanan sosial, yang mereka miliki kelompok Orang Rimba juga berusaha untuk terlibat aktif dalam pencegahan penularan penyakit ini. (Prabu Tamba/Sukmareni).
error: Content is protected !!