Aktivitas pertambangan batubara di sekitar wilayah kehidupan Masyarakat Adat Orang Rimba di Kabupaten Batanghari telah membawa perubahan besar terhadap lingkungan, kehidupan sosial, budaya, kesehatan, hingga sumber penghidupan masyarakat yang selama turun-temurun bergantung pada hutan.
Hal tersebut terungkap dalam kegiatan Diseminasi Hasil Riset dan Focus Group Discussion (FGD) hasil penelitian kolaborasi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jambi (UNJA) yang mengangkat tema “Dampak Pertambangan Batubara terhadap Masyarakat Adat Orang Rimba dan Masyarakat Desa di Kabupaten Batanghari”.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Drs. Hakim Lubis LPPM Universitas Jambi, Rabu (24/06/2026), memaparkan hasil penelitian yang menggunakan pendekatan studi kasus untuk melihat secara mendalam perubahan kehidupan masyarakat akibat aktivitas pertambangan batubara.
Pemaparan hasil riset disampaikan oleh Michael Lega, Koordinator Program Studi Pemerintahan Universitas Jambi yang juga menjadi peneliti dalam kajian tersebut. Ia menjelaskan bahwa keberadaan pertambangan batubara telah membawa perubahan signifikan terhadap bentang alam dan kehidupan sosial Orang Rimba.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tutupan hutan akibat aktivitas tambang telah memengaruhi kondisi lingkungan sekitar. Suhu meningkat karena berkurangnya vegetasi, sementara debu batubara dari aktivitas tambang dan angkutan turut memengaruhi kualitas lingkungan tempat masyarakat tinggal,” jelasnya.
Penelitian ini juga menemukan adanya penurunan kualitas air yang menjadi salah satu dampak paling dirasakan masyarakat. Sumber air yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari berubah menjadi keruh dan berwarna gelap sehingga tidak lagi layak digunakan. “Kerusakan habitat juga menjadi persoalan serius. Hilangnya kawasan hutan menyebabkan berkurangnya flora dan fauna yang selama ini menjadi bagian penting dari sumber pangan dan kehidupan Orang Rimba. Sementara itu, tanah bekas tambang menjadi lebih keras dan sulit dimanfaatkan kembali untuk aktivitas pertanian,” katanya.
Perubahan tersebut kemudian berdampak langsung terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat. Wilayah yang sebelumnya menjadi ruang hidup Orang Rimba perlahan berubah menjadi kawasan pertambangan sehingga sebagian masyarakat harus berpindah tempat tinggal.
“Perpindahan tersebut terjadi karena berbagai faktor, mulai dari penggusuran, kondisi lingkungan yang semakin panas dan berdebu, hingga menurunnya ketersediaan sumber penghidupan seperti hasil hutan, pangan, dan hewan buruan,” ujar Michael Lega.
Micheal memaparkan perubahan ruang hidup juga memengaruhi hubungan sosial masyarakat. Komunitas yang sebelumnya hidup dalam kelompok besar kini semakin tersebar dalam kelompok-kelompok kecil yang berjauhan. Kondisi ini membuat pola interaksi berubah dan masyarakat harus mencari cara baru untuk bertahan hidup.
Selain itu, riset menemukan adanya perubahan dalam praktik budaya Orang Rimba. Sejumlah tradisi mulai semakin jarang dilakukan karena keterbatasan ruang hidup. Praktik adat seperti pernikahan di balai, ritual melangun, pengantaran jenazah, serta tradisi lisan berupa cerita dan dongeng semakin berkurang.
“Dampaknya pewarisan pengetahuan tradisional seperti aturan adat, pusaka, obat-obatan tradisional, dan pengetahuan tentang hutan juga menghadapi tantangan karena ruang untuk mempraktikkan dan mewariskannya semakin terbatas,” katanya.
Dari sisi kesehatan, masyarakat juga mengalami berbagai keluhan fisik akibat perubahan lingkungan. Warga melaporkan gangguan seperti sesak napas, batuk, diare, gatal-gatal, sakit kepala, sakit perut, mual, hingga beberapa kasus gangguan kesehatan yang lebih berat.
Tidak hanya fisik, masyarakat juga mengalami tekanan psikologis akibat kehilangan ruang hidup, kebun, dan sumber ekonomi utama mereka. Akses menuju layanan kesehatan pun terkadang terganggu karena kemacetan akibat aktivitas truk pengangkut batubara.
Manajer Program KKI Warsi, Robert Aritonang, mengatakan bahwa riset ini penting untuk melihat bagaimana pengelolaan sumber daya alam dapat berjalan dengan lebih adil dan bertanggung jawab.
“Kita melihat bahwa riset batu bara ini merupakan hal yang sangat penting. Sumber daya alam seharusnya dikelola dengan cara yang bertanggung jawab dan memberikan keadilan, termasuk pada masyarakat adat yang bergantung pada sumber daya alam,” ujar Robert.
Menurutnya, masyarakat di sekitar hutan telah mengalami berbagai bentuk eksploitasi sumber daya alam dalam waktu panjang. “Kita sama-sama tahu bahwa masyarakat di sekitar hutan sudah mengalami eksploitasi jauh sebelumnya. Setelah kayunya dihabisi, kemudian kawasan ditanami akasia, ditanami sawit. Dan sekarang tanahnya juga digali untuk mengambil batubara,” katanya.
Robert menyebutkan, dampak pertambangan batubara di Jambi sudah terlihat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, mulai dari kemacetan akibat kendaraan angkutan, debu, danau bekas tambang yang ditinggalkan, hingga persoalan akses kesehatan.
“Orang Rimba dan masyarakat desa harus mendapatkan keadilan. Sering kali ketika masyarakat sudah mendapatkan CSR, perusahaan menganggap tanggung jawab sudah selesai. Tetapi yang dibutuhkan adalah keadilan struktural, bagaimana kehidupan masyarakat adat ke depan,” ujarnya.