Mali, gadis kecil putri Jumbai, Orang Rimba kelompok Meriau senang bukan kepalang. Hari ini perdana dalam hidupnya dan dalam sejarah kelompoknya, akan masuk ke sekolah formal. Bersama Matam dan Nyuma anak Meriau mereka bersiap untuk berangkat sekolah ke SD 175 Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Sarolangun Jambi.

Sejak seminggu lalu, anak-anak yang akan sekolah sudah bersiap, mereka sudah diajak Fasilitator Warsi untuk berbelanja kebutuhan sekolah, pakaian, buku-buku termasuk alat kebersihan badan. Anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk menerima pendidikan namun juga kesiapan mental mereka yang akan bergabung dengan anak lainnya yang bukan dari komunitas mereka. Namun karena ada pandemi dan sekolah belum dimulai, keinginan anak-anak untuk sekolah formal ini, belum segara terwujud, Pakaian dan peralatan sekolah yang sudah dibeli masih disimpan baik-baik di genah (tempat tinggal) mereka.

Tadi pagi, Senin (20/7) Yohana Fasilitator Pendidikan Warsi datang ke sekolah untuk menanyakan perihal jadwal sekolah. Selama beberapa hari ini, Yohana sibuk membantu untuk penyaluran Bantuan Sosial Tunai kepada Orang Rimba dari Kementrian Sosial, sehingga belum melanjutkan diskusi untuk pengenalan sekolah pada anak-anak rimba.  Rupanya  pengenalan sekolah untuk murid kelas 1, sudah di mulai hari ini. Yohana lantas bertanya bagaimana dengan anak rimba yang akan masuk sekolah. Bu guru menyebutkan anak rimba bisa ke sekolah jam 10 pagi.  Yohana melirik jam tanyanya, masih jam. “Oke siap bu,”

Bergegas Yohana memacu motornya menuju pemukiman kelompok Mariau yang berada di perkebunan sawit Transmigrasi RT 2 Desa Bukit Suban. Sesampai di lokasi anak-anak rimba yang akan sekolah tidak ada di pondok mereka. “Lagi pergi ikut induknya berburu tikus.”

Yohana kembali memacu motornya dalam kebun sawit mencari anak-anak yang akan sekolah. Dari empat yang sudah mendaftar sekolah, Yohana menemukan tiga anak. Segera anak-abak itu dinaikkan ke motornya, kembali mereka ke genah. Ambil perlengkapan mandi dan membawa anak-anak itu mandi di genangan air yang berada di tengah perkebunan sawit itu. Mau ke sungai sudah terlalu jauh. Kelompok ini belum memiliki sarana mck yang memadai karena mereka merupakan kelompok semi nomadik. Cepat Yohana menginstruksikan anak-anak untuk segera berkemas barang mandi karena akan kembali digunakan besok pagi.

Selesai mandi, anak-anak ini segara diantar ke sekolah, tepat jam 10 mereka sudah berada dalam kelas. Disambut Bu Muana. Bu guru menyapa mereka dengan ramah dan mempersilakan anak-anak itu duduk. Sekolah berlangsung dua jam, dan hanya ada 10 anak di tiap kelasnya. Sekolah memberlakukan kebijakan pembatasan jam pengenalan sekolah yang hanya satu  jam sehari dan kelas di bagi ke dalam tiga sesi  dengan kapasitas kelas hanya 10 anak.

Sempat kebingungan, anak-anak rimba ini mencoba mendengar penjelasan yang disampaikan guru mereka. Bu guru juga berinteraksi langsung dengan mencoba kemampuan anak-anak ini. Bu guru  kagum dengan ketiga anak rimba itu.  “Kalau ibu tanya jangan malu ya anak-anak  karena teman-teman kalian ada yang belum bisa ABC. Kalian sudah lancar ABC.  Matam  tulisannya bagus, Nyuma lancar mengeja, Mali bisa ABC,”kata Bu Muana.

Yang jelas anak-anak ini senang sekali bisa sekolah, meski mereka masih belum terbiasa dengan lingkungan sekolah, dengan seragam dan juga dengan teman-temannya sesama murid kelas satu yang berasal dari desa itu. Plus dengan bahasa pengantar sekolah berbahasa Indonesia. Anak-anak ini masih menggunakan bahasa rimba dicampur bahasa Melayu untuk berkomunikasi. Bu gurunya juga mencoba memahami apa yang disampaikan anak-anak rimba ini.

Duduk di dalam kelas, yang hanya dua jam itu, ternyata juga jadi ujian berat bagi anak-anak rimba yang belum terbiasa dengan sekolah formal. Mali bahkan sempat ’ bersilaturahmi’ (baca berjalan)  ke meja temannya kala sekolah masih berlangsung. Namun satu yang pasti harapan untuk bisa sekolah memancar dari raut wajah mereka.

Di tempat lain, kantor lapangan  KKI Warsi Maknun, Fasilitator Pendidikan Warsi lainnya, juga mengalami keriuhan yang luar biasa pagi ini. Terdapat empat anak rimba kelompok Tumenggung Ngrip yang juga akan bersekolah di SD Air Panas Kecamatan Air Hitam.  Sejak pagi Maknun sudah mengingatkan anak-anak muridnya untuk sekolah, menyiapkan sarapan, pakaian dan kebutuhan sekolahnya. Nun mengantar anak-anak ini ke sekolah menggunakan motor becaknya yang mampu membawa empat anak muridnya,  Melandai, Menalang, Kresik dan  Nepi.

Sekolah formal bagi anak-anak rimba masih merupakan baru. Memang sudah ada beberapa yang masuk sekolah, namun belum menjangkau semua anak. Ada banyak kendala yang mereka alami, baik berupa akses, ketidaksamaan budaya dan masalah lainnya, termasuk kala mereka harus melangun,  meninggalkan pemukiman akibat ada kematian anggota rombongnya.

Selama ini, Warsi menjembatani anak-anak rimba yang akan sekolah, sembari juga memberikan pendidikan awal untuk kesiapan anak-anak bergabung sekolah formal. Baik kemampuan akademiknya mengenal huruf dan angka, juga kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya, termasuk mengajari anak-anak rimba untuk hidup bersih dan sehat.

“Kebiasaan mereka juga harus diadaptasikan, membersihkan diri sebelum sekolah, dan menjaga barang-barang sekolah mereka,”kata Yohana.

Pelajaran ini menjadi penting mengingat mereka bersekolah bergabung dengan anak lainnya yang bukan komunitas mereka. “Penerimaan kedua belah pihak menjadi tujuan utama kita sehingga anak-anak bisa belajar dengan baik,”kata Yohana. Yohana dan Maknun, selama ini bertugas untuk mengajari pendidikan dasar baca tulis dan berhitung dasar sebagai modal mereka untuk masuk sekolah formal.

error: Content is protected !!