Warsi Grant Management Perkuat Kapasitas Civil Society Organization dan Community based Organization dalam Menjalankan Program

Warsi Grant Management Perkuat Kapasitas Civil Society Organization dan Community based Organization dalam Menjalankan Program

Warsi Grant Management (WGM) kembali memperkuat kapasitas organisasi masyarakat sipildan kelompok berbasis masyarakat yang menjadi penerima hibah tahun 2026. Penguatandilakukan tidak hanya melalui dukungan terhadap pelaksanaan program, tetapi juga melaluiproses pendampingan agar penerima hibah memiliki rencana kegiatan, pengelolaan, sertamekanisme kerja yang lebih siap sebelum program berjalan.

Rangkaian ini merupakan bagian dari Project Strength Regional Intermediary Civil Society (SRICS) 2026 dengan fokus “Peningkatan livelihood pada Lokasi yang telah MendapatkanLegalitas Perhutanan Sosial.” Penerima hibah terdiri dari Civil Society Organization (CSO) dan Community Based Organization (CBO) yang sebelumnya telah melalui proses seleksiproposal.

Dalam proses seleksi, proposal dinilai berdasarkan substansi ide dan gagasan, analisis masalah, tujuan, output, kegiatan, indikator, hasil, hingga rasionalisasi anggaran. Setelah terpilih, penerima hibah masih mengikuti proses peningkatan kapasitas sebelum masuk ke tahapimplementasi.

CSO: Mematangkan Rencana Sebelum Implementasi. Bagi penerima hibah CSO, salah saturangkaian penguatan dilakukan melalui Coaching Clinic Penguatan Substansi Proposal dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada 24-26 September 2026 di Jambi.

Empat CSO yang mengikuti rangkaian penguatanini adalah:
• Yayasan Akar Global Inisiatif
• Perkumpulan Rawang Bumi Nusantara
• Paralayang Jukoh Batu Kambing
▪ Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan   Masyarakat (LP2M)

Kegiatan ini menjadi ruang untuk kembalimembahas proposal yang telah disusun. Tim WGM bersama masing-masing CSO mendiskusikanbagian-bagian yang masih perlu diperjelas, termasuk hubungan antara tujuan, kegiatan, output, indikator, hingga anggaran. Proses tersebut dilakukan agar rencana yang akan dijalankanmemiliki target yang logis dan dapat dicapai.

Seperti disampaikan dalam pembukaan kegiatan, proses coaching dilakukan sebagai pemantapansebelum implementasi. Jika terdapat hal yang masih perlu diklarifikasi atau didiskusikan, pembahasannya dilakukan bersama agar output dan hasil yang direncanakan tetap rasional dan dapat dicapai.

Dari proses tersebut, penerima hibah CSO diarahkan menghasilkan tiga dokumen utama, yaituLogical Framework Approach (LFA) final, timeline final, dan budgeting final. LFA final nantinyamenjadi bagian dari dokumen yang dilampirkan dalam kontrak kerja sama. Pendampingan juga dilakukan secara lebih spesifik melalui coach untuk masing-masing lembaga. Dengan polatersebut, pembahasan tidak hanya berlangsung secara umum, tetapi dapat menyesuaikan denganrencana dan kebutuhan masing-masing penerima hibah.

Penguatan Tata Kelola dalam Proses Coaching

Selain penyempurnaan proposal, rangkaian kegiatan juga menjadi ruang untuk membahas tata kelola program. Salah satunya melalui materi mengenai standar pengelolaan hibah yang mencakup pencegahan fraud dan korupsi, perlindungan dari eksploitasi, kekerasan dan pelecehanseksual, perlindungan hak anak, pencegahan perbudakan modern dan perdagangan manusia, mekanisme whistleblower, serta penanganan pengaduan dan pelanggaran.

Materi keuangan juga diberikan sebagai bagian dari pembekalan, termasuk pengenalan SOP keuangan yang akan menjadi acuan dalam pelaksanaan program. 

Dalam penjelasannya, Wakil Direktur KKI Warsi, Rainal Daus, menyampaikan bahwa fungsi SOP keuangan bukan semata mengatur administrasi, tetapiuntuk memperkuat akuntabilitas organisasi. Ketika akuntabilitas terbangun, kepercayaan terhadaporganisasi juga meningkat. Kepercayaan tersebutkemudian menjadi modal penting bagi organisasidalam menjalankan dan mengembangkan kerja-kerjanya.

Penguatan tata kelola ini juga berangkat daripengalaman WGM dalam beberapa putaransebelumnya. Masih ada organisasi atau kelompok yang belum terbiasa dengan administrasiformal, sehingga proses hibah menjadi salah satu ruang untuk membangun aturan dan mekanisme pengelolaan yang lebih tertata. Bagi WGM, penguatan tersebut pada akhirnya bukanhanya berkaitan dengan pertanggungjawaban kepada pemberi dukungan, tetapi juga kepadakonstituen dan masyarakat yang menjadi bagian dari kerja organisasi.

CBO: Penguatan Kelompok Berbasis Masyarakat

Selain CSO, WGM juga melibatkan Community Based Organization (CBO) sebagai penerimahibah. Dalam rangkaian penguatan kapasitas, CBO mendapatkan pembekalan yang disesuaikandengan kebutuhan kelompok sebelum menjalankan programnya.

Lima CBO yang mengikuti rangkaian penguatantersebut adalah:

• KUPS Wisata Koto Tuo
• Pokdarwis Imbo Putui
• LPHA Datuk Rangkayo Mulio
• LPHD Sapat
• KUPS Kopi Sako Lemo Nakai

Pembekalan CBO mencakup beberapa materi dan tahapan. Peserta mendapatkan pembekalan safeguarding, dilanjutkan dengan presentasi program yang akan dijalankan oleh masing-masing CBO. Melalui sesi tersebut, masing-masing kelompokmemaparkan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam program.

Pembekalan kemudian dilanjutkan dengan materi mengenai administrasi, pelaksanaan kegiatan, dan mekanisme pelaporan kegiatan. CBO juga mendapatkan pembekalan mengenai SOP penggunaan dana dan pelaporan keuangan, sebagai bagian dari persiapan agar pelaksanaanprogram dan pertanggungjawabannya dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang telahdisampaikan.

Rangkaian pembekalan tersebut kemudian diakhiri dengan penandatanganan Perjanjian KerjaSama (PKS) grant untuk CBO. Dengan demikian, sebelum program berjalan, CBO tidak hanyamendapatkan pemahaman mengenai rencana kegiatan, tetapi juga pembekalan mengenaisafeguarding, administrasi, pelaksanaan, serta mekanisme pelaporan dan penggunaan dana.

Pembekalan Menuju Pelaksanaan

Setelah proses penguatan kapasitas, tahapan berikutnya adalah pelaksanaan program oleh masing-masing penerima hibah. Untuk CSO, rencana pelaksanaan telah dituangkan melalui LFA, timeline, dan budgeting yang disempurnakan dalam proses coaching.

Selama pelaksanaan, WGM juga akan melakukan monitoring dan diskusi bersama penerimahibah. Monitoring dilakukan pada tingkat aktivitas hingga output. Jika terdapat kendala dalampelaksanaan kegiatan maupun penganggaran, persoalan tersebut dapat dibahas bersama timWGM. Pada akhir proyek, WGM juga akan melakukan MEL dengan mengunjungi lokasidampingan CSO.

Bagi WGM, proses monitoring juga menjadi ruang untuk melihat data dan informasi yang muncul dari pelaksanaan program. Informasi tersebut dapat menjadi pembelajaran maupunbahan untuk membangun jejaring dan advokasi bersama.

Pada akhirnya, WGM tidak hanya menempatkan hibah sebagai dukungan pendanaan, tetapisebagai bagian dari proses penguatan organisasi dan kelompok masyarakat. Tiga mandat WGM; regranting atau dukungan pendanaan, peningkatan kapasitas, dan penguatan jejaring, berjalandalam satu rangkaian untuk mempertemukan organisasi masyarakat sipil dan kelompokmasyarakat, memperkuat kapasitas mereka, serta membuka peluang bagi mereka untukmembangun jejaring dan mengakses sumber pendanaan yang lebih luas. Dengan proses tersebut, hibah menjadi salah satu bagian dari upaya WGM untuk mendorong CSO dan CBO berkembanglebih kuat dalam menjalankan kerja-kerjanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
35 Tahun WARSI: Belajar dari Hutan, Menumbuhkan Masa Depan

35 Tahun WARSI: Belajar dari Hutan, Menumbuhkan Masa Depan

BFM Diluncurkan di Lima Puluh Kota, Dorong KUPS Siap Investasi dan Perkuat Ekonomi Hijau Perhutanan Sosial

BFM Diluncurkan di Lima Puluh Kota, Dorong KUPS Siap Investasi dan Perkuat Ekonomi Hijau Perhutanan Sosial

Pokja PPS Kabupaten Pasaman Perkuat Sinergi Percepatan Perhutanan Sosial Berkelanjutan

Pokja PPS Kabupaten Pasaman Perkuat Sinergi Percepatan Perhutanan Sosial Berkelanjutan

Bengkulu Utara Perkuat Perhutanan Sosial melalui IAD-ASA dan Skema Pembiayaan Berkelanjutan

Bengkulu Utara Perkuat Perhutanan Sosial melalui IAD-ASA dan Skema Pembiayaan Berkelanjutan

Festival Hutan Adat Jambi untuk Nusantara Lestari

Festival Hutan Adat Jambi untuk Nusantara Lestari

Menjaga Harimau Sumatra: Pelatihan Penggunaan Camera Trap dalam rangka Penyusunan Strategi Monitoring Satwa Liar di Lanskap Berbak-Sembilang

Menjaga Harimau Sumatra: Pelatihan Penggunaan Camera Trap dalam rangka Penyusunan Strategi Monitoring Satwa Liar di Lanskap Berbak-Sembilang